POJOKSATU.id, JEMBER – Musim kemarau panjang membawa dampak serius di wilayah Kabupaten Jember. 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember bersama tim gabungan nyaris setiap hari harus berjibaku memadamkan amukan si jago merah yang melahap kawasan hutan dan lahan terbuka.

Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Jember, tercatat sudah ada 76 kejadian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi sejak awal Juni hingga 24 September 2026.

Baca Juga: Lahan Bambu Milik Perusahaan di Jember Hangus Dilahap Api, BPBD Ingatkan Bahaya Puntung Rokok

Kepala BPBD Kabupaten Jember, Edy Budi Susilo, membeberkan rincian dari puluhan insiden tersebut. 

Dari total 76 kasus, sebanyak 10 di antaranya merupakan kebakaran hutan, sementara 66 kejadian sisanya melahap area lahan kering. 

Ia menyebutkan, lonjakan intensitas api paling parah dirasakan saat memasuki bulan Agustus dan September.

Baca Juga: Jember Dilanda Kemarau Panjang, Puluhan KK di Antirogo Bergantung pada Pasokan Air Bersih BPBD

"Sejak bulan Agustus, intensitas kebakaran lahan dan hutan semakin meningkat. Memasuki September, kondisinya semakin luar biasa, hampir setiap hari kami melaksanakan kegiatan pemadaman titik api baik di lahan maupun kawasan hutan," ungkap Edy.

Lantas, apa biang kerok dari puluhan kebakaran ini? 

Secara tidak langsung, Edy mengakui bahwa pihaknya cukup kesulitan untuk memastikan dalang atau penyebab pasti di balik setiap insiden Karhutla. 

Baca Juga: Ratusan Bencana Landa Jember Sepanjang 2026, BPBD Kini Fokus Hadapi Ancaman Kekeringan dan Karhutla

Pasalnya, laporan dari masyarakat sering kali baru masuk ketika kobaran api sudah terlanjur membesar.

Namun, dari hasil identifikasi sementara di lapangan, mayoritas kebakaran diduga kuat dipicu oleh kelalaian akibat aktivitas manusia.

Beberapa temuan menunjukkan adanya sisa pembakaran lahan tebu, pembakaran semak belukar, hingga api yang menyambar kawasan barongan bambu.

Bahkan, untuk kasus di kawasan pegunungan Puger Wetan, kebakaran diduga dipicu oleh hal sepele yakni kelalaian pemancing yang membuang puntung rokok sembarangan di area bervegetasi kering.

"Memang sejauh ini cukup sulit untuk mengidentifikasi penyebab kebakaran, karena laporan masuk setelah kejadian berlangsung. Sehingga hanya dugaan-dugaan saja," terang Edy.

Baca Juga: Jember Diterjang 5 Kali Gempa Sejak Awal 2026, Kepala BPBD Minta Warga Tingkatkan Kewaspadaan

Lantaran pelakunya sulit dilacak, BPBD saat ini tak mau ambil pusing mencari kambing hitam dan lebih memilih fokus pada upaya taktis. 

Prioritas utamanya adalah memadamkan api secepat mungkin dan melakukan pencegahan agar rambatan api tak menjilat area permukiman warga.

Dalam aksinya di lapangan, BPBD Jember tidak bekerja sendirian, di mana pemadaman melibatkan tim gabungan ekstra solid yang terdiri dari Relawan, unsur TNI, Polri, hingga armada Pemadam Kebakaran (Damkar). 

Baca Juga: Tekan Risiko Kebakaran, Pemkab dan DPRD Jember Sepakati Tambahan 2 Armada Damkar

Kolaborasi lintas sektor ini menjadi harga mati mengingat api sangat cepat menjalar di lahan yang kering kerontang.

Melihat ancaman yang masih mengintai, Edy mewanti-wanti seluruh lapisan masyarakat Jember untuk ekstra waspada. 

Warga diimbau keras agar tidak meninggalkan sisa pembakaran sampah atau lahan dalam kondisi masih menyala.

Baca Juga: Datangi Kemensos, Pemkab Jember Kebut Penyaluran 9 Ribu Kuota Bansos dan Bantuan Kaki Palsu

"Kami belum dapat memastikan siapa pelaku yang membuang puntung rokok maupun yang membakar lahan hingga tidak terkendali. Namun, kesadaran masyarakat sangat penting untuk menekan potensi munculnya titik api baru," tegasnya. ***