POJOKSATU.ID - Hujan deras yang mengguyur Kota Bima pada Sabtu (8/11/2025) malam kembali membuat sebagian wilayah kota terendam banjir.

Air bercampur lumpur memenuhi jalan utama, rumah warga, dan area pertokoan.

Meskipun banjir mulai surut pada Minggu pagi, warga menilai akar masalah belum benar-benar diatasi sistem drainase yang buruk dan sedimentasi sungai yang tak kunjung dibersihkan.


Banjir yang Terulang Tiap Tahun

Bagi warga Bima, peristiwa ini bukan hal baru. Setiap kali curah hujan meningkat, kekhawatiran langsung muncul.

Baca Juga: Tim SAR Gabungan Temukan Jenazah Pria Tenggelam di Sungai Citarum Karawang

Banjir tahun ini menenggelamkan enam kelurahan, termasuk Sarae, Pane, Melayu, dan Lewirato.

Di beberapa titik, air mencapai setinggi lutut orang dewasa.

Meski tidak menelan korban jiwa, kerugian material tetap terasa mulai dari perabot rumah hingga barang dagangan warga yang rusak.

Fenomena ini memperkuat pandangan bahwa Bima tengah menghadapi persoalan tata kota serius.

Baca Juga: Bupati Markus Tantang ASN Bersaing Profesional Lewat Lelang Jabatan Terbuka

Sejak banjir besar pada 2016, perbaikan drainase memang dilakukan, namun banyak proyek yang belum selesai atau kurang terpelihara.


Drainase Buruk dan Sedimentasi Sungai

Menurut pantauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bima, beberapa drainase utama di sekitar Jalan Soekarno-Hatta.

Baca Juga: Fakta Mengejutkan! TPG TW 3 Non-ASN Lebih Cepat Cair daripada ASN, Ini Analisis Validasinya

Kawasan Pasar Raya Bima mengalami penyempitan akibat tumpukan lumpur dan sampah. Kepala DLH, M. Yusuf, mengakui hal tersebut menjadi salah satu penyebab utama banjir cepat meluap.

Selain itu, sungai-sungai kecil di kawasan timur kota juga mengalami pendangkalan akibat minimnya resapan air di daerah hulu.

Aktivitas pembangunan tanpa analisis lingkungan yang matang disebut memperparah kondisi ini.

Air hujan tidak sempat terserap ke tanah, langsung mengalir ke permukiman.

Baca Juga: Dinkes Depok Ingatkan Warga Jangan Jauhi Penderita TBC Demi Target Eliminasi 2030

Ahli lingkungan Universitas Mataram, Dr. Fathul Rahman, menjelaskan bahwa persoalan drainase tidak bisa diselesaikan dengan pembersihan sesaat.


Warga Minta Pemerintah Bertindak Nyata

Warga berharap pemerintah kota tidak hanya melakukan pembersihan pascabanjir, tapi juga memperbaiki sistem drainase secara menyeluruh.

Sejumlah komunitas lingkungan di Bima juga mulai menginisiasi gerakan bersih saluran air dan edukasi pengelolaan sampah rumah tangga.

Baca Juga: Dugaan PPPK Siluman di Kota Palu, Aji Kurniawan Minta Maaf Usai Pernyataan Viral

Kolaborasi antara warga, relawan, dan instansi teknis kini menjadi kunci utama untuk menekan risiko banjir berikutnya.


Langkah Pemerintah Evaluasi dan Rehabilitasi

Pemerintah Kota Bima mengumumkan rencana rehabilitasi drainase sepanjang 5,2 kilometer yang terbagi di tiga zona padat penduduk.

Proyek ini akan dimulai akhir November dan menargetkan saluran tersumbat di Jalan Pahlawan, Soekarno-Hatta, dan sekitar Pasar Raba.

Baca Juga: Dinkes Depok Ingatkan Warga Jangan Jauhi Penderita TBC Demi Target Eliminasi 2030

Kepala Bidang Tata Kota Bima, Rini Wulandari, menyebutkan dana sebesar Rp12 miliar disiapkan melalui APBD 2025.

Selain proyek fisik, pemerintah juga menyiapkan program sosialisasi Bima Bersih Drainase yang melibatkan sekolah dan kelompok masyarakat.


Peringatan BMKG Musim Hujan Masih Panjang

BMKG Wilayah Nusa Tenggara Barat memperingatkan bahwa potensi hujan tinggi di Bima masih akan terjadi hingga Desember.

Kepala BMKG Mataram, Dwikorita Wati, mengimbau warga agar tetap waspada terhadap potensi banjir susulan.

Baca Juga: Kampung Bahari Menuju Pembebasan Narkoba, Langkah Terstruktur untuk Wujudkan Wilayah Bebas P4GN

Banjir di Bima bukan semata persoalan cuaca ekstrem, tapi cermin tata kota yang perlu dibenahi.

Drainase yang mampet dan sungai dangkal adalah alarm bagi semua pihak bahwa pencegahan lebih penting daripada sekadar pembersihan setelah bencana.

Warga Bima berharap kali ini pemerintah tak hanya menunggu air surut tapi benar-benar menata kota agar banjir tidak lagi menjadi rutinitas tahunan.***