POJOKSATU.ID - Media sosial dihebohkan dengan video seekor harimau di Taman Margasatwa Ragunan (TMR) yang tampak kurus dan gelisah di dalam kandang.
Dalam unggahan tersebut, muncul narasi bahwa harimau diduga kelaparan karena pakan berupa daging dibawa pulang oleh petugas.
Tuduhan itu langsung viral dan memicu kecaman publik. Namun, pihak Ragunan menyebut isu tersebut sebagai fitnah yang tidak berdasar.
Kepala Humas TMR, Wahyudi Bambang, menegaskan bahwa semua harimau di Ragunan berada dalam kondisi sehat dan terawat.
Ia menyebut tuduhan pencurian pakan sebagai informasi palsu yang dapat mencoreng reputasi kebun binatang.
Menurutnya, kondisi fisik harimau yang tampak kurus di video hanyalah sudut pengambilan gambar yang menyesatkan.
Baca Juga: Menteri Keuangan Umumkan Redenominasi Rupiah, Beban ASN dan Pensiunan Ringan Tapi PMK 70 Diterbitkan
Dari hasil pemeriksaan body conditioning score, kondisi harimau diklaim berada pada kategori normal bahkan cenderung baik.
Ragunan juga memastikan bahwa proses pemberian pakan satwa dilakukan dengan pengawasan berlapis.
Setiap harimau menerima jatah 5–7 kilogram daging per hari, disesuaikan dengan ukuran tubuh dan kebutuhan nutrisi masing-masing satwa.
Proses distribusi pakan bahkan diawasi kurator, dokter hewan, hingga nutrisionis satwa.
Baca Juga: Wabup Lebak Ngamuk Lihat PKL Berjualan di Luar Area Pasar Semi
Untuk mencegah kebocoran pakan, petugas yang keluar dari area TMR harus melalui pemeriksaan ketat terhadap tas hingga kendaraan.
Isu ini turut menarik perhatian Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Ia mengaku langsung mengecek ke Ragunan setelah video viral tersebut menyebar luas.
Dalam kunjungannya, Pramono menegaskan bahwa tidak ada satu pun bukti yang menunjukkan pakan harimau dicuri atau dibawa pulang petugas.
Dengan nada tegas sekaligus bercanda, ia menyampaikan bahwa “siapa pun yang berani mengambil pakan harimau akan berhadapan dengan harimau itu sendiri.”
Pramono meminta publik tidak mudah termakan isu yang tidak diverifikasi.
Munculnya isu ini memperlihatkan betapa cepatnya rumor dapat menyebar di media sosial, terutama ketika menyangkut kesejahteraan satwa.
Ragunan merasa perlu melakukan klarifikasi lantaran isu tersebut berpotensi menimbulkan krisis kepercayaan publik terhadap manajemen kebun binatang.
TMR juga menekankan bahwa kesejahteraan satwa merupakan prioritas utama dan mereka rutin melakukan evaluasi kesehatan seluruh koleksi hewan.
Pengamat konservasi menyebut bahwa kasus seperti ini menunjukkan pentingnya literasi visual di era digital.
Foto atau video yang diambil pada sudut tertentu bisa menimbulkan persepsi keliru.
Harimau yang tampak kurus dalam satu frame tak selalu berarti kelaparan, karena kondisi tubuh kucing besar bisa terlihat berbeda tergantung posisi berdiri, lighting, dan siklus makan.
Meski isu sudah dibantah dan pengecekan langsung dilakukan oleh pemerintah, sebagian warganet masih mendorong adanya audit terbuka terkait manajemen pakan di Ragunan.
Baca Juga: Jejak Politik Cucun Syamsurijal, Dari Kursi Wakil Ketua DPR hingga Tuduhan Kampanye Kotor
Mereka menilai transparansi tetap diperlukan untuk meningkatkan kepercayaan publik.
Ragunan pun mengatakan siap membuka akses bagi lembaga resmi untuk meninjau pengelolaan pakan dan perawatan satwa.
Kasus viral ini menjadi pengingat bahwa pengelola kebun binatang harus lebih aktif menyediakan informasi publik mengenai kesehatan dan kesejahteraan satwa.
Di sisi lain, publik juga diimbau memastikan kebenaran informasi sebelum menyebarkannya agar tidak menambah kegaduhan.***




