POJOKSATU.ID - Kabar duka datang dari wilayah Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali mengonfirmasi sebanyak 23 anggota Korps Marinir menjadi korban bencana tanah longsor yang terjadi di kawasan tersebut.

Hingga saat ini, empat personel TNI AL dilaporkan telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Baca Juga: Rusak Lingkungan, 28 Perusahaan Digetok Rp4,8 Triliun, DPR Minta Dikembalikan ke Rakyat

Pernyataan itu disampaikan Laksamana Muhammad Ali usai menghadiri rapat kerja bersama Komisi I DPR RI di Jakarta, Senin (26/1).

Ia menyebutkan, proses pencarian terhadap korban lainnya masih terus dilakukan oleh tim SAR gabungan yang terdiri dari unsur TNI, Polri, Basarnas, serta relawan.

“Total ada 23 anggota Marinir yang terdampak. Empat orang sudah ditemukan dalam keadaan meninggal dunia,” ujar Ali, dikutip pojoksatu.id dari kumparan.com.

Baca Juga: Waspada Bahaya Ghibah Saat Puasa, Pahala Bisa Hilang Meski Puasa Tetap Sah

KSAL menjelaskan, operasi pencarian dan evakuasi menghadapi sejumlah kendala serius di lapangan.

Kondisi medan yang ekstrem, ditambah akses jalan menuju lokasi longsor yang rusak parah, membuat alat berat belum bisa dikerahkan secara maksimal.

“Akses menuju lokasi masih terputus. Alat berat belum bisa masuk karena jalannya rusak dan kontur tanah sangat labil,” ungkapnya.

Baca Juga: Baru Aja 'Seret' Purbaya, Kini Noel Sebut Ada Partai Inisial 'K' Ikut-ikutan Pemerasan K3!

Meski demikian, upaya pencarian tidak dihentikan. Tim SAR gabungan terus bekerja dengan memanfaatkan berbagai teknologi untuk mempercepat proses evakuasi.

Sejumlah peralatan canggih seperti drone pemantau udara, alat pendeteksi panas tubuh (thermal), hingga anjing pelacak dikerahkan untuk membantu menemukan korban yang masih tertimbun material longsoran.

Menurut Ali, penggunaan teknologi menjadi solusi sementara di tengah keterbatasan alat berat.

Pemantauan dari udara dilakukan untuk memetakan area terdampak sekaligus menentukan titik-titik yang diduga terdapat korban.

“Drone dan alat thermal sangat membantu untuk mendeteksi keberadaan korban, terutama di area yang sulit dijangkau,” jelasnya.

Baca Juga: Plot Twist Politik Adies Kadir Sempat Disanksi Golkar, Sekarang Disetujui DPR Jadi Hakim MK

Bencana longsor di Cisarua ini terjadi di wilayah dengan kontur perbukitan dan curah hujan tinggi.

Kondisi tersebut membuat tanah menjadi labil dan rawan longsor, terutama di kawasan dengan aktivitas manusia yang cukup padat.

KSAL menyampaikan belasungkawa mendalam atas gugurnya para prajurit Marinir dalam peristiwa tersebut.

Ia menegaskan bahwa keselamatan personel dan percepatan evakuasi menjadi prioritas utama dalam operasi pencarian.

Baca Juga: Satlantas Polres Karawang Pastikan Proses Hukum Laka Sampalan Sesuai Aturan

“Kami fokus pada pencarian dan evakuasi. Doa kami bersama keluarga para prajurit,” ujarnya.

Hingga berita ini diturunkan, tim SAR gabungan masih berjibaku di lokasi kejadian.

Pemerintah dan aparat terkait terus berupaya membuka akses jalan agar alat berat bisa segera diterjunkan untuk mempercepat proses evakuasi dan memastikan seluruh korban dapat ditemukan.***