POJOKSATU.ID - Thailand dan Kamboja tengan menjadi sorotan, karena ketegangan yang memanas di wilayah perbatasan.

Candi Ta Muen Thom menjadi salah satu alasan pemicu konflik antara Thailand dan Kamboja.

Candi Ta Muen Thom, merupakan situs kuno yang berada di area sengketa kedua negara.

Pemerintah Kamboja menuding Thailand sebagai pihak yang memicu eskalasi setelah seorang prajuritnya diduga diserang oleh tentara dan warga sipil Thailand pada Senin, 14 Juli 2025 lalu.

Baca Juga: Mendengar Alasan Dedi Mulyadi Larang Study Tour untuk Siswa, Tawarkan Solusi untuk Wisata di Jawa Barat

Insiden tersebut berlangsung di kompleks Candi Ta Muen Thom, yang secara historis diklaim sebagai bagian dari wilayah Kamboja.

Phnom Penh mengecam keras peristiwa itu. Menurut pemerintah Kamboja, kejadian tersebut bukan hanya persoalan konflik perbatasan, tetapi juga serangan simbolik terhadap harga diri bangsa dan warisan budaya mereka.

"Ini adalah pelanggaran terhadap hukum internasional dan kebenaran sejarah,” tulis pemerintah Kamboja dalam keterangan resminya sebagaimana dilansir dari New York Times, Sabtu (26/7/2025).

Baca Juga: Topan Ginting Masih Bungkam Siapa yang Beri Perintah Terima Fee, KPK Inisiatif dari Pihak Lain

“Candi Ta Muen Thom merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas budaya bangsa kami, dan klaim kami atas wilayah itu telah diakui dalam Konvensi Prancis-Siam 1907," imbuhnya.

Sengketa perbatasan antara Thailand dan Kamboja telah berlangsung lama, terutama berkaitan dengan situs-situs warisan budaya peninggalan Kekaisaran Khmer.

Salah satu titik panas dalam konflik ini adalah Candi Ta Muen Thom, selain Candi Preah Vihear yang lebih dulu menjadi sorotan internasional.

Baca Juga: 45 Kepala Sekolah Dasar Ikuti Workshop Deep Learning Berbasis RADEC di Bandung

Berikut ulasan mengenai sejarah candi yang menjadi sengketa tersebut:

Sejarah dan Letak Candi Ta Muen Thom
Candi Ta Muen Thom terletak di kawasan pegunungan Dangrek, tepatnya di Ban Nong Khanna, dan merupakan bagian dari tiga kompleks candi yang dibangun di wilayah tersebut.

Candi ini diperkirakan berdiri pada abad ke-11 hingga ke-12, pada masa pemerintahan Raja Udayadityavarman II dari Kekaisaran Khmer.

Baca Juga: DPRD Kota Bandung Siapkan Perda Keberagaman, Cegah Konflik SARA dan Perpecahan Sosial

Fungsinya kala itu adalah sebagai tempat pemujaan agama Hindu, mencerminkan pengaruh kuat India di kawasan Asia Tenggara.

Dilansir dari Firstpost, Ta Muen Thom adalah yang terbesar di antara tiga candi yang ada di pegunungan tersebut, dan menjadi bagian penting dari jalur kuno yang menghubungkan pusat-pusat kekuasaan Khmer.

Klaim Kedaulatan Berdasarkan Sejarah dan Hukum Internasional
Kamboja mengklaim bahwa situs Candi Ta Muen Thom berada dalam wilayah mereka, merujuk pada Konvensi Prancis-Siam tahun 1907.

Baca Juga: Berantas Rokok Ilegal, Pemerintah dan Media Cirebon Sepakat Perkuat Sinergi

Klaim ini diperkuat dengan bukti peta resmi dari masa kolonial serta catatan dari Kementerian Kebudayaan dan Seni Rupa Kamboja, yang memasukkan candi ini dalam daftar warisan nasional.

Sebaliknya, Thailand mempertanyakan interpretasi peta lama tersebut.

Sengketa semakin rumit karena sebagian besar dari 817 kilometer garis perbatasan kedua negara dipetakan selama era kolonial Prancis, yang kini dianggap bias atau tidak akurat oleh pihak Thailand.

Baca Juga: Pesona Polisi Gadungan Bikin Ciwi-ciwi Klepek-klepek, Tawarkan Jasa Bantuan Masuk POLRI, Uang Puluhan Juta Raib

Peran Mahkamah Internasional (ICJ) dan Penolakan Thailand
Mahkamah Internasional (ICJ) telah menjadi rujukan Kamboja dalam memperkuat klaim mereka atas beberapa situs perbatasan, termasuk Preah Vihear dan Ta Muen Thom.

Namun hingga kini, Thailand belum mengakui yurisdiksi ICJ atas sejumlah kawasan perbatasan tersebut.

Situasi ini menjadikan status Candi Ta Muen Thom sebagai simbol ketegangan antara kepentingan nasional, sejarah budaya, dan interpretasi hukum internasional yang berbeda.

Baca Juga: Bantah Tuduhan Bro Ron Terkait Pemotongan Dana PIP Rp200 Ribu, Denny Cagur : Saya Pertimbangkan Pelaporan, Jika Nama Saya Disalahgunakan

Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:

Versi Android
Versi iOS
Channel Whatsapp
Fanpage Edugov

Sengketa ini juga mencerminkan betapa pentingnya situs-situs budaya kuno dalam narasi identitas nasional dan politik kawasan Asia Tenggara. ***