POJOKSATU.id - Pengakuan mengejutkan datang dari eks wali santri Al Zaytun yang juga eks anggota NII Al Zaytun.
Lenny Siregar pun blak-blakan tentang doktrin Panji Gumilang dan ajaran yang diterapkan selama ini.
Salah satunya adalah ajaran perbudakan yang tidak bisa ditentang.
Baca Juga: Cek Tahapan Pengadaan PPPK 2023, Pendaftaran P3K Dibuka September
Pasalnya, doktrin-doktrin Panji Gumilang sudah sangat tertanam pada santri dan wali santri.
"Saya perhatikan dengan perbudakan yang tidak mau mereka sadari. Kalau pun mereka menyadari, mereka tetap masih bertahan di sana," kata Lenny dikutip Pojoksatu.id di akun youtube MetroTV, Jumat 21 Juli 2023.
Doktrin yang begitu kuat itulah yang menjadi alasan para wali santri yang tergabung di NII Al Zaytun tidak bisa melawan dan keluar dari lingkaran jahat Panji Gumilang.
Baca Juga: Jalan KH. Dewantara Ciputat Ditutup 5 Bulan, Ini Rute dan Rekayasa Lalu Lintas Lengkap
"Karena doktrinnya itu, harus tunduk dan patuh kepada pimpinan. Dan tidak ada lagi negara yang hak selain NII," ujarnya.
Selama menjadi anggota NII di Al Zaytun, Lenny juga mengaku wali santri yang sudah terdoktrin itu diwajibkan berinfak hingga Rp300 juta per orang.
Dibeberkan Lenny, infak ratusan juta itu tujuannya untuk keperluan organisasis dan operasionalnya.
"Dan untuk mengejar target infak. Yang terakhir itu Rp300 juta per orang. Tapi diluar Rp300 juta itu masih ada yang lain," ujarnya.
"Misalnya untuk harokah atau gerakan dan biaya sajadah. Jadi, itu betul-betul diperas. Di pikiran mereka itu uang, uang, uang," kata dia.
Parahnya lagi, lanjut Lenny, uang yang dimintakan para pengurus pesantren Al Zaytun dan yang tergabung di NII, kebanyakan dipergunakan untuk kebutuhan membeli rumah, mobil dan lain-lainnya.
Baca Juga: Dibongkar Krishna Murti, Penjualan Ginjal Ternyata Libatkan Rumah Sakit Pemerintah Kamboja
Namun ajaran ini tidak bisa ditentang oleh para wali santri yang turut bergabung dalam organisasi NII.
"Dengan mereka mempunyai yayasan sosial itu mereka lebih nyaman,"
"Mungkin karena dari fee yang mereka dapatkan itu bisa memenuhi kebutuhan keluarga mereka sampai mereka bisa beli rumah, mobil, dan lainnya," ujarnya.
Baca Juga: Disdikpora Karawang Larang SD Negeri Jual Buku ke Siswa
Sebelumnya, Panji Gumilang kembali berulah dengan kontroversialnya.
Pimpinan Pondok Pesantren Al Zaytun itu kali ini mengundang salah satu aktivis Yahudi, Monique Rijkers di acara perayaan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1445 Hijiriah.
Pidato aktivis Yahudi itu diunggah di akun youtube Al Zaytun Official.
Baca Juga: Gaji PNS Naik 2024, PPPK Dapat Uang Pensiun, Diatur Dalam RUU ASN
Dalam pidatonya itu Monique Rijkers menyampaikan banyak terimakasih kepada Panji Gumilang selaku pimpinan Ponpes Al Zaytun.
"Salam damai buat Syeik Panji Gumalang. Dan salam damai buat keluarga Al Zaytun. Terimakasih sudah mengundang saya," kata Monique Rijkers dikutip pojoksatu.id dari akun youtube Al Zaytun Official, Kamis 20 Juli 2023.
Monique Rijkers mengaku senang telah diundang oleh Panji Gumilang.
Baca Juga: Bikin Emosi Tingkat Dewa! Ini Orang-orang Penerima Ginjal Hasil TPPO dari 122 Warga Indonesia
Bahkan membuat dirinya terharu, dia datang ke acara 1 Muharram menggunakan baju berbendera Yahudi.
"Terimakasih Syeik Panji Gumilang telah membolehkan saya datang kesini menggukan baju Bintang Daud (logo bendera Yahudi)," tuturnya disambut tepuk tangan.
Rijkers juga menceritakan saat dirinya datang ke kota Yesus dan ke kota kelahiran Daut.
Baca Juga: Anda Dijamin Emosi! Ini Peran Oknum Polisi dan Petugas Imigrasi dalam Penjualan Ginjal di Kamboja
Dirinya pernah ditegur saat menggunakan baju berlogo Bintang Daud itu.
Namun berbeda halnya di Al Zaytun. Ia justru diperbolehkan menggunakan baju berlogo bendera Israel.
"Pada bulan Maret saya datang ke kota kelahiran Yesus dan ke kota kelahiran Raja Daud saya ditegur menggunakan baju Bintang Daud."
Baca Juga: Menkes Ngeluh Formasi PPPK Nakes 2023 Disiapkan, Pemda Malah Ajukan Formasi P3K Teknis
"Tetapi di sini saya bisa masuk dengan baju Bintang Daud. Terimakasih," ujarnya.
Reporter: Firdausi




