POJOKSATU.id - Jagat media sosial mendadak geger setelah sebuah foto.

Yang menampilkan rincian bantuan dari Kementerian Pertanian beredar luas dan memancing kecurigaan publik.

Foto itu berupa tabel yang disebut memuat daftar kebutuhan bantuan pascabanjir bandang di sejumlah wilayah Sumatra, dengan total anggaran yang tercantum mencapai Rp73 miliar.

Baca Juga: Viral! Bencana Belum Pulih, Muncul Skandal Baru? Harga Beras di Tabel Bantuan Kementan Dipertanyakan

Namun bukan angka besarnya yang membuat warganet heboh, melainkan rincian harga barang-barangnya, terutama harga beras, yang dinilai tidak masuk akal.

Gonjang-ganjing bermula ketika seorang pengguna X bernama Rio Chandrar2 mengunggah foto tabel tersebut.

Dalam cuitannya yang seketika viral, ia menyoroti salah satu komponen paling mencolok harga beras.

Baca Juga: Viral! Bencana Belum Pulih, Muncul Skandal Baru? Harga Beras di Tabel Bantuan Kementan Dipertanyakan

Rio memecah angka dalam tabel dan menunjukkan sebuah perhitungan sederhana.

“Lihat ada yang aneh nggak pak? Beras 1.312.450.000 dibagi 21.874 = 60 ribu per kilogram. Artinya beras 15 kilogram harganya bisa 900 ribu,” tulisnya.

Unggahan itu langsung memicu diskusi yang bergulir cepat.

Baca Juga: Pemerintah Didesak Demokrat Agar Tidak Gengsi Meminta Bantuan Pada Negara Luar Untuk Mengatasi Bencan Sumatera

Warganet ramai-ramai mempertanyakan bagaimana harga beras bisa mencapai angka tersebut dalam dokumen resmi.

Banyak yang menganggap nominal itu jauh melampaui harga beras premium sekalipun.

Beberapa pengguna bahkan memajang tangkapan layar harga beras di pasaran online untuk menunjukkan perbandingan yang terpaut sangat jauh.

Tak berhenti sampai di situ, sejumlah komentar mengarah pada dugaan adanya kesalahan input data, seperti angka nol berlebih atau pembagian kuantitas yang tidak sesuai.

Ada pula yang menduga tabel tersebut mungkin belum melewati tahapan verifikasi internal, sehingga wajar jika masih terdapat ketidakakuratan.

Baca Juga: Katanya Bonus, Tapi Kok Berat? TPG 100 Persen Justru Turun Seperti Sanksi untuk Guru

Namun sebagian lain justru bertanya-tanya, bagaimana mungkin data seperti itu bisa keluar dari lingkup internal dan beredar luas tanpa penjelasan apa pun.

Tabel yang memicu kontroversi itu sendiri memuat berbagai komponen kebutuhan, mulai dari beras hingga perlengkapan logistik lainnya.

Total anggaran sekitar Rp73 miliar disebut dialokasikan untuk membantu warga terdampak banjir bandang di beberapa wilayah Sumatra.

Baca Juga: Heboh! KDM Bagi-Bagi Uang Segepok ke Kru KRI Saat Lepas Bantuan Bencana Ke Sumatera, Bikin Kru Sumringah

Namun karena tidak disertai keterangan resmi, publik hanya bisa menerka-nerka konteks sebenarnya dari tabel tersebut.

Apakah itu dokumen final, data sementara, atau sekadar kompilasi yang belum diperiksa ulang.

Hingga isu ini viral, Kementerian Pertanian belum mengeluarkan pernyataan apa pun.

Tidak ada klarifikasi tentang keaslian dokumen, sumber data, maupun alasan di balik angka-angka janggal yang menjadi sorotan publik.

Baca Juga: Viral! Bencana Belum Pulih, Muncul Skandal Baru? Harga Beras di Tabel Bantuan Kementan Dipertanyakan

Kekosongan informasi inilah yang membuat spekulasi publik semakin liar.

Sebagian warganet menunggu jawaban agar polemik ini tidak sekadar menjadi bahan gunjingan daring yang berkepanjangan.

Kondisi ini muncul di tengah proses pemulihan warga yang masih berjuang bangkit setelah banjir bandang.

Kehadiran polemik semacam ini semakin memperkeruh suasana, membuat masyarakat bertanya-tanya mengenai transparansi dan akurasi penyaluran bantuan.

Sampai kini, foto tersebut tetap menjadi bahan perbincangan yang memicu kehebohan nasional.

Menunggu penjelasan resmi agar duduk perkaranya benar-benar terang dan tidak terus bergulir sebagai dugaan tanpa ujung.

Baca Juga: Heboh! KDM Bagi-Bagi Uang Segepok ke Kru KRI Saat Lepas Bantuan Bencana Ke Sumatera, Bikin Kru Sumringah

Jika klarifikasi tak kunjung datang, publik tampaknya akan terus memecah-mecah angka di dalam tabel itu

Mencoba menemukan jawaban sendiri di tengah gelombang tanda tanya yang belum terjawab.***