POJOKSATU.ID - Rencana pembangunan gerai Koperasi Desa Merah Putih di Desa Tambaharjo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menuai penolakan keras dari warga.
Pasalnya, lokasi yang dipilih untuk pendirian bangunan tersebut berada tepat di atas lapangan sepak bola desa yang selama ini menjadi satu-satunya ruang olahraga dan aktivitas pemuda setempat.
Penolakan warga mencuat karena lapangan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana olahraga, tetapi juga menjadi pusat kegiatan sosial masyarakat.
Baca Juga: Kabar Gembira Pendaftaran PPPK Kemenag 2026 Segera Dibuka, Ini Syarat dan Jadwal Lengkapnya
Mulai dari latihan sepak bola, turnamen antarwarga, hingga tempat berkumpulnya anak-anak muda desa, seluruhnya terpusat di lapangan itu.
Warga menilai kebijakan alih fungsi lapangan sepak bola menjadi bangunan permanen tidak masuk akal dan terkesan mengabaikan kepentingan masyarakat.
Mereka menyayangkan keputusan yang dinilai diambil tanpa melibatkan aspirasi warga secara terbuka.
Baca Juga: Heboh Mahfud MD Bongkar Isu 'Koalisi Permanen', Partai-Partai Disebut Ingin Bagi-Bagi Kursi!
“Kami sangat kecewa. Lapangan ini satu-satunya tempat olahraga di desa. Kalau dibangun, anak-anak dan pemuda mau ke mana?” ungkap salah satu warga Tambaharjo, dikutip pojoksatu.id dari instagram @undercover.id (6/1/2026).
Kekecewaan warga semakin memuncak karena mereka merasa tidak pernah diajak berdiskusi terkait rencana pembangunan gerai koperasi tersebut.
Menurut warga, hingga kini belum ada penjelasan yang transparan mengenai perencanaan proyek, dasar hukum, maupun izin yang dimiliki.
Baca Juga: Rekan PNS Wajib Tahu, Ini 5 Hak Jaminan Sosial dari TASPEN yang Wajib Anda Miliki
Selain mempertanyakan izin pembangunan, warga juga menyoroti alasan pemilihan lokasi yang dianggap tidak tepat.
Mereka menilai masih banyak lahan lain yang bisa dimanfaatkan tanpa harus mengorbankan fasilitas umum yang sudah ada dan aktif digunakan masyarakat.
“Kalau tujuannya untuk ekonomi desa, kami tidak menolak. Tapi kenapa harus lapangan bola? Ini jelas mengorbankan kepentingan warga,” ujar warga lainnya.
Baca Juga: Bandana Terapi Insomnia Raih Gold Winner Anugerah Riset, Inovasi Nonobat Karya Anak Bangsa
Lapangan sepak bola Desa Tambaharjo selama ini dikenal sebagai ruang publik yang hidup. Setiap sore, lapangan tersebut ramai oleh aktivitas pemuda dan anak-anak.
Bahkan, lapangan kerap digunakan untuk kegiatan desa yang melibatkan banyak warga, termasuk peringatan hari besar dan acara kemasyarakatan.
Warga khawatir, jika pembangunan tetap dipaksakan, desa akan kehilangan ruang terbuka yang memiliki nilai sosial tinggi.
Baca Juga: Jejak Panjang Rieke 'Oneng', Dari Aktivis hingga Penasehat Bupati Bekasi yang Kini Disorot KPK
Mereka juga menilai keberadaan lapangan olahraga penting untuk mendukung aktivitas positif generasi muda agar terhindar dari pergaulan negatif.
Hingga kini, warga berharap pihak terkait dapat meninjau ulang rencana pembangunan tersebut.
Mereka meminta adanya dialog terbuka antara pemerintah desa, pengelola koperasi, dan masyarakat agar solusi yang diambil tidak merugikan salah satu pihak.
Kasus penolakan ini pun menjadi sorotan, karena menyangkut pengelolaan ruang publik dan partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan desa.
Warga menegaskan, pembangunan seharusnya membawa manfaat bersama, bukan justru memicu konflik di tengah masyarakat.***




