POJOKSATU.id, JAKARTA — Sultan atau Raja Kesultanan Siak, Sultan Syarif Kasim II pernah sumbang Rp 1 triliun pada pemerintahan Soekarno tahun 1946 lalu.
Sultan Syarif Kasim II merupakan raja ke-12 Kesultanan Siak, Riau, yang menyumbang uang Rp 13 juta gulden pada awal RI berdiri.
Tidak saja menyumbang uang Rp 13 juta gulden, Sultan Syarif Kasim II juga menyerahkan mahkota berlian miliknya, serta pedang, keris dan harta-harta bernilai lainnya kepada pemerintah RI.
Dia dinobatkan sebagai sultan pada umur 21 tahun menggantikan ayahnya Sultan Syarif Hasyim.
Sultan Syarif Kasim II merupakan raja kelahiran 1 Desember 1893 dan meninggal pada 23 April 1968 di Siak Riau.
Sultan Riau ini merupakan seorang pendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pemerintah memberi gelar Pahlawan Nasional melalui Keppres No 109/TK/1998, pada 6 November 1998 untuk Sultan Syarif Kasim II.
Pemerintah juga memberi tanda jasa Bintang Mahaputra Adipradana pada Sultan Syarif Kasim II.
Sultan Syarif Kasim II naik tahta pada 13 Maret 1915 di usia 21 tahun untuk menggantikan ayahnya yang wafat tahun 1908.
Baca Juga: Sada Sumut FC Siap Turunkan Dua Pemain Asing asal Uzbekistan untuk Jajal PSMS Medan
Ia memiliki darah Arab yang mengalir ditubuhnya, perawakannya tegap, gagah, rapi, berkharisma.
Dihimpun dari berbagai sumber, konon kabarnya Ratu Belanda, Ratu Wilhelmina, pernah jatuh cinta pada Sultan Sultan Syarif Kasim II, penguasa dari kerajaan Siak di Riau.
Awal pertemuan mereka, saat sang ratu berkunjung ke Istana Siak Sri Indrapura. Pada momen Sultan menjabat, pada saat itulah Ratu Wilhelmina jatuh hati pada Sultan Syarif Kasim II.
Pada tahun 1946, tidak lama setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, dia menyatakan Kesultanan Siak sebagai bagian wilayah Indonesia.
Baca Juga: Iseng-iseng Berhadiah, Pemuda di Bandung Nekat Begal Payudara Siswi SMA
Dan dia menyumbang harta kekayaannya sejumlah 13 juta gulden untuk pemerintah republik.
Jumlah tersebut setara dengan 120,1 juta dolar AS atau jika dirupiahkan nilainya mencapai lebih dari Rp 1,074 triliun.
Bersama Sultan Serdang, Sumut, dia juga berusaha membujuk raja-raja di Sumatra Timur lainnya untuk turut memihak republik.
Melansir dari laman dinsos.riau.go.id, setelah mendengar berita kekalahan Jepang yang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945 yang kemudian diikuti dengan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, Sultan Syarif Kasim II yang dikenal antikolonialisme langsung mengibarkan Bendera Merah Putih di depan Istana Siak.
Baca Juga: Hasil Hongkong Open 2023: Pembunuh Raksasa Itu Akhirnya Bertekuk Lutut di Hadapan Jojo
Dan pada tahun 1946, Sultan Syarif Kasim II memutuskan untuk menemui Presiden Pertama RI Soekarno.
Sesampainya di Jawa dan bertemu dengan Bung Karno, Sultan Syarif Kasim II menyatakan bahwa kesultanan Siak Sri Indrapura merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pernyataan tersebut disertai dengan penyerahan mahkota kesultanan dan menyumbangkan 13 juta gulden kepada Pemerintah RI.
Sultan Syarif Kasim II menyerahkan mahkota berlian miliknya, serta pedang keris dan harta-harta bernilai lainnya kepada pemerintah RI.
Selain menyerahkan uang dan benda-benda simbolis, Sultan Syarif Kasim II juga menyerahkan seluruh wilayah kerajaan untuk bergabung di bawah pemerintahan NKRI.
Wilayah tersebut di antaranya Sumatera Timur, meliputi Kerajaan Melayu Deli, Serdang, Bedagai hingga Provinsi Riau dan Kepulauan Riau saat ini.
Pada 2016, Pemerintah Kabupaten Siak membangun sebuah tugu yang didedikasikan untuk Sultan Syarif Kasim II berkat jasanya kepada Indonesia.
Tugu tersebut dinamai Tugu Penyerahan Kesultanan Siak kepada Republik Indonesia, dan peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Jusuf Kalla, yang saat itu masih menjabat sebagai Wakil Presiden RI.
Baca Juga: Jimin Support V BTS di Music Bank, Pesan di Album Layover untuk Sang Soulmate Bikin Mewek
Loyalitas sang Sultan memang patut dikenang dan menjadi teladan, Sultan Syarif Kasim II rela menjadi warga biasa dengan menyerahkan takhta untuk mendukung NKRI.
Bergabung Resimen Rencong Aceh
Melansir dari Teras.id, perjuangan Sultan Syarif Kasim II tidak hanya di tanah Riau saja, tetapi juga sampai di Aceh.
Sultan Syarif Kasim II pernah menjadi anggota resimen dengan pangkat Kolonel tergabung dalam resimen Rencong di Kesultanan Aceh.
Sejarawan Riau, OK Nizami Jamil, mengatakan, saat berjuang di Aceh, Sultan Syarif Kasim II juga turut menyumbangkan hartanya untuk membeli pesawat Seulawah, pesawat pertama milik RI.***




