POJOKSATU.ID - Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menyoroti kondisi lingkungan di kawasan Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, yang belakangan menjadi perhatian publik akibat bencana longsor.
Kawasan kaki Gunung Burangrang tersebut kini dinilai mengalami perubahan signifikan akibat maraknya pertanian intensif.
Hanif mengungkapkan, lahan-lahan di kawasan pegunungan itu saat ini banyak ditanami sayuran subtropis yang sejatinya bukan tanaman khas dataran tinggi tropis Indonesia.
Baca Juga: Aturan Baru Kemendikdasmen Bikin Guru Kelas Terpojok oleh Serdik Bahasa Inggris
Beberapa komoditas yang mendominasi antara lain kentang, kol, dan paprika.
“Sebagian besar jenis tanaman yang ditanam hari ini adalah tanaman subtropis, yang asalnya dari wilayah seperti Amerika Selatan,” ujar Hanif, dikutip pojoksatu.id dari liputan 6 (27/1/2026).
Menurutnya, fenomena tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba.
Baca Juga: TPP ASN Pemprov Riau Terancam Hilang Tahun Depan, APBD Tak Capai Rp10 Triliun
Masifnya pertanian sayuran subtropis di kawasan Pasirlangu dipicu oleh proses urbanisasi yang terus meningkat, disertai perubahan pola konsumsi masyarakat.
Permintaan pasar yang tinggi terhadap sayuran tertentu mendorong perluasan lahan pertanian hingga ke wilayah pegunungan.
“Ini merupakan dampak dari urbanisasi yang cukup masif. Urbanisasi membawa perubahan pola makan, dan akhirnya permintaan pasar ikut mendorong pertanian naik ke kawasan gunung,” jelas Hanif.
Baca Juga: Noel Buka Isu Panas, KPK Langsung Balas: Ungkap di Pengadilan, Jangan di Luar!
Ia menilai, tekanan ekonomi dan kebutuhan pasar sering kali membuat kawasan yang seharusnya dijaga fungsi ekologisnya justru dialihfungsikan menjadi lahan pertanian intensif.
Kondisi ini berpotensi memengaruhi kestabilan lingkungan, terutama di wilayah rawan bencana seperti lereng gunung.
Meski demikian, Hanif menegaskan pihaknya tidak ingin menarik kesimpulan secara terburu-buru terkait hubungan langsung antara pertanian intensif dan terjadinya longsor di kawasan tersebut.
Ia menekankan bahwa persoalan lingkungan harus dikaji secara ilmiah dan berbasis data.
“Kalau bicara lingkungan, ini harus menggunakan pendekatan saintifik. Tidak bisa main kira-kira atau asumsi semata,” tegasnya.
Untuk itu, Kementerian Lingkungan Hidup memastikan akan menurunkan tim ahli guna melakukan kajian mendalam.
Kajian tersebut akan melibatkan para akademisi dan pakar dari berbagai disiplin ilmu untuk meneliti aspek tata ruang, kondisi tanah, serta perubahan bentang alam di kawasan Cisarua.
Langkah ini diharapkan dapat memberikan gambaran utuh mengenai faktor-faktor yang memicu longsor, sekaligus menjadi dasar bagi perumusan kebijakan pengelolaan lingkungan ke depan.
Baca Juga: Skakmat! Pejabat DPRD Murka dan Tutup Dapur MBG Trimulyo Usai Dua Siswa Diduga Didiskriminasi
Hanif menekankan pentingnya keseimbangan antara aktivitas ekonomi masyarakat dan perlindungan ekosistem pegunungan.
Ia juga mengingatkan bahwa kawasan kaki gunung memiliki fungsi vital sebagai daerah resapan air dan penyangga lingkungan.
Jika dikelola tanpa perencanaan matang, kerusakan lingkungan berpotensi menimbulkan bencana yang merugikan banyak pihak.
Baca Juga: Gaji PPPK Paruh Waktu Jombang Telat Cair, BPKAD Sebut Hanya Kendala Awal Tahun Anggaran
Kasus Cisarua ini diharapkan menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap praktik pertanian di kawasan rawan bencana, agar pembangunan tetap berjalan tanpa mengorbankan keselamatan dan kelestarian lingkungan.***




