Oleh: Dahlan Iskan

Saya harus mampir Singapura. Dari Xiamen. "Tidak tengok Pak Luhut," tanya dokter Disway Agus Fahruddin.

Saya pun jadi kepikiran. Iya ya. Siapa tahu dokter mengizinkan. Siapa tahu Pak Luhutnya sendiri mau menerima.

Nasib baik.

Baca Juga: Jadwal Siaran Langsung Bola 8-9 November: Persib vs Arema, Copenhagen vs Man United, Madrid vs Braga

Saya bisa besuk pukul 18.00. Kemarin petang.

Saya pun kontak Meiling: bisakah mengantar ke rumah sakit. Dia datang bersama Daniel, suaminyi. Pakai mobil ehm itu.

Saya tidak memberi tahu bahwa yang akan saya besuk adalah Menko Marves.

Baca Juga: Pengamat Politik UIN Ciputat : Jokowi Kerahkan Semua Sumber Daya Menangkan Anaknya

Jenderal bintang empat, orang kepercayaan Presiden Jokowi, tokoh serba bisa: Luhut Binsar Pandjaitan.

Meiling juga tidak bertanya. Dia tipikal orang Barat. Tidak banyak tanya soal pribadi.

Saya tahu jam itu Robert Lai lagi sibuk dengan Dorothy, istrinya. Mereka ke dokter di jam yang sama.

Baca Juga: Dapat Foto Gunawan Dwi Cahyo Selingkuh, Okie Agustina Ingat Firasat Buruk Wirang Birawa soal Pernikahannya

Saya mencegahnya memaksa menjemput. Kan ada Meiling.

Masih ada waktu satu jam. Saya dibawa ke kampung Arab. Makan paha kambing panggang. Roti maryam. Teh tarik.

Restonya persis di seberang Masjid Sultan –berkapasitas 5000 orang.

Dulunya istana Singapura di sebelah masjid itu. Boleh dikata inilah 'kota bisnis' pertama Singapura di masa lalu.

Sebelum belakangan bergeser ke Orchard Road.

Di rumah sakit saya dijemput dokter Pak Luhut di lobi. Tinggi. Ganteng. Muda. Badan langsing berotot. Dari Jakarta. Alumni UKI. Ahli fisioterapi.

Baca Juga: Tidak Saja Dicopot dari Ketua MK, PP Muhammadiyah Minta Anwar Usman Mundur dari Hakim Konstitusi

Saya tidak punya kartu pembuka penyekat lobi. Maka harus ada yang menjemput.

Untuk naik ke lantai 8. Di lobi saya tidak bertemu orang Indonesia satu pun.

Beda dengan di RS Mount Elizabeth. Tidak sengaja tertabrak pun pasti itu orang Indonesia.

Baca Juga: Anak Stunting di Karawang Dapat Bantuan Telur

Saya hafal rumah sakit ini: pernah dirawat di sini satu minggu. Sekitar 17 tahun lalu.

Waktu itu saya baru selesai operasi transplantasi hati di Tianjin. Berhasil.

Dalam perjalanan pulang saya diminta periksa dulu di rumah sakit ini.

Baca Juga: Lima Kesalahan Anwar Usman Sehingga Dicopot dari Ketua MK, Anwar Terbukti Dipengaruhi Pihak Luar

Akan dicek apakah transplant-nya berhasil bagus. Yang meminta begitu Madam Hoching, istri perdana menteri Singapura.

Dia pula yang menanggung segalanya.

Hasilnya: bagus. Saya boleh pulang ke Indonesia.

Masuk kamar Pak Luhut saya kaget: beliau tampak sudah sehat.

Wajahnya merona. Tawanya lebar. Jalannya tidak tertatih.

Saya pelototi wajahnya: normal sekali, seperti sebelum sakit.

Baca Juga: Berharap Tidak Ada Cawe-cawe, Kubu Ganjar-Mahfud MD Tanggapi Pencopotan Anwar Usman dari Ketua MK

Hanya rambutnya yang berubah: memutih. Itu karena tidak dihitamkan lagi.

