POJOKSATU.ID - Kawasan Kampung Bahari, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, sudah kerap digerebek aparat penegak hukum.

Namun, peredaran narkoba di wilayah itu tampaknya sulit dibasmi. Mengapa demikian?

Satu dari fakta terbaru, operasi gabungan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Berhasil menyita sekitar 89 kg sabu-sabu serta beberapa senjata api dalam penggerebekan di Kampung Bahari.

Baca Juga: Benyamin Davnie Lantik 856 PPPK Paruh Waktu di Tangsel, Ini Pesan Pentingnya

Namun, meski angka kejadian luar biasa, kawasan ini tetap aktif sebagai jalur peredaran dan konsumsi narkoba.

Kampung Bahari berada di pesisir utara Jakarta, dekat pelabuhan dan jalur logistik, yang secara geografis memberikan akses relatif mudah bagi jaringan.

Kombinasi lokasi padat penduduk, permukiman informal, serta mobilitas tinggi menciptakan peluang bagi sindikat.

Selain itu, laporan menyebut adanya lapak “apotek” narkoba yang tersebar dalam bedeng-bedeng sederhana di sekitar rel kereta api dan gang sempit.

Baca Juga: Krisis Akuifer dan Degradasi Ekologi, Saat Eksploitasi Air Tak Pahami Sains Alam

Kondisi sosial-ekonomi warga yang sebagian hidup di permukiman padat dengan tekanan ekonomi turut memupuk potensi menjadi pengguna atau kurir.

Pergeseran modus berjalan cepat di kawasan ini. Barang bukti yang ditemukan tak hanya narkoba.

Tetapi juga drone, CCTV, alat bong, dan senjata tajam yang digunakan untuk melawan petugas.

Sistem pengawasan internal dan solidaritas lokal membuat penggerebekan sulit sepenuhnya menutup aktivitas.

Meski angka penggerebekan narkoba meningkat tajam, langkah pemberantasan masih jauh dari kata tuntas.

Operasi besar yang digelar sepanjang 2025 memang menarik perhatian publik dan menunjukkan keseriusan aparat.

Namun, sebagian besar masih berhenti pada tindakan represif tanpa diikuti strategi jangka panjang.

Untuk membenahi akar persoalan sosial dan ekonomi di balik peredaran narkoba.

Baca Juga: Janji Kesejahteraan Guru PPPK Tak Terbukti, Forum Guru Sebut 'Omon-Omon Belaka'

Akibatnya, pemberantasan kerap terasa seperti “penyedotan sesaat”.

Membersihkan permukaan tanpa benar-benar mengubah struktur dan jaringan pendukung di lapangan.

Kondisi ini sangat terasa di kawasan Kampung Bahari, Jakarta Utara, yang selama ini dikenal sebagai titik rawan peredaran narkotika.

Warga di sana bukan hanya menjadi saksi dari aksi penggerebekan besar-besaran.

Baca Juga: Sukseskan Depok Literacy Fest 2025, Pemkot dan Katar Targetkan Edukasi Literasi Lewat Seni dan Budaya

Tetapi juga harus hidup dalam ketidakpastian lingkungan.

Keberadaan lapak narkoba yang tertanam di permukiman padat membuat rasa aman menurun dan menimbulkan stigma sosial yang sulit dihapus.

Banyak keluarga takut bersuara, sementara anak-anak tumbuh dalam bayang-bayang kekhawatiran dan keterbatasan ekonomi.

Permasalahan di wilayah ini tidak hanya berhenti pada aspek hukum.

Akar sesungguhnya terletak pada minimnya pemberdayaan masyarakat, lemahnya akses terhadap lapangan kerja.

Serta kurangnya dukungan sosial dan mental bagi warga yang pernah terjerat narkoba.

Tanpa adanya rehabilitasi yang menyentuh sisi kemanusiaan, operasi besar hanya akan berulang.

Sementara jaringan baru akan terus tumbuh menggantikan yang lama.

Untuk memutus rantai ini, diperlukan pendekatan yang lebih menyeluruh.

Baca Juga: Bupati Lobar Bongkar Mafia Honorer, Pemkab Buka Jalur Pengaduan Lewat WhatsApp

Pemerintah dan aparat keamanan perlu menggandeng lembaga sosial, komunitas lokal, dan dunia usaha.

Untuk menciptakan alternatif ekonomi yang legal dan berkelanjutan bagi warga di kawasan rawan.

Program rehabilitasi dan edukasi harus diperluas hingga menyentuh keluarga serta generasi muda.

Agar kesadaran kolektif terhadap bahaya narkoba tumbuh dari dalam lingkungan itu sendiri.

Baca Juga: Bupati Ponorogo Terjerat Skandal Mutasi ASN, KPK Bongkar Dugaan Jual Beli Jabatan di Pemda

Selain itu, infrastruktur permukiman perlu dibenahi.

Pencahayaan jalan, sistem keamanan lingkungan, dan fasilitas publik yang memadai akan mengurangi ruang gerak bagi aktivitas ilegal.

Penindakan hukum tetap penting, tetapi tanpa transformasi sosial dan ekonomi.

Kawasan seperti Kampung Bahari akan terus menjadi barometer kegagalan upaya pemberantasan narkoba di perkotaan.

Kunci keberhasilan ada pada perubahan ekosistem.

Ketika struktur sosial diperkuat, peluang ekonomi dibuka, dan jaringan distribusi narkoba diputus hingga ke sumber pendanaannya.

Maka harapan untuk menjadikan Kampung Bahari sebagai lingkungan yang bersih, aman, dan bermartabat.

Bukan lagi utopia, melainkan kenyataan yang bisa diwujudkan bersama.***