POJOKSATU.ID - BMKG mengeluarkan peringatan dini terkait fenomena pasang maksimum laut yang diperkirakan terjadi pada 20 November 2025.

Fenomena alami yang dihasilkan oleh gaya tarik gravitasi bulan dan matahari ini berpotensi memicu banjir rob di sedikitnya 18 wilayah pesisir Indonesia.

Mulai dari Aceh, pesisir Sumatera, pesisir utara Jawa, Bali, NTB, hingga sebagian Sulawesi.

Masyarakat di daerah rendah pesisir diminta bersiap menghadapi kemungkinan air laut meluap ke permukiman, tambak, hingga fasilitas publik.

Baca Juga: Penyebab Ribuan PPPK Sidoarjo Gagal Dapat SK Digital Akhirnya Terungkap, Ini Penjelasan Sekretaris BKD

Menurut BMKG, pasang maksimum tahun ini memiliki intensitas yang perlu diwaspadai karena.

Terjadi bersamaan dengan fase Bulan Baru, ketika posisi bulan matahari Bumi berada pada satu garis lurus.

Kondisi astronomis tersebut membuat gaya tarik gravitasi bekerja lebih kuat, menyebabkan peningkatan tinggi air laut di sejumlah wilayah.

“Peningkatan tinggi air laut ini berpotensi menyebabkan banjir pesisir atau banjir rob di beberapa wilayah Indonesia,” ujar M. Apdillah Akbar, dikutip dari Metrotvnews.

Baca Juga: Pemkot dan DPRD Tangsel Sahkan Raperda Pasar Rakyat dan APBD 2026 Jadi Perda

BMKG juga mengungkapkan bahwa fenomena ini bukan hanya berlangsung pada satu hari.

Meski puncaknya diperkirakan terjadi pada 20 November, potensi rob dapat terjadi dalam rentang waktu lebih panjang, yaitu 17 November hingga 3 Desember 2025.

Bergantung kondisi angin dan gelombang di masing-masing wilayah. Karena itu, masyarakat diminta mengikuti perkembangan informasi maritim setiap hari.

Sejumlah titik pesisir yang disebut dalam peringatan BMKG termasuk wilayah dengan kerentanan tinggi terhadap rob.

Di antaranya pesisir utara Pulau Jawa yang meliputi Jakarta, Tangerang, Bekasi, Karawang, Cirebon, Brebes hingga Semarang, serta wilayah pesisir selatan seperti Cilacap.

Di kawasan ini, banjir rob telah menjadi ancaman tahunan yang berdampak luas terhadap aktivitas pelabuhan, tambak garam, nelayan, dan pemukiman dataran rendah.

Sementara itu, Bangka Belitung, Jambi, Sumatera Barat, dan Medan juga masuk dalam daftar wilayah waspada, terutama daerah yang berada dekat muara sungai besar.

Gelombang laut yang lebih tinggi dan dorongan angin dari barat diprediksi memperparah kondisi pasang di wilayah tersebut.

Baca Juga: Ditjen Perhubungan Darat Tingkatkan Pemgawasan Bus Jelang Libur Natal dan Tahun Baru, 791 Unit Dilarang Beroperasi

Dari kawasan timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus dari BMKG.

Menurut laporan dari Antara, Stasiun Meteorologi Maritim NTB mengungkapkan bahwa potensi rob di kawasan ini diperkirakan berlangsung 19-26 November 2025.

Dengan ketinggian pasang maksimum mencapai 1,9 meter di beberapa titik.

Wilayah seperti Lembar, Tanjung Luar, dan Bima termasuk yang paling berisiko terdampak.

Baca Juga: Waspada! Lima Kekeliruan Ini Diam-Diam Menghancurkan Nilai Wawancara PPG Calon Guru

Di beberapa perairan, gelombang laut diprediksi mencapai 1,25–2,5 meter, sehingga meningkatkan potensi air meluber ke daratan saat pasang maksimum.

Di wilayah Sumatera Barat dan Kepulauan Mentawai, peringatan serupa juga disampaikan oleh BMKG setempat.

Puncak pasang diprediksi terjadi pada rentang 18–21 November 2025, terutama pada sore hingga malam hari.

Menurut pengamatan BMKG Padang, tinggi pasang di sejumlah titik diperkirakan mencapai 1,3 hingga 1,4 meter, meningkatkan risiko genangan di permukiman pesisir.