Putrinya, Paulina Uli Pandjaitan, ada di situ. "Sejak hari pertama," kata Paulina.

"Waktu Bapak presiden ke sini saya belum bisa berjalan," ujar Luhut.

Baca Juga: Pasca UU ASN, Dirjen Nunuk Buka Suara Soal Honorer dan Pemenuhan Guru, Gagas Solusi Ruang Talenta untuk Guru

"Hari ini saya sudah bisa berjalan 1 km," tambahnya.

Sudah tidak ada selang infus di lengannya.

"Perkembangan tiga hari terakhir seperti sebuah lompatan," kata Uli, panggilan Paulina sehari-hari.

Baca Juga: Hasil Korea Masters 2023: Debut Manis Rahmat Kevin, Alwi Farhan Hajar Dua Tunggal Putra Taiwan

"Ya kan, dokter?' kata Uli sambil menoleh ke dua dokter asal Indonesia di kamar itu.

Kami pun ngobrol di sofa. Saya duduk di kursi tempat Presiden Jokowi duduk tiga hari sebelumnya.

Dari sofa ini terlihat tempat tidur pasien. Penyekatnya tidak ditutup.

Setelah sejenak ngobrol soal kesehatan Pak Luhut menyinggung soal politik. Saya tertegun-tegun.

"Sudah boleh ngomong politik seperti itu?" sela saya sambil menengok ke putrinya.

"Boleh. Itu kan hiburan bagi Papa," ujar Uli.

Baca Juga: 42 Teroris Ditangkap Mau Gagalkan Pemilu 2024, Mantan Teroris Ini Wanti-wanti Polri Agar Waspada

Kami pun tertawa lebar.

Luhut pun meneruskan ceritanya.

Saya pun meneruskan mendengarkannya.

Baca Juga: Deklarasi Dukung Ganjar-Mahfud, Relawan BeraGAMA Targetkan 51 Persen Lebih Suara di Jabar

Lalu Luhut minta disambungkan telepon ke seseorang. Rupanya ia ingat sesuatu: kelapa sawit.

Ia lagi menertibkan perkelapasawitan. Ia tanyakan sudah seberapa maju langkah baru itu.

"Pokoknya di tangan orang Madura sawit harus beres. Kan kau tidak bisa disogok," katanya.

Baca Juga: Beda Pendapat dengan Ketua Jimly, Anggota MKMK Ini Malah Ingin Anwar Usman Ditendang dari MK

Rupanya staf yang ditelepon itu berasal dari Madura.

Selesai telepon itu pembicaraannya balik ke politik lagi.

Saya mendengarkan lagi --sambil sesekali menengok sang putri.

"Go a head," kata sang putri lirih.

Pak Luhut pun ingat program satunya lagi: rumput laut. Di Bali dan Lombok. Yakni rumput laut sebagai sumber pembuatan pupuk.

Tidak kepalang tanggung. Dari hulu sampai hilir. Dari menggalakkan tanaman rumput laut, processing-nya sampai pabrik pupuknya.

Baca Juga: Selain Dipecat, Anwar Usman Juga Tak Berhak Dicalonkan Lagi Pimpinan MK, Ini Daftar Sanksinya

Dalam pembicaraan telepon itu kadang suaranya mengeras. Terutama kalau lagi mengejar perkembangan program.

"Tuh, sudah kembali marah-marah," kata saya lirih sambil menengok ke sang putri.

"Bapak kelihatannya sudah sembuh ya?" tanya yang dimarahi di telepon itu.

Baca Juga: Kisah Perjuangan Abdoel Moeis Hassan, Pahlawan Asal Samarinda yang Berjuang Melalui Diplomasi

"Kalau untuk tempeleng kau saja sudah bisa hahaha," jawabnya.

"Kami kangen. Kapan Bapak kembali ke Jakarta?" tanya yang di Jakarta.

"Kalian ke sini saja," jawab Pak Luhut.

