POJOKSATU.ID - Harapan baru untuk meredakan ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai terlihat.
Kedua negara dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk kembali menggelar putaran kedua negosiasi dalam waktu dekat.
Sejumlah sumber menyebutkan bahwa pembicaraan lanjutan ini berpotensi digelar pekan ini.
Pakistan disebut-sebut kembali menjadi lokasi utama, meski opsi lain seperti Swiss juga masuk dalam pertimbangan.
Baca Juga: MBG Banyak Terbuang! Sisa Makanan Tembus Jutaan Ton, Kerugian Bisa Rp66 Triliun per Tahun
Langkah ini muncul setelah perundingan sebelumnya yang berlangsung di Pakistan mengalami kebuntuan.
Perbedaan tajam terkait program nuklir Iran masih menjadi batu sandungan utama yang belum menemukan titik temu.
Pihak Washington dikabarkan tetap bersikukuh meminta Teheran untuk menghentikan aktivitas pengayaan uranium.
Selain itu, AS juga mendesak Iran untuk menyerahkan cadangan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi sebagai bagian dari upaya pengendalian nuklir.
Di sisi lain, Iran memiliki tuntutan yang tidak kalah besar. Pemerintah Teheran menginginkan pencairan dana mereka yang selama ini dibekukan serta pelonggaran sanksi ekonomi yang dinilai membebani negara tersebut.
Situasi semakin kompleks karena faktor geopolitik di kawasan. Sebelumnya, Iran sempat memblokade Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia. Dampaknya, distribusi energi global sempat terganggu.
Meski kedua negara telah menyepakati gencatan senjata sementara, kondisi di lapangan masih belum sepenuhnya stabil. Blokade di kawasan tersebut bahkan belum sepenuhnya pulih.
Sejumlah negara seperti Pakistan, Mesir, dan Turki kini berperan aktif sebagai mediator.
Mereka terus mendorong agar kedua pihak kembali ke meja perundingan sebelum masa gencatan senjata berakhir dalam waktu dekat.
Negosiasi lanjutan ini dinilai menjadi momentum krusial. Jika berhasil, bukan hanya hubungan AS dan Iran yang membaik, tetapi juga stabilitas kawasan Timur Tengah dan pasar energi global.
Namun jika kembali gagal, bukan tidak mungkin ketegangan akan meningkat dan berdampak luas ke berbagai sektor, termasuk ekonomi dunia.***