Dampak banjir rob biasanya paling terlihat di wilayah dengan kontur tanah rendah, saluran drainase tidak optimal, dan permukiman yang dibangun dekat bibir pantai.

Di kota-kota seperti Semarang dan Pekalongan, rob dapat menyebabkan air laut masuk ke jalan raya.

Menggenangi rumah warga, merusak barang-barang, dan mengganggu aktivitas ekonomi.

Di beberapa tempat, rob juga dapat mempercepat kerusakan infrastruktur seperti tanggul, jalan pantai, dan pondasi bangunan.

Selain itu, BMKG memperingatkan bahwa rob dapat berdampak pada aktivitas pelabuhan kecil, kapal nelayan, dan tambak ikan atau udang.

Baca Juga: Warga Tangsel Terjebak Banjir Setinggi Dada, Puluhan Rumah di Ciputat Terendam

Air laut dengan kadar garam tinggi yang masuk ke area tambak dapat merusak ekosistem budidaya dan menimbulkan kerugian signifikan bagi para petambak.

Nelayan juga diminta mempertimbangkan kondisi gelombang laut sebelum melaut karena pasang maksimum sering kali dibarengi gelombang tinggi.

Tidak hanya itu, fenomena pasang maksimum ini turut memiliki hubungan tidak langsung dengan perubahan iklim global.

Meski BMKG menekankan bahwa penyebab utama rob saat ini adalah fenomena astronomis.

Baca Juga: Acara Penyerahan SK Digital Digelar Besar-Besaran, Tapi Ribuan PPPK Pulang Tanpa SK dan Mengaku Kecewa

Namun pola rob yang semakin sering dan lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya juga dapat menjadi tanda bahwa kenaikan permukaan laut mulai dirasakan di beberapa wilayah.

Penguatan angin laut akibat perubahan cuaca ekstrem turut memperbesar risiko banjir pesisir.

Pemerintah daerah di berbagai wilayah pesisir mulai melakukan langkah antisipatif, seperti memeriksa kondisi tanggul, membersihkan saluran air, menyiapkan lokasi evakuasi sementara.

Dan memberikan peringatan dini kepada warga. Di beberapa daerah, petugas bersiaga untuk menutup pintu air secara manual ketika permukaan laut naik.

BMKG mengimbau masyarakat agar tidak panik namun tetap waspada. Informasi maritim resmi harus diikuti melalui kanal BMKG seperti media sosial, situs web, dan aplikasi mobile.

Warga diminta meningkatkan kewaspadaan terutama pada jam-jam rawan pasang maksimum, yaitu sore dan malam hari.

Ketika tinggi pasang mencapai puncaknya di sebagian besar wilayah Indonesia.

Bagi warga pesisir, sejumlah langkah sederhana dapat dilakukan sebagai mitigasi, seperti memindahkan barang berharga ke tempat lebih tinggi.

Menyiapkan alas anti-air di pintu rumah, memeriksa kondisi listrik, hingga menutup akses rumah yang dekat dengan garis air.

Baca Juga: Mentan Amran Ancam Cabut Izin Pemain Harga Telur, Tengkulak Pengacau Harga Telur Diincar Satgas

Sementara itu, bagi nelayan, BMKG menyarankan agar memperhatikan update gelombang laut dan menghindari melaut ketika gelombang lebih dari dua meter.

Fenomena pasang maksimum yang terjadi pada 20 November 2025 ini menjadi pengingat penting.

Bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia harus memperkuat mitigasi bencana pesisir.

Baca Juga: Miris! Konflik Lama Dua Pedagang di Cileungsi Meledak, Gangguan Saat Mabuk Berujung Tiga Orang Luka

Perubahan iklim dan fenomena astronomis dapat saling memperkuat dampak, sehingga kesiapsiagaan harus menjadi prioritas utama.

Dengan peringatan dini yang sudah dikeluarkan, masyarakat diharapkan semakin sadar bahwa banjir rob bukan sekadar masalah tahunan.

Tetapi bagian dari risiko hidup di wilayah pesisir yang harus dikelola dengan lebih serius.

Pemerintah daerah juga diharapkan semakin cepat dalam merespons agar dampak rob tidak meluas dan tidak menimbulkan kerugian lebih besar di masa mendatang.***