Baca Juga: Catat Ya! Janji Prabowo Jika Terpilih Jadi Presiden Bakal Beri Makanan dan Susu Gratis ke Anak Indonesia

Kelihatannya minggu depan Pak Luhut sudah bisa meninggalkan rumah sakit.

Mungkin masih di Singapura dulu. Banyak apartemen yang bisa disewa di sana.

Saya mencoba akan pamit. Tidak baik besuk orang sakit lama-lama. Saya lirik jam. Sudah lebih 30 menit.

"Makan bersama dulu," kata Pak Luhut.

"Iya. Ini makanannya datang," ujar sang Putri.

Meja makan pun ditarik ke depan sofa. Sang Putri mengambil dua piring.

Baca Juga: Manajemen PSMS Medan Beberkan Alasan Merekrut Jose Valencia dan Kim Ki Su untuk Putaran II

Tiap piring berisi nasi goreng ala Jepang dan sayur selada segar lima lembar.

Lalu ada satu piring besar berisi daging wagyu. Diiris-iris tipis. Banyak sekali. Memenuhi piring besar.

Saya pun menengok ke Uli: "Lho, boleh makan daging?" tanya saya.

Baca Juga: Ayah David Ozora Tiba-tiba Datangi Istana Kepresidenan, Begini Pengakuannya

"Boleh. Makan apa saja boleh," katanyi.

Saya pun ambil wagyu-nya. Agak banyak. Maksud saya: agar beliau kebagian sedikit saja. Dan lagi, haha, ini kan daging wagyu. Kapan lagi.

Sambil makan, Pak Luhut masih telepon anak buahnya lagi. Minta laporan perkembangan pekerjaan.

Baca Juga: Menghormati Jasa Para Pejuang, Inilah Pedoman Pelaksanaan Peringatan Hari Pahlawan 10 November 2023

Yakni perlunya Indonesia punya rumah sakit seperti ini. Lalu bicara politik lagi.

Saya pun ikut memberi masukan. Sedikit. Membangun rumah sakit tidak sulit. Dokter kita juga tidak kalah pintar.

Yang lebih perlu dibangun adalah budaya tim dokter.

"Secara individu dokter kita hebat. Tapi kita perlu punya ratusan tim dokter yang andal. Membangun tim tidak mudah. Harus ditemukan caranya".

Tentu masukan itu saya pinjam dari pendapat Ketua IDI Surabaya: Dr dr Brahmana. Ahli kanker kandungan.

Itu dijelaskan di podcast saya saat di RS Premier Surabaya.

Baca Juga: Elektabilitas Prabowo dan Gibran Semakin Menurun Inilah Bukti Rakyat Indonesia Sangat Kecewa

Saya pun melirik jam dinding. Sudah satu jam lebih.

Pak Luhut masih sangat bersemangat. Saya tidak boleh terpancing.

Pak Luhut tidak boleh terlalu excited. Belum boleh.

Baca Juga: Rahasia Terungkap! Ini Dampak Makan Pada Jam 10 Malam untuk Kesehatan Tubuh

Saya masih harus bertahan. Pak Luhut ingin memeragakan salah satu latihan penyembuhannya: bagaimana cara duduk di sofa rendah yang harus ia lakukan.

Bagi orang yang beruntung karena badannya pendek tidak perlu ini: jarak pantat dan sofa sudah dekat.

Tapi orang setinggi Pak Luhut otot pahanya harus kuat. Agar proses duduknya tidak mengentak.

Baca Juga: Melindungi Kesehatan Tubuh dengan Daun Jambu Biji, 10 Manfaat yang Wajib Kamu Coba!

Pak Luhut pun duduk dengan cara yang benar. Otot pahanya yang bekerja. Kuat.

Ia duduk perlahan. Test otot paha. Bagus. Harus mengandalkan otot paha. Bukan mengandalkan tebalnya pantat.

Saya pun memaksa pamit.

Meiling sudah kembali menunggu di parkiran. Sudah saatnya makan durian.***