POJOKSATU.id - Desakan agar Ahmad Sahroni mundur dari jabatannya di DPR RI semakin deras setelah pernyataannya yang dinilai melecehkan rakyat.
Bak pepatah 'Mulutmu, harimaumu', ucapan Ahmad Sahroni itu spontan memicu gelombang protes, kerusuhan, hingga pergeseran posisinya di parlemen.
Kini, bukan cuma rakyat saja yang menuntut si kumis tipis itu lengser keprabon.
Tapi juga komunitas penghobi motor gede, HDCI atau Harley Davidson Club Indonesia.
Sekedar informasi, anggota klub motor gede ini bukan orang sembarangan.
Mereka rata-rata adalah orang-orang yang memiliki jabatan, pengusaha, politisi, sampai orang berpangkat atau purnawirawan.
Nah, di klub HDCI itulah Ahmad Sahroni duduk sebagai Ketua Umum.
Awal Mulut Ngasal
Awal kontroversi ucapan si Sultan Tanjung Priok ini bermula pada 22 Agustus 2025.
Baca Juga: 12 Orang Dirawat Usai Aksi Demo di Karawang
Tepatnya saat Ahmad Sahroni menghadiri acara di Polda Sumatera Utara.
Saat itu ia ditanya wartawan soal demo tuntutan pembubaran DPR.
Bukannya menjawab dengan bijak, dia malah mengucap kalimat yang bikin rakyat jadi muak.
Dia menyebut, ide pembubaran DPR itu adalah ide yang datang dari 'mental orang tolol sedunia'.
Hasilnya, ucapan itu langsung viral, menuai kritik tajam, dan dianggap merendahkan rakyat.
Media sosial dipenuhi tagar bernada protes.
Sementara banyak aktivis menilai gaya bicara Sahroni jauh dari sikap seorang wakil rakyat.
Gelombang Protes Meluas
Setelah demo berjilid-jilid dari 25 Agustus 2025, puncaknya terjadi pada 30 Agustus 2025.
Baca Juga: Rumah Ketua DPR Puan Maharani Nyaris Dijarah Massa Minggu Dinihari, Pagar Tak Berhasil Ditumbang
Ribuan massa mendatangi rumah Sahroni di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Situasi berubah ricuh.
Rumah Ahmad Sahroni dilempari batu, mobil-mobil mewahnya dirusak bahkan dijarah, hingga uang dan koleksi pribadi ikut raib.
Peristiwa ini menegaskan betapa besar kemarahan publik.
Polisi sempat turun tangan, tetapi kerusuhan telanjur pecah.
Baca Juga: Makin Liar, Massa Sudah Menjarah Rumah Menkeu Sri Mulyani, Uya Kuya, Eko Patrio, Ahmad Sahroni
Bagi sebagian kalangan, ini bukan sekadar ekspresi spontan.
Melainkan bukti kekecewaan mendalam rakyat kepada wakilnya.
Aktivis dan Akademisi Mendesak Mundur
Aktivis Ardian Lohia menyebut ucapan Sahroni tak pantas dan melukai hati rakyat.
"Demo berjilid-jilid dimulai tanggal 25 Agustus hingga kini, imbas dari ulah DPR RI yang barbar dalam berucap, tak pandai menjaga etika publik," kata Ardian Lohia, di Jakarta, Sabtu (30/8/2025), dikutip Pojoksatu.id.
Ia menegaskan, mundur dari DPR adalah jalan terhormat bagi Sahroni.
"Para ketua partai memiliki jiwa kenegarawanan agar kader-kadernya yang membuat kegaduhan diberikan sangsi sosial mulai dari PAW dan pemecatan menjadi kader partai" tegas Ardian.
Baca Juga: Reformasi Solo
Sementara itu, peneliti politik Buni Yani berpendapat langkah terbaik Sahroni jangan lari dan kembali ke Indonesia.
Selanjutnya Ahmad Sahroni harus meminta maaf secara terbuka dan mundur dari Partai NasDem maupun DPR sebagai bentuk tanggung jawab moral.
Mutasi Jabatan di Tengah Tekanan
Di tengah meningkatnya desakan, Fraksi Nasdem DPR RI mengumumkan mutasi jabatan Ahmad Sahroni.
Baca Juga: Mengerikan, Rumah Menkeu Sri Mulyani di Bintaro Dijarah Massa Minggu Dinihari, Tivi Besar Dibawa
Ia dicopot dari posisi Wakil Ketua Komisi III DPR dan digeser menjadi anggota biasa di Komisi I DPR.
