POJOKSATU.ID — Sebuah potongan video ceramah seorang ustaz viral di media sosial setelah dirinya menyebut bahwa Nabi Adam pertama kali diturunkan ke bumi di tanah Jawa.
Dalam ceramah tersebut, sang ustaz mengajak jamaah untuk ngaji yang jauh, sambil menyinggung bahwa masyarakat Nusantara seharusnya mengetahui hal tersebut.
“Bahwasanya di Nusantara ini pertama kali yang diturunkan oleh Allah, Nabi Adam itu diturunkan di tanah Jawa.
Baca Juga: Arya Daru 24 Kali Nginap Bareng Teman Sekantor Farah di Hotel, Polisi Ungkap Datanya dari 3 Sumber
Makanya ngaji, ayo ngaji yang jauh. Sampean ngaji ke Petamburan tok,” ujar sang ustaz dalam video itu.
Pernyataan tersebut langsung memicu diskusi hangat di media sosial.
Banyak warganet mempertanyakan dasar pernyataannya, sebab mayoritas riwayat ulama dan sahabat justru tidak pernah menyebut Nusantara apalagi Jawa sebagai lokasi turunnya manusia pertama tersebut.
Dalam berbagai literatur klasik, sejumlah sahabat Nabi Muhammad SAW seperti Jabir dan Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi Adam diturunkan di wilayah India.
Beberapa riwayat lain yang dikutip sejumlah ulama tafsir juga menguatkan hal tersebut.
Salah satunya adalah riwayat dari Ibnu Abbas dalam penjelasan Ibnu Abi Hatim yang menyebut Nabi Adam mendarat di Dahna, yaitu daerah di antara Makkah dan Thaif.
Riwayat-riwayat tersebut telah banyak dikutip dalam kitab-kitab tafsir dan sejarah Islam yang diajarkan secara turun-temurun di berbagai pesantren maupun lembaga pendidikan Islam.
Baca Juga: Sirene Tot-Tot-Wuk-Wuk Resmi Dibekukan, Netizen Bilang Akhirnya Telinga Kami Ga Budek!
Karena itu, pernyataan bahwa Nabi Adam turun di Jawa dinilai tidak memiliki rujukan yang jelas dari kitab atau sanad yang dikenal dalam tradisi ilmu hadis dan sejarah Islam.
Sejumlah tokoh agama juga menilai bahwa klaim tentang lokasi turunnya Nabi Adam tidak boleh disampaikan sembarangan tanpa dasar kuat.
Hal ini bukan hanya menyangkut akurasi sejarah keagamaan, tetapi juga menyangkut pentingnya menjaga integritas ilmu dalam kegiatan dakwah.
Baca Juga: Viral Mahasiswi Cimahi Diduga Jadi Korban Pungli Polisi Saat Berangkat UTS, Total Rp 550 Ribu
Di sisi lain, warganet menilai bahwa ajakan “ngaji yang jauh” yang disampaikan sang ustaz justru berbalik arah.
Mereka berpendapat bahwa mempelajari literatur Islam klasik dari sumber terpercaya jauh lebih penting dibanding menyebarkan klaim tanpa referensi.
“Lah ini riwayat mana turun di Jawa? Duh kita ngaji kurang jauh,” tulis salah satu komentar yang ramai dibagikan ulang.
Fenomena ini semakin memperlihatkan kuatnya pengaruh media sosial dalam menyebarkan konten keagamaan.
Baca Juga: Viral Tumbler Rp300 Ribu, KAI Luruskan Informasi, Petugas Belum Dipecat
Banyak pihak kemudian mengingatkan agar masyarakat tetap kritis, selektif, dan selalu memverifikasi dalil atau pernyataan keagamaan yang bersifat historis.
Meski perdebatan terus berkembang, para ulama menekankan bahwa perbedaan lokasi turunnya Nabi Adam tidak mengurangi esensi ajaran Islam.
Namun, menyampaikan informasi agama tetap membutuhkan kehati-hatian agar tidak menimbulkan kebingungan publik.***



