POJOKSATU.ID - Perusahaan teknologi asal Jepang, Terra Drone Co Ltd, akhirnya buka suara terkait tragedi kebakaran di kantor cabang mereka.

Terra Drone Indonesia, yang menewaskan 22 orang pada Selasa 9 Desember 2025.

Namun, alih-alih menenangkan publik, permintaan maaf tersebut justru dinilai terlambat, klise, dan tidak menyentuh akar persoalan.

Dalam dokumen resmi yang dirilis melalui Japan Exchange Group, Terra Drone hanya menyampaikan pernyataan standar, permintaan maaf dan ucapan duka cita.

Baca Juga: Pernah Dapat BSU 2025? Ini Fakta Apakah Bisa Dapat BSU Lagi 2026?

“Kami ingin menyampaikan permohonan maaf yang tulus atas ketidaknyamanan dan kekhawatiran yang ditimbulkan,” tulis perusahaan itu.

Seolah-olah kematian 22 karyawan hanya sebatas “ketidaknyamanan”.

Perusahaan juga menyatakan bahwa penyebab kebakaran masih dalam investigasi.

Pernyataan ini semakin dipertanyakan publik, mengingat aparat kepolisian Indonesia sudah sejak awal mengungkap dugaan kuat.

Baca Juga: OTT Mengguncang Lampung Tengah! Bupati Ardito Wijaya Diciduk KPK

Bahwa sumber api berasal dari baterai litium yang disimpan di lantai dasar gedung.

Sebuah bahan berbahaya yang seharusnya ditangani dengan protokol ketat.

Terra Drone Indonesia, melalui akun Instagramnya, juga mengucapkan belasungkawa.

Sambil menegaskan bahwa mereka kini fokus mendampingi korban luka dan keluarga korban tewas.

Namun, bagi sebagian besar keluarga korban, kalimat itu dianggap tidak cukup.

Mengingat adanya dugaan pelanggaran standar keselamatan kerja serta struktur bangunan yang jauh dari layak.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bahkan menyebut secara terang-terangan bahwa gedung tersebut tidak mematuhi aturan konstruksi.

Termasuk tangga sempit yang membuat karyawan tak dapat menyelamatkan diri.

Baca Juga: JANGAN KAGET! Nasib BSU 2026 Terkuak! Kemnaker Beri Sinyal Mengejutkan, Siap-siap Syarat Baru!

Banyak korban terjebak di lantai atas karena api dari bawah menghambat jalur evakuasi.

Data RS Polri memastikan seluruh 22 jenazah telah berhasil diidentifikasi.

Para korban mayoritas perempuan muda, karyawan yang bekerja di divisi teknis dan administrasi.

Mayoritas tidak sempat melarikan diri karena asap tebal dan struktur gedung yang tidak memenuhi standar keamanan.

Baca Juga: Kado HAKORDIA 2025: Kejari Bandung Tetapkan Wakil Wali Kota dan Anggota DPRD Tersangka Korupsi Pengaturan Proyek

Kepolisian kini membuka penyelidikan lebih jauh, termasuk memeriksa izin operasional bangunan serta potensi kelalaian perusahaan.

“Pihak yang bertanggung jawab harus diperiksa. Kami dalami kemungkinan kelalaian,” kata Kapolres Jakpus Susatyo, dikutip dari Detik, 10 Desember 2025.

Menariknya, pihak Terra Drone Jepang tidak menyinggung sama sekali soal kemungkinan pelanggaran standar keselamatan di kantor mereka.

Seolah-olah tragedi yang merenggut 22 nyawa hanya insiden “biasa” dalam industri drone.

Sementara itu, publik mempertanyakan mengapa sebuah perusahaan multinasional sebesar Terra Drone bisa beroperasi dalam gedung.

Dengan standar penyelamatan yang minim, terlebih mereka menyimpan baterai litium, yang sangat mudah memicu kebakaran.

Daftar korban yang dirilis RS Polri memperlihatkan betapa besar tragedi ini, dengan nama-nama dari berbagai kota, mayoritas anak muda yang sedang meniti karier.

Baca Juga: Gempar di Hakordia 2025, Banten Resmi jadi Daerah Paling Antikorupsi

Banyak keluarga kecewa dengan minimnya transparansi dari pihak perusahaan.

Dengan semakin banyaknya temuan lapangan dan kecurigaan pelanggaran prosedur keselamatan.

Investigasi terhadap Terra Drone diprediksi bakal menjadi salah satu kasus kecelakaan kerja terbesar di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.***