POJOKSATU.ID - Blusukan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia Kaesang Pangarep di Pasar Sentral Inpres Manonda, Palu, Sulawesi Tengah, Rabu 19 November 2025.
Kembali menjadi sorotan publik. Bukan karena gagasan politik baru, bukan pula karena dialog panjang soal harga pangan atau aspirasi pedagang.
Sebaliknya, perhatian warga justru tersedot pada sederet momen yang dinilai lebih menyerupai hiburan.
Kaesang membeli anting, diserbu ibu-ibu, naik becak, hingga memesan pop ice yang kemudian tak kunjung dibuat karena pedagang sibuk memotretnya.
Baca Juga: Heboh! Benarkah PPPK Paruh Waktu Akan Terima THR Natal 2025? Begini Penjelasan Resminya
Rangkaian momen inilah yang membuat sebagian pihak menyebut kegiatan tersebut tidak lebih dari “kampanye gimmick”.
Blusukan yang penuh konten lucu namun minim substansi politik.
Apalagi, PSI tengah berupaya memperkuat basis dukungan di kawasan Indonesia Timur, sehingga publik menantikan langkah yang lebih serius.
Blusukan Kaesang dimulai sejak pagi, ditemani Ketua Harian PSI Ahmad Ali.
Baca Juga: Dedi Mulyadi Geram! Respons Lambat Pemulangan WNI Korban TPPO Disorot Usai Kasus Rizki di Kamboja
Mereka menyusuri gang-gang kecil di pasar, menyapa pedagang, dan mencoba membangun percakapan.
Namun perhatian warga lebih dulu tersedot pada sosok Kaesang sebagai figur publik, bukan pada posisinya sebagai ketua partai.
Seorang pedagang spontan berteriak “Hidup Jokowi!”, begitu Kaesang lewat di depan tokonya. Seruan itu sontak mengundang tawa warga.
Namun di sisi lain, momen itu menguatkan penilaian bahwa Kaesang masih sulit melepaskan diri dari bayang-bayang ayahnya, Presiden ke 7 RI Joko Widodo.
Setelah berjalan beberapa menit, Kaesang berhenti di sebuah toko aksesoris dan membeli sepasang anting. Adegan itu langsung menjadi pusat perhatian.
Pembeli dan pedagang berhenti sejenak, sebagian mengambil video.
Sebagian lain justru bersorak memanggil “Gibran, Gibran!”menyebut nama kakaknya yang kini menjabat Wakil Presiden.
Interaksi spontan ini memang mengundang tawa, tetapi juga memperlihatkan bagaimana persona Kaesang lebih banyak diperlakukan.
Baca Juga: Blak-blakan! Komjen Dedi Prasetyo Akui Pungli dan Kekerasan Masih Marak di Internal Polri
Sebagai selebritas politik ketimbang tokoh partai yang sedang memetakan isu pasar.
Begitu keluar dari toko aksesoris, Kaesang langsung dikerumuni emak-emak yang berebut selfie. Ia melayani satu per satu dengan sabar.
Di antara kerumunan itu terdengar komentar-komentar polos seperti “Ganteng banget, Mas” hingga “Eh, ini Gibran atau Kaesang sih?”
Kerumunan semakin melebar. Pedagang yang sebelumnya duduk menjaga lapak ikut meninggalkan barang dagangan demi mendapatkan momen foto.
Baca Juga: Ide Gokil Siswa SMP Bikin Heboh, Ubah 3 Ton Kulit Bawang Jadi Tinta Spidol Ramah Lingkungan!
Dalam situasi seperti ini, ruang untuk berdialog tentang harga sembako, biaya kulakan, atau kondisi pasar seketika menghilang.
Sejumlah pengamat menilai interaksi semacam ini memang menarik perhatian media dan memunculkan citra positif.
Tetapi berpotensi mengaburkan tujuan utama blusukan guna menyerap aspirasi masyarakat secara langsung.
Puncak keramaian terjadi ketika Kaesang dan Ahmad Ali hendak meninggalkan pasar. Ali mengajak Kaesang naik becak menuju lokasi mobil mereka terparkir.
Di becak itulah terjadi kejadian yang kemudian ramai dibicarakan: seorang emak-emak tiba-tiba mengelus dagu Kaesang sambil berkata gemas.
