POJOKSATU.ID – Belakangan ini kasus kematian Muhammad Athaya Helmi Nasution (18) tengah ramai jadi sorotan publik.
Bagaimana tidak, hal ini terjadi lantaran mahasiswa Indonesia yang mengemban pendidikan di Belanda itu dikabarkan telah meninggal dunia.
Yang mana, meninggalnya Muhammad Athaya Helmi Nasution ini saat sedang dampingi pejabat RI di Austria.
Baca Juga: Polres Karawang Kawal Pembukaan Bupati Cup Hari Jadi Karawang ke-392
Berdasarkan informasi dihimpun, sejumlah pejabat itu disebut berasal dari DPR, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Bank Indonesia (BI).
Sebagaimana dikutip Pojoksatu.id dari akun Instagram Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Belanda @ppibelanda.
Dalam unggahannya, PPI Belanda mengonfirmasi bahwa pejabat yang didampingi korban tidak lain berasal dari ketiga instansi tersebut.
Baca Juga: PENGUMUMAN Kelulusan UKPPPG Guru Tertentu 2025 Tahap 2, Mahasiswa Belum Lulus Bisa Ujian Ulang
“Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya salah satu anggota kami, Muhammad Athaya Helmi Nasution,” jelasnya.
“Yang merupakan anggota PPI Groningen dalam rangka mendampingi sebuah kunjungan tertutup,” lanjutnya.
“Yang melibatkan pejabat publik (DPR, OJK dan Bank Indonesia) pada 25-27 Agustus 2025 di Wina, Austria,” terangnya.
Baca Juga: Suara dari NTT: Guru PAUD Butuh Beasiswa, Jangan Biarkan Mereka Berjuang Sendiri!
Namun, sampai saat ini, siapa saja pejabat yang terlibat dalam kunjungan kerja (kunker) ke Austira itu masih belum diketahui.
Kendati demikian, beredar informasi yang menyebutkan bahwa anggota DPR yang terlibat merupakan bagian dari Komisi XI.
Lebih lanjut, Athaya berakhir meninggal dunia disinyalir akibat kekurangan asupan nutrisi saat bekerja.
Baca Juga: Polisi Usut 20 Siswa di Tlanakan Pamekasan yang Keracunan usai Konsumsi Makan Gizi Gratis
Oleh karena itu, mahasiswa Indonesia yang mengemban pendidikan di Belanda tersebut mengalami stroke.
“Almarhum suspected seizure, kemungkinan besar mengalami heatstroke (sengatan panas) berkaitan dengan kurangnya cairan dan asupan nutrisi,” jelasnya.
“Serta kelelahan yang mengakibatkan electrolyte imbalances (ketidakseimbangan elektrolit) dan hypoglycemia (kadar gula darah turun di bawah kadar normal),” lanjutnya.
Baca Juga: CBN Papua Kembangkan Kurikulum Superfive untuk PAUD, Anak-Anak Bisa Belajar Lebih Kontekstual
“Hingga berujung pada stroke, setelah dari pagi hingga malam hari beraktivitas sebagai pemandu,” imbuh PPI Belanda.
Tidak heran, kasus ini sontak mendapat atensi penuh dari publik lantaran meninggalnya Athaya menimbulkan tanda tanya besar.
Ditambah, dirinya meninggal dunia bukan karena penyakit komorbid, melainkan kelelahan usai dampingi para pejabat DPR, OJK, dan BI.
Baca Juga: Kabar Gembira! Beasiswa S2–S3 Kemenag Kini Juga Terbuka untuk Lulusan Mahad Aly
“Pampang informasi lebih jelas tentang komisi mana yang berkunjung, siapa saja,” cuit akun @mali$#!.
“Ini gimana ceritanya kok bisa sampe heatstroke? Kondisi kerjanya kaya gimana? Ga dikasih konsumis kh selama bertugas?,” ketik @adam$#!.
“Ya ampun padahal baru 18 tahun, separah apa jadwal dan aktivitasnya sampe hipoglikemi + electrolyte imbalance. Harus diusut tuntas sih ini,” ketik @wdhd$#!. ***
Untuk mendapatkan artikel menarik dengan lebih cepat dan mudah bisa download aplikasi Pojoksatu.id untuk Android dan iOS dengan link di bawah ini:
Versi Android/ Versi iOS
Untuk mendapatkan artikel melalui saluran Whatsapp Pojoksatu.id atau Fanpage Edugov Pojoksatu.id bisa klik link di bawah ini:
Channel Whatsapp/ Fanpage Edugov



