POJOKSATU.id — Hamas membebaskan empat tentara perempuan Israel pada Sabtu (25/1/2025) dan menyerahkannya kepada Komite Palang Merah Internasional (ICRC) di Jalur Gaza.

Dalam pernyataan singkat yang dilansir Reuters, juru bicara Brigade Al-Qassam—sayap bersenjata Hamas—Abu Obaida, mengidentifikasi keempat prajurit itu adalah Karina Ariev, Danielle Gilboa, Naama Levy, dan Liri Albag.

Empat sandera tersebut dibawa ke podium di Kota Gaza di tengah kerumunan besar warga Palestina, dikelilingi oleh puluhan anggota Hamas yang bersenjata.

Mereka tampak melambaikan tangan dan tersenyum sebelum diantar menuju kendaraan ICRC yang kemudian membawa mereka ke pasukan Israel.

Baca Juga: Ada Rencana Warga Gaza DIRELOKASI ke Indonesia, Jumlahnya Sekitar 2 JUTA PENDUDUK, Khawatir Diusir Permanen, Kemenlu RI Respon Begini

Mereka sebelumnya ditempatkan di sebuah pos pengamatan di tepi Gaza dan dibawa oleh pejuang Hamas yang menyerbu pangkalan mereka selama serangan terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.

Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima daftar nama tawanan yang akan dibebaskan Hamas pada Sabtu.

Kementerian Kesehatan Israel mengungkapkan bahwa setelah para sandera bertemu dengan keluarga mereka di sebuah pangkalan militer Israel dekat perbatasan Jalur Gaza, mereka akan dibawa ke rumah sakit untuk memeriksa kesehatan.

Menurut kantor media tahanan Hamas, diperkirakan 200 tahanan Palestina dibebaskan sebagai bagian dari pertukaran tersebut.

Baca Juga: Momen Bersejarah Pemulangan Sandera, Warga Berkerumun di As Saraya Saksikan Tiga Sandera Wanita Diantarkan Hamas, Diiringi Takbir

Dari jumlah tersebut, 120 tahanan merupakan individu yang menjalani hukuman seumur hidup, sementara 80 lainnya menjalani hukuman jangka panjang.

Pada minggu lalu, di hari pertama diberlakukannya gencatan senjata, Israel telah membebaskan 90 tahanan Palestina, sedangkan Hamas membebaskan tiga tawanan perempuan Israel sebagai bagian dari kesepakatan itu.

Tahanan Palestina yang dibebaskan pada tahap pertama termasuk perempuan dan anak-anak tidak didakwa dengan tuduhan apa pun.

Gencatan senjata selama enam pekan di Gaza ini mulai berlaku pada 19 Januari 2025.

Baca Juga: Baznas Gerak Cepat Kirim Bantuan Kemanusiaan 41 Truk Kontainer ke Palestina Usai Gencatan Senjata Diumumkan

Perjanjian ini berhasil menghentikan perang yang oleh banyak pihak disebut sebagai genosida Israel di wilayah kantong Palestina tersebut.

Konflik ini telah menyebabkan hampir 47.300 warga Palestina kehilangan nyawa, sebagian besar di antaranya adalah perempuan dan anak-anak, serta melukai hampir 111.500 lainnya sejak 7 Oktober 2023.

Kesepakatan yang berlangsung dalam tiga fase ini mencakup pertukaran tahanan dan kondisi situasi yang tenang dengan tujuan mencapai gencatan senjata permanen serta penarikan pasukan Israel dari Gaza.

Dalam fase enam minggu pertama, Hamas setuju untuk membebaskan 33 sandera, termasuk anak-anak, wanita, pria lanjut usia, serta mereka yang sakit dan terluka.

Sebagai imbalannya, ratusan tahanan Palestina di penjara-penjara Israel akan dibebaskan, sementara pasukan Israel menarik diri dari beberapa posisinya di Jalur Gaza.

Perjