POJOKSATU.id – Pada tanggal 10 November 2025 ada sebuah kejadian tentang pembagian makanan ringan di ruang kelas.
SD Negeri 021 Tarai Bangun, Desa Tarai Bangun, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau.
Namun, satu momen viral mengubah suasana sekolah menjadi sorotan publik nasional.
Baca Juga: PPPK Paruh Waktu Tersendat, Anggaran Daerah dan Dinamika Politik Jadi Batu Sandungan
Seorang guru honorer, Yon Hendri, tampak membanting nasi kotak di hadapan murid-murid dan rekan guru, menjalankan aksi yang kemudian ramai dibicarakan di media sosial.
Menurut penjelasan Yon Hendri, nasi kotak tersebut bukan bagian dari program makan bergizi gratis (MBG).
Melainkan bingkisan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Kampar setelah acara sosialisasi anti-bullying bersama Kejaksaan Negeri Kampar.
Baca Juga: PPPK Paruh Waktu Tersendat, Anggaran Daerah dan Dinamika Politik Jadi Batu Sandungan
Ia mengungkap bahwa perselisihan teknis terkait pembagian lah yang memicu emosinya.
Beberapa guru ingin pembagian dilakukan secepatnya di luar kelas, sedangkan ia minta dilakukan di dalam kelas agar lebih tertib.
Sekilas, adegan itu tampak sepele. Namun, ketika terekam kamera ponsel.
Baca Juga: Prabowo Minta Mensesneg Periksa Penyerapan Dana Transfer Daerah, Pastikan Tak Ada Anggaran Mengendap
Kemudian tersebar viral, ruang kelas yang seharusnya menjadi tempat pembelajaran dan teladan berubah menjadi ruang ketegangan.
Reaksi publik pun terbelah antara mengecam aksi guru tersebut dan menyoroti akar masalah yang lebih dalam.
Dinas pendidikan setempat segera turun tangan.
Dinas Pendidikan dan Pemuda Olahraga Kabupaten Kampar (Disdikpora) menyatakan akan melakukan penelusuran internal atas video viral tersebut.
Tapi insiden ini sebaiknya tidak berhenti di sini sebagai sekadar “guru ngamuk di sekolah”.
Ada dua hal utama yang layak menjadi perhentian refleksi
Baca Juga: Kunjungan ke Canberra Dianggap Sinyal Lunak Indonesia terhadap AUKUS
Pertama, tekanan yang dihadapi guru honorer sehari-hari.
Kondisi kerja yang tak menentu, beban ganda sebagai pengajar dan administratif, serta kurangnya penghargaan bisa memicu ledakan emosi yang tak terduga.
Meski bukan pembenaran, namun momen itu memberi sinyal.
perlu perhatian lebih pada kesejahteraan tenaga pendidik.
Kedua, bagaimana media sosial bisa memperlebar dan memperkeruh isu.
Video terekam, diunggah, dan dalam hitungan jam berubah menjadi bahan perdebatan nasional.
Baca Juga: Dedi Mulyadi Uji Coba Jerami Jadi Bahan Bakar Traktor, Inovasi Energi dari Sawah Subang
Guru yang mestinya menjadi figur stabil di kelas justru viral karena kehilangan kendali dan murid-muridnya melihat semuanya.
Yang seharusnya bahan diskusi internal sekolah kini menjadi konsumsi publik.
Akhirnya, pembelajaran yang paling sederhana perlunya komunikasi dan mekanisme yang jelas di sekolah-sekolah, terutama saat ada program eksternal atau bantuan masuk.
Dan, bagaimana lingkungan sekolah dapat menjadi tempat pembelajaran emosional di mana guru dan murid sama-sama tumbuh.
Karena ketika sebuah nasi kotak terbanting di depan murid-murid, bukan sekadar makanan yang rusak—namun kepercayaan dan teladan juga ikut terguncang.***




