POJOKSATU.id — Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, merespons serius polemik Jembatan Haji Endang atau Jembatan Rumambe di Kabupaten Karawang yang kini terancam dibongkar oleh pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum karena dianggap tidak memiliki izin resmi.

Dedi berencana turun langsung ke lokasi dalam pekan ini untuk memastikan duduk perkara yang sesungguhnya di lapangan. Menurutnya, peninjauan tersebut penting agar bisa mencari solusi tepat bagi masyarakat Karawang yang menggantungkan mobilitasnya pada jembatan tersebut.

"Jembatan Haji Endang, minggu ini akan saya tengok apa sih masalah yang sebenarnya," ujarnya seusai menghadiri sebuah acara di Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (5/5/2025) malam.

Jembatan yang dibangun atas inisiatif pribadi Haji Endang ini telah menjadi akses penting bagi masyarakat, terutama bagi para pekerja yang setiap hari beraktivitas di kawasan industri Karawang.

Baca Juga: Antara Cuan dan Aturan: Drama Jembatan Haji Endang yang Bikin BBWS Citarum Geram Setelah 15 Tahun Berdiri, Kenapa Baru Sekarang? Siapa yang Salah?

Namun, keberadaan jembatan tersebut kini digugat karena dianggap tidak sesuai ketentuan teknis dan regulasi. Padahal sudah 15 tahun dipakai warga seberangi Sungai Citarum.

Tidak Memenuhi Standar Keselamatan

Kepala BBWS Citarum, Dian Al Ma’ruf, menjelaskan bahwa konstruksi Jembatan Haji Endang tidak memenuhi standar keselamatan.

Ia menyoroti bahwa dari perspektif teknik sipil, desain jembatan tersebut tidak bisa dikategorikan sebagai struktur yang aman untuk kendaraan.

"Saya dari ilmu teknik sipil, yang saya tahu teknis jembatan itu bukan seperti itu," katanya.

Dian menambahkan, kondisi jembatan saat ini dikhawatirkan membahayakan keselamatan pengguna jalan karena tak memenuhi standar yang berlaku.

Baca Juga: Warga Cirebon Desak BBWS Tertibkan Bangunan Liar di Sepadan Sungai: Ancaman Banjir dan Kerusakan Lingkungan Mengintai

Tak hanya itu, ia juga menyebut bahwa di wilayah Karawang ada setidaknya 11 jembatan lain yang dibuat dengan model serupa.

"Jika dibiarkan, saya khawatir jembatan serupa akan terus bermunculan," tuturnya.

Sebagai langkah awal penertiban, BBWS Citarum telah memasang spanduk peringatan di lokasi jembatan tersebut.

Baca Juga: Jembatan Bambu Pantai Carita Dibongkar, Terduga Pelaku Pungli Diamankan Pihak Berwajib

Langkah itu disebut sebagai bentuk penegakan aturan agar pembangunan infrastruktur tetap sesuai prosedur dan aman bagi masyarakat.

Awal Mulanya Jembatan Haji Endang

Berdiri di atas aliran Sungai Citarum, jembatan ini menjadi penghubung vital antara Desa Anggadita di Kecamatan Klari dan Desa Parungmulya di Kecamatan Ciampel—dua wilayah yang dulunya terpisah karena sungai besar yang sulit diseberangi.

Ceritanya bermula pada tahun 2010. Saat itu, seorang tokoh masyarakat mendekati Muhammad Endang Junaedi, seorang pengusaha lokal yang dikenal luas dengan sapaan Haji Endang.

Ia diminta untuk membangun sebuah jembatan yang bisa mempermudah pergerakan warga dari dua desa tersebut. Tanpa banyak pertimbangan, Haji Endang mengiyakan permintaan itu.

Tapi yang ia bangun bukan sekadar jembatan biasa. Ia menyusun 11 ponton besi memanjang, menutupinya dengan alas kokoh, hingga membentuk jembatan unik yang menyerupai jembatan terapung—namun jauh lebih stabil dan kuat untuk dilalui kendaraan.

Ribuan kendaraan melintas di sana setiap harinya.

Meski sempat diragukan banyak pihak, Haji Endang tetap melanjutkan proyek itu dengan modal hasil pinjaman bank, yang akhirnya menghabiskan biaya sekitar Rp 5 miliar.

Baca Juga: Bupati Karawang Gelontorkan Rp 1,3 Miliar untuk Dukung TMMD di Mekarasih

Sempat Karam dan Bisa Beli Pajero Sport

Perjalanan membangun jembatan ini tak selalu mulus.

Pada 2014, jembatan sempat karam lantaran masih menggunakan perahu berbahan kayu.

Namun bukannya mundur, Haji Endang justru mengganti seluruh struktur dasarnya dengan ponton besi, agar lebih kokoh dan tahan lama.

Kini, Jembatan Haji Endang dilintasi kendaraan hingga ribuan setiap hari.

Dengan tarif hanya Rp 2.000, jembatan itu mampu menghasilkan omzet harian hingga Rp 25 juta.

Konon, salah satu kisah yang paling dikenang dari jembatan ini adalah ketika Haji Endang membelikan istrinya sebuah mobil Pajero Sport seharga Rp 133 juta, yang dibeli hanya dengan uang koin hasil penarikan jembatan selama empat bulan.

Baca Juga: Kang Dedi Mulyadi, Tegaskan Lagi Soal WISUDA BERBAYAR, HARUS Hentikan Pungutan TAK WAJAR, DOWNLOAD Surat Edaran RESMI, Terbaru Ada 9 Gerakan Sekolah

Cerita ini menyebar di masyarakat dan dinilai sebagai keberhasilan dari dedikasi Haji Endang yang memiliki niat baik membantu orang lain. ***