POJOKSATU.ID - Hubungan pedagang kaki lima yang biasanya akrab dan saling membantu, berubah menjadi tragedi berdarah di Cileungsi, Kabupaten Bogor.
Seorang pedagang pecel lele membacok pedagang kopi yang sehari-hari berjualan tepat di sebelahnya.
Konflik yang awalnya hanya dipicu gangguan akibat mabuk, pecah menjadi aksi kekerasan brutal menggunakan kapak.
Peristiwa itu terjadi Rabu malam, 19 November 2025, sekitar pukul 20.30 WIB.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Pastikan Rapel Pensiunan PNS Tak Dibatalkan, Verifikasi Sudah Capai 90 Persen
Malam yang seharusnya menjadi waktu mencari nafkah justru berubah menjadi malam kelam, dengan tiga orang terkapar berlumuran darah.
Pedagang kopi sebagai korban utama, serta dua rekannya yang ikut terluka saat mencoba melerai.
Kapolsek Cileungsi Kompol Edison membenarkan kejadian tersebut.
“Betul, kejadiannya masuk wilayah Cileungsi tadi malam. Yang terlibat itu pedagang pecel lele sama pedagang kopi yang merupakan anggota ormas,” ujarnya.
Baca Juga: Dari Rawon Setan sampai Donat Hits! Tradisi dan Tren Kuliner Surabaya
Hubungan keduanya sebenarnya tidak harmonis sejak lama. Mereka berjualan hanya berjarak beberapa meter, namun ketegangan muncul hampir setiap pekan.
Penyebabnya: kebiasaan korban yang sering mabuk saat berjualan, lalu mengganggu lapak pedagang pecel lele.
Menurut polisi, gangguannya bukan sekadar omongan kasar. Korban beberapa kali, mengusir pelanggan yang ingin makan pecel lele.
Memutus tambang tenda milik pedagang pecel lele, mematahkan bambu penyangga tenda, mengacau suasana berjualan, terutama saat mabuk.
Hal-hal ini terjadi berkali-kali, dan masing-masing pedagang punya saksi serta rekaman kejadian serupa sebelumnya.
Situasi ini sulit dikendalikan, apalagi di area PKL yang tidak memiliki mekanisme mediasi formal.
Ini bukan motif pemerasan atau ormas. Ini karena korban rese saja. Saat minum, dia mengganggu.
"Itu terjadi berulang-ulang. Pelaku merasa sangat terganggu,” jelas Kompol Edison.
Baca Juga: Heboh! Kasus Santri MB Diselesaikan Damai, Tapi Benarkah Semua Luka Telah Pulih?
Rabu malam itu, suasana pasar kecil di Cileungsi ramai seperti biasa. Aroma kopi, gorengan, dan pecel lele yang menyengat sedap.
Namun ketegangan sudah terlihat sejak sore ketika korban kembali menegur pelanggan pedagang pecel lele.
Memasuki malam, korban yang diduga sudah dalam kondisi mabuk kembali mengacaukan dagangan tetangganya.
Ia memutus tali tenda dan merusak salah satu bambu penyangga.
Baca Juga: Gaji Ibu Ini Cuma Rp 50 Ribu per Bulan! Setelah Tahu Alasannya,Bikin Netizen Langsung Nangis
Pelaku, yang disebut sabar selama berbulan-bulan, akhirnya kehilangan kendali. Ia mengambil kapak yang biasa dipakai untuk memotong kayu tenda.
Ledakan emosi yang tak terkendali membuatnya menyerang korban dengan ayunan keras ke bagian tubuh korban.
Korban langsung ambruk bersimbah darah. Dua rekannya yang berusaha menahan pelaku juga ikut terkena sabetan kapak.
“Korban utama lukanya cukup parah. Dua orang lain yang mau membantu terkena juga. Mereka sudah dibawa ke rumah sakit,” kata Edison.
Di balik kekerasan itu, ada kisah kehidupan pedagang kecil yang hidup di tekanan ekonomi. Lapak mereka adalah sumber nafkah keluarga.
Gangguan sekecil apa pun berarti hilangnya pelanggan dan hilangnya pendapatan malam itu.
Pelaku pedagang pecel lele dikenal pendiam oleh pedagang lain. Ia bekerja dari sore hingga dini hari. Tenda pecel lele adalah tumpuan hidupnya.
Ketika tambang tenda diputus, ketika bambu dipatahkan, ketika pelanggan diusir itu bukan hanya “gangguan”, melainkan ancaman langsung terhadap dapur keluarganya.
Di sisi lain, korban pedagang kopi punya masalah pribadi yang dikenal warga sekitar. Kebiasaannya menenggak minuman keras juga bukan hal baru.
Baca Juga: Legislatif Temui Kapolresta Serang, Soroti Keamanan dan Layanan Publik
Banyak pedagang lain sudah pernah menegurnya, namun konflik selalu berulang.
Lingkungan PKL yang sempit, tanpa batas teritorial yang jelas, tanpa pengawasan ketertiban, membuat konflik kecil mudah berubah menjadi ledakan besar.
Berita beredar cepat bahwa kasus ini melibatkan ormas, karena korban disebut anggota.
Namun Polsek Cileungsi langsung memberi klarifikasi agar publik tidak terseret opini salah.
Baca Juga: Sudah Berekspetasi Naik, Tapi Gaji Pensiunan Masih Mengacu PP 8/2024, Cek Daftar Besarannya!
“Tidak ada pemerasan, tidak ada urusan ormas. Ini murni soal gangguan berulang. Pelaku kesal, emosinya meledak,” tegas Edison.
Penjelasan polisi penting untuk menghindari spekulasi liar dan mencegah konflik horizontal antaranggota kelompok masyarakat.
Korban utama masih dirawat intensif karena luka bacok yang cukup parah. Dua rekannya mengalami luka tebas di tangan dan bahu.
Polisi telah mengamankan pelaku serta mengamankan kapak sebagai barang bukti.
Penyidik akan mendalami apakah pelaku merencanakan atau tindakan terjadi spontan karena emosi.
Kasus ini menunjukkan pentingnya mediasi cepat dan keterlibatan aparat setempat dalam menyelesaikan gesekan antarpedagang.
Gangguan kecil, satu tali tenda putus, satu bambu patah terlihat sepele, tapi jika dibiarkan menumpuk, ia menjadi bom waktu.
Konflik sosial mikro seperti ini sering luput dari perhatian, padahal berdampak nyata pada keamanan lingkungan dan keselamatan warga.***