Kaesang tampak kaget dan tersipu. Orang-orang sekitar ikut tertawa. Momen ini viral di media sosial, memancing komentar beragam.
Sebagian menyebutnya lucu dan menggemaskan. Sebagian lain mengkritik keamanan Kaesang yang terlihat longgar.
Ada pula yang menilai adegan itu menunjukkan bagaimana blusukan kali ini berlangsung tanpa arah yang jelas dan tidak terkontrol.
Adegan tersebut memperlihatkan kaburnya batas antara figur politik dan hiburan publik. Di tengah kerumunan spontan, pesan politik PSI makin tak terdengar.
Baca Juga: BKN Bocorkan Sinyal Kuat! CPNS 2026 Bakal Dibuka, Harapan Baru untuk Honorer
Blusukan berakhir dengan momen lain yang tak kalah ganjil. Kaesang mampir ke pedagang minuman untuk membeli pop ice.
Namun alih-alih membuat pesanannya, sang pedagang justru sibuk memfoto Kaesang dan mengajak rekannya ikut mengambil gambar.
Kaesang hanya tertawa kecil melihat situasi itu, tapi ekspresinya menunjukkan sedikit kebingungan. “Wah, malah foto duluan,” ujar Kaesang sambil menunggu.
Bagi sebagian pengamat komunikasi politik, momen ini menambah panjang daftar kejadian yang membuat blusukan tampak seperti konten hiburan.
Baca Juga: BRI Fasilitasi Sindikasi Pembiayaan Rp5,2 Triliun untuk Dorong Ekspansi SSMS
Sejatinya, Kaesang datang ke Palu untuk menghadiri rapat kerja wilayah PSI Sulteng.
Blusukan ke pasar seharusnya menjadi jembatan komunikasi antara partai dan masyarakat, sekaligus memperkenalkan visi PSI di tengah dinamika politik lokal Sulawesi Tengah.
Namun dari rangkaian kejadian di pasar, nyaris tak terlihat ruang dialog soal isu-isu yang tengah ditanggung masyarakat.
Tidak terdengar pembahasan mengenai harga pangan, biaya hidup, atau keluhan pedagang.
Tidak ada catatan eksplisit tentang aspirasi yang dibawa Kaesang ke agenda Rakerwil.
Situasi ini menimbulkan kritik bahwa PSI belum mampu memisahkan persona Kaesang sebagai figur publik dengan posisi strategisnya sebagai ketua umum partai.
Dalam satu tahun terakhir, aktivitas politik Kaesang kerap dihiasi momen-momen viral. Dari aksi joget, diserbu emak-emak, hingga tingkah kocak lainnya.
Hal ini membuat sebagian pengamat menilai PSI terlalu bergantung pada pendekatan gaya loose, santai, dan entertainment-politics tanpa struktur komunikasi yang kokoh.
Blusukan di Palu pun tidak lepas dari pola tersebut. Interaksinya yang spontan memang menarik perhatian, namun publik mulai mempertanyakan.
Baca Juga: Operasi Senyap Kejagung, Penggeledahan Beruntun Bongkar Dugaan Suap di Dirjen Pajak
Apa sebenarnya agenda yang dibawa PSI? Apakah blusukan diarahkan untuk menyerap aspirasi masyarakat
Atau sekadar menguatkan kehadiran Kaesang sebagai figur viral di media sosial?
Tidak ada yang salah dengan Kaesang berinteraksi ringan dengan warga. Tidak salah juga ketika blusukan menghasilkan momen lucu. Politik perlu kehangatan.
Namun saat interaksi non substansial mendominasi, publik wajar mempertanyakan esensi blusukan tersebut.
Gaya politik yang ringan boleh saja, tetapi tetap membutuhkan arah, pesan, dan tujuan.
Tanpa itu, kegiatan hanya akan menjadi rangkaian gimmick yang cepat viral, namun cepat pula dilupakan.
PSI dan Kaesang kini berada pada titik penting: apakah blusukan berikutnya akan menghadirkan dialog yang lebih kuat.
Atau justru kembali tenggelam dalam kerumunan selfie dan momen-momen kocak yang tak berujung?***




