POJOKSATU.ID - Di tengah arus kuat polarisasi sosial dan semakin terkikisnya ruang toleransi di kalangan generasi muda.

Warisan kepemimpinan Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur, muncul sebagai mercusuar yang relevan untuk dibangkitkan kembali.

Sebagai Presiden ke 4 Republik Indonesia dan Ketua Umum Nahdlatul Ulama (NU), Gus Dur dikenal luas sebagai tokoh pluralisme dan perdamaian antar­umat beragama.

Dalam penelitian disebutkan bahwa Gus Dur merupakan “tokoh pejuang toleransi antarumat beragama”.

Baca Juga: Modus Edan! Sabu Disembunyikan dalam Pembalut, Petugas Lapas Bongkar Aksi Nekat Dua Perempuan

Dari sembilan nilai utama yang diajarkan oleh Gus Dur di antaranya kemanusiaan, keadilan, persaudaraan, dan kesetaraan.

Generasi muda Indonesia dapat memetik banyak pelajaran berharga tentang bagaimana hidup bersama dalam perbedaan.

Nilai nilai tersebut tidak hanya menjadi warisan moral, tetapi juga panduan etis yang relevan di tengah tantangan sosial dan politik saat ini.

Nilai kemanusiaan, misalnya, mengajarkan pentingnya menghormati hak dan martabat setiap individu tanpa memandang suku, agama, ras, atau latar belakang sosial.

Baca Juga: Hampir Sepekan, Satu Korban Bom SMAN 72 Masih Parah, Sisanya Gangguan Pendengaran 90 Persen

Gus Dur menegaskan bahwa kemanusiaan adalah titik temu universal di atas segala identitas yang membelah.

Sehingga siapa pun berhak mendapatkan penghormatan dan perlakuan adil.

Kemudian, nilai persaudaraan mengandung pesan bahwa hubungan antarindividu dan antarumat.

Seharusnya dibangun bukan berdasarkan kesamaan agama atau budaya, melainkan atas dasar rasa kemanusiaan yang menyatukan.

Dalam pandangan Gus Dur, perbedaan bukanlah ancaman, tetapi kekayaan yang harus dijaga melalui empati dan dialog yang tulus.

Sementara itu, nilai kesetaraan menegaskan bahwa setiap manusia memiliki posisi yang sama di hadapan hukum, negara, dan Tuhan.

Tidak ada pihak yang lebih tinggi atau lebih rendah karena status sosial maupun keyakinannya.

Prinsip ini menjadi fondasi bagi perjuangan Gus Dur dalam menentang diskriminasi dan memperjuangkan hak kelompok minoritas di Indonesia.

Baca Juga: Layanan Lengkap! Perawatan Anak dan Imunisasi Bisa Ditanggung BPJS Kesehatan

Dalam konteks kehidupan beragama, banyak kalangan menilai bahwa Gus Dur menjadi simbol nyata toleransi antarumat beragama.

Pemikiran dan tindakannya melampaui sekat-sekat keyakinan, menghadirkan wajah Islam yang damai, terbuka, dan menghargai perbedaan.

Ia bukan hanya membela hak umat Islam, tetapi juga berdiri untuk mereka yang tertindas, apa pun agamanya.

Melalui nilai-nilai tersebut, generasi muda diharapkan mampu melanjutkan semangat inklusif yang diwariskan Gus Dur.

Baca Juga: Wakil Wali Kota Tangsel Siap Menjenguk MH, Korban Bullying di SMPN 19

Di era ketika intoleransi dan polarisasi sosial masih kerap muncul, ajaran-ajarannya menjadi kompas moral.

Untuk membangun Indonesia yang berkeadaban, adil, dan menghargai kemanusiaan sebagai nilai tertinggi.

Di era media sosial dan ruang siber yang kian terfragmentasi, anak muda sering terjebak dalam echo chamber dan sikap intoleran.

Ide ide yang mengakar pada kemarahan atau simplifikasi identitas menjadi cepat mengemuka.

Dalam konteks ini, warisan Gus Dur yang mengajak dialog dan penghormatan terhadap keberagaman bisa menjadi model untuk menghentikan retorika kebencian.

Kajian akademis menyebut bahwa pemikiran Gus Dur tentang toleransi beragama merupakan sinergi antara ilmu agama.

Dan ideologi nasional (Pancasila) dan realitas kemajemukan Indonesia.

Untuk generasi muda yang ingin meneruskan semangat Gus Dur, ada beberapa langkah konkret yang bisa dilakukan.

Mengikuti kegiatan lintas agama dan budaya di lingkungan kampus atau komunitas lokal.

Baca Juga: Banten Jadi Panutan Nasional! Strategi Cerdas Andra Soni Berhasil Tekan Angka TBC, Kemenkes Terpukau

Membaca karya atau kutipan Gus Dur yang mendorong pemikiran terbuka dan kritis.

Menerapkan nilai saling menghormati, walaupun berbeda pandangan, sebagai bentuk jihad sosial di kehidupan sehari-hari.

Pemerintah baru-baru ini menetapkan Gus Dur sebagai salah satu penerima gelar Pahlawan Nasional tahun 2025.

Momen ini bisa menjadi momentum kebangkitan narasi toleransi generasi muda.

Baca Juga: Cara Pindah Faskes BPJS Kesehatan Lewat Mobile JKN, Gak Perlu ke Kantor Lagi!

Bahwa kepahlawanan tak hanya soal perang, tapi juga soal keberanian menjaga kemanusiaan dan kerukunan.

Ketika kita menyaksikan gelombang intoleransi dan eksklusivitas semakin kuat, warisan Gus Dur muncul sebagai jawaban yang tak lekang oleh waktu.

Bagi generasi muda Indonesia, semangatnya bukan hanya menjadi kenangan sejarah, tetapi tantangan nyata untuk dijalankan.

Hidup bersama dalam pluralitas, menghormati perbedaan, dan membangun bangsa yang inklusif.

Seperti yang dikatakan Gus Dur sendiri: “Kita harus selalu berpikiran positif terhadap orang lain.”***