POJOKSATU.ID - Presiden Rusia Vladimir Putin ikut turun tangan merespons memanasnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Di tengah eskalasi serangan udara yang terjadi sejak akhir Februari, Putin justru memilih jalur diplomasi dengan menyerukan gencatan senjata dan menawarkan diri sebagai mediator.
Sebagai sekutu dekat Iran, banyak pihak sebelumnya memprediksi Rusia akan memberikan dukungan militer langsung kepada Teheran untuk membalas serangan gabungan AS-Israel yang dimulai pada 28 Februari.
Baca Juga: Burner Kompor Tanam Berkarat dan Api Tersumbat? Begini Cara Membersihkannya Biar Kinclong Lagi
Namun, langkah yang diambil Kremlin justru menunjukkan pendekatan berbeda.
Dalam pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Rusia, disebutkan bahwa pada 2 Maret 2026, Putin melakukan percakapan telepon dengan Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi, Mohammed bin Salman.
Pembicaraan tersebut membahas meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk akibat aksi saling serang antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Baca Juga: Mudik Lebaran 2026 Pakai Mobil Listrik? Ini Strategi Agar Daya Jelajah Tetap Aman
Kedua pemimpin menilai bahwa jika konflik terus meluas, dampaknya bisa sangat berbahaya, baik dari sisi keamanan, ekonomi global, maupun kemanusiaan.
Karena itu, Rusia dan Arab Saudi sepakat bahwa penyelesaian konflik harus ditempuh melalui jalur politik dan diplomasi, bukan dengan memperluas operasi militer.
Selain dengan Arab Saudi, Putin juga berkomunikasi dengan sejumlah pemimpin negara Teluk lainnya seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Qatar.
Baca Juga: Posko THR Jabar Diserbu Aduan, 344 Laporan Masuk Jelang Idulfitri 2026
Dalam komunikasi tersebut, Moskwa mengecam aksi militer Washington dan Tel Aviv sebagai agresi tanpa provokasi serta mendesak penghentian kekerasan.
Rusia menyatakan siap memanfaatkan kedekatannya dengan Iran untuk membantu meredakan ketegangan.
Langkah ini sekaligus menunjukkan posisi Moskwa yang berupaya memainkan peran strategis dalam percaturan geopolitik Timur Tengah.
Di balik tawaran mediasi itu, tersimpan kepentingan strategis Rusia.
Moskwa ingin mempertahankan pengaruhnya di kawasan sekaligus menjaga kemitraan dengan Iran, terutama setelah dinamika politik di Suriah mengubah peta kekuatan regional.
Meski lonjakan harga minyak dan potensi teralihkan fokus Amerika Serikat dari konflik Ukraina dapat menguntungkan Rusia, Kremlin tetap berhati-hati agar tidak memutus jalur komunikasi dengan Washington.
Sikap ini mencerminkan upaya Rusia menyeimbangkan ambisi membangun tatanan dunia multipolar dengan kepentingan pragmatisnya.
Dengan menawarkan diri sebagai mediator, Putin berusaha menempatkan Rusia sebagai aktor penting dalam upaya meredakan konflik global yang berisiko meluas dan mengguncang stabilitas internasional.***