Partai NasDem menegaskan rotasi ini bagian dari penyegaran biasa.
Namun publik menilai langkah tersebut tak bisa dilepaskan dari gejolak politik yang menimpa Sahroni.
Banyak yang menganggap mutasi hanyalah strategi 'penyelamatan' sementara, bukan jawaban dari desakan mundur yang semakin besar.
Diam, Kabur dan Tak Meminta Maaf
Hingga kini artikel ini ditulis Pojoksatu.id pada Minggu 31 Agutus 2025 pagi pukul 10.00 WIB, Sahroni belum mengeluarkan permintaan maaf secara terbuka.
Akun media sosial pribadinya banjir komentar warganet.
Sebagian menuntut klarifikasi, sebagian lainnya menyindir gaya hidup mewah yang selama ini ia tunjukkan.
Saat ini, diduga Sahroni tengah berada di Singapura.
Baca Juga: Madrasah di DKI Jakarta Diminta Terapkan Pembelajaran Daring pada 1 September
Tapi mungkin dia lupa atau tak mau peduli bahwa kamera masyarakat sipil dimana-mana.
Kamera masyarakat sipil inilah yang bisa jadi CCTV seantero jagat.
Hingga istilah 'you can run but you can hide' bisa jadi tengah memenuhi isi kepala Sahroni.
Dampak Politik Lebih Luas
Kontroversi Sahroni menjadi cermin rapuhnya kepercayaan publik pada DPR.
Baca Juga: Presiden Bertindak, DPR DIBUBARKAN, Terjadi Dua Kali dalam Sejarah Indonesia, Apa Penyebabnya?
Protes yang awalnya berawal dari ucapan seorang legislator, kini melebar menjadi isu besar.
Tentang representasi rakyat, etika pejabat publik, hingga akuntabilitas partai politik.
Bila desakan mundur terus menguat, tak menutup kemungkinan ini menjadi preseden penting.
Bahwa anggota dewan yang didorong mundur oleh tekanan publik, bukan semata keputusan internal partai.
Apa selanjutnya?
Publik menanti apakah Partai NasDem akan mengambil sikap lebih tegas?
Apakah DPR akan memproses melalui mekanisme etik?
Atau justru Sahroni sendiri yang akhirnya memutuskan mundur?
Ahmad Sahroni Ketua Umum yang Arogan
Desakan kepada Ahmad Sahroni untuk secepatnya angkat kaki dari DPR RI ternyata bukan saja disuarakan rakyat.
Desakan serupa ternyata juga ditunjukkan anggota HDCI yang menuntut Ahmad Sahroni hengkang dari kursi Ketua Umum.
Salah satunya seperti yang disuarakan pemilik akun Instagram @cakdicka_234towing.
"Saya member HDCI menuntut supaya ketua umum A. Sahroni ahmadsahroni88 @ahmadsahronicenter_official @ahmadsahronicenter mundur sebagai Ketua Umum HDCI Indonesia," tulisnya dikutip Pojoksatu.id.
Ada beberapa penyebab dan pemantik kemarahannya.
Baca Juga: Rumah Eko Patrio Turut Dijarah Massa, Kulkas hingga Dispenser Tak Luput dari Sasaran!
"Karena menggunakan baju berlogo HDCI pada saat mengeluarkan statement TOLOL kepada masyarakat Indonesia," lanjutnya membeberkan alasan pertama.
Akun tersebut juga tak segan-segan membalas mulutmu harimaumu Sahroni.
"Karena sebenernya kamu lah yg Tolol sebagai ketua umum efek gak pernah Touring mohon kiranya," sambung dia.
Unggahan akun tersebut pun mendapat dukungan melalui kolom komentar.
"peluruh pengcab dan pengda dapat mengambil sikap pro masyarakat dengan menerbitkan Petisi dan mosi tidak percaya kepada ketua Umum yg arogan," desaknya.
Jadi, kalau sudah begini Ahmad Sahroni, Partai Nasdem dan DPR mau apa?***
Agar lebih mudah mendapatkan artikel Pojoksatu.id bisa unduh Apss:
Ikuti juga update artikel kami melalui Channel Whatsapp
Khusus informasi terkait dunia pendidikan, PPG, tunjangan dan seputar ASN, klik:
Channel Whatsapp khusus INFO PPG TUNJANGAN ASN dan PENDIDIKAN




