POJOKSATU.id - Di tengah sengkarut tunda bayar proyek yang menghantui Kota Pekanbaru sejak 2024.
Sebuah ironi muncul ketika seorang kontraktor bernama Hendrik justru harus meminta maaf setelah membongkar box culvert yang ia bangun sendiri.
Padahal, ia mengklaim tak menerima pembayaran selama hampir dua tahun, dengan nilai proyek yang disebut mencapai sekitar Rp800 juta.
Baca Juga: Resmi! BKN Luncurkan SIMATA, Aplikasi Wajib untuk Semua ASN Termasuk PNS & PPPK Berlaku Mulai 2026
Publik pun bertanya-tanya, mengapa orang yang merasa dirugikan malah harus menyampaikan maaf?
Dua Tahun Menunggu Bayaran
Hendrik mengerjakan proyek drainase di Jalan Letkol Hasan Basri sejak Desember 2024.
Ia menuturkan, sejak pekerjaan selesai, tak ada satu pun pembayaran dari pemerintah kota yang cair.
Baca Juga: Perjuangan Guru 57 Km yang Berujung Sanksi, Kisah Nur Aini yang Viral Lewat Podcast
Proyek tersebut masuk ke daftar tunda bayar, skema yang membuat pembayaran baru bisa dilakukan ketika anggaran tahun berikutnya tersedia.
Menurut penjelasannya, ia telah memakai modal pribadi untuk menyelesaikan pekerjaan, berharap dana akan segera turun.
Namun waktu terus berjalan. Sampai akhir 2025, ia mengaku tak menerima kejelasan. Situasi tersebut membuat beban keuangan usahanya kian berat.
Ia bahkan menyebut mengerjakan empat paket proyek dua atas namanya, dua atas nama anaknya yang sama-sama belum dibayar.
Situasi ini memperkuat perasaannya bahwa ia telah terlalu lama bersabar.
Aksi Protes yang Menggemparkan
Senin pagi, Hendrik datang ke lokasi proyek dengan membawa alat berat.
Dalam hitungan menit, box culvert yang sudah terpasang itu ia bongkar sebagian.
Aksinya direkam warga dan menyebar cepat di media sosial.
Baca Juga: Kapolda Banten dan Kapolresta Serang Resmikan Pelatihan Poliran Angkatan V
Banyak yang terkejut melihat seorang kontraktor membongkar pekerjaannya sendiri.
Tetapi penjelasan Hendrik membuat publik memahami bahwa ini adalah langkah frustrasi setelah penantian panjang.
Meski begitu, tindakan tersebut memicu reaksi keras dari Pemerintah Kota Pekanbaru.
Baca Juga: Resmi! BKN Luncurkan SIMATA, Aplikasi Wajib untuk Semua ASN Termasuk PNS & PPPK Berlaku Mulai 2026
Pihak berwenang menyebut tindakan Hendrik sebagai bentuk perusakan fasilitas umum dan menegaskan bahwa persoalan pembayaran sedang dalam proses prioritas.
Pembongkaran tersebut, menurut pejabat dinas terkait, seharusnya tidak dilakukan tanpa komunikasi resmi.
Permintaan Maaf yang Menyisakan Pertanyaan
Tak lama setelah insiden itu, Hendrik dipanggil oleh Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim).
Baca Juga: Meja KPK Sampai Tenggelam! Rp 883 M Hasil Korupsi Taspen Diangkat Pakai Troli, Publik Melongo
Setelah pertemuan tersebut, ia muncul dan menyampaikan permohonan maaf, baik secara langsung maupun melalui rekaman visual.
Ia juga menghentikan seluruh aktivitas pembongkaran dan mulai memperbaiki saluran yang sempat dibuka.
Di titik inilah ironi terasa kuat. Publik mempertanyakan mengapa pihak yang belum menerima haknya justru harus meminta maaf terlebih dahulu.
sementara pemerintah belum menjelaskan secara rinci kapan pembayaran tunda bayar tersebut akan diselesaikan.
Sejumlah warga menilai permintaan maaf itu menandakan kontraktor berada dalam posisi lemah, meski dialah yang mengalami kerugian finansial.
Baca Juga: Resmi! BKN Luncurkan SIMATA, Aplikasi Wajib untuk Semua ASN Termasuk PNS & PPPK Berlaku Mulai 2026
Pemerintah Janji Bayar, Tapi Kapan?
Pemerintah Kota Pekanbaru melalui pejabat Perkim menyatakan bahwa seluruh tunda bayar memang sedang diproses.
Mereka memastikan pembayaran dilakukan bertahap sesuai kemampuan keuangan daerah.
Namun, sejak awal tahun hingga insiden terjadi, belum ada jadwal pasti kapan dana untuk proyek drainase itu akan cair.
Baca Juga: Meja KPK Sampai Tenggelam! Rp 883 M Hasil Korupsi Taspen Diangkat Pakai Troli, Publik Melongo
Menariknya, persoalan tunda bayar di Pekanbaru bukan hanya menimpa kontraktor ini.
Sebelumnya, beberapa proyek lain juga disebut mengalami penundaan pencairan.
Situasi itu memperlihatkan bahwa masalah anggaran sedang menjadi beban berat bagi pemerintahan kota.
Baca Juga: Meja KPK Sampai Tenggelam! Rp 883 M Hasil Korupsi Taspen Diangkat Pakai Troli, Publik Melongo
Kisah Hendrik menampilkan paradoks yang menggugah perhatian publik seorang kontraktor yang merasa tertindas ekonomi, melakukan protes spontan
Dan akhirnya meminta maaf atas tindakannya meski akar masalahnya adalah pembayaran yang tak kunjung diberikan.***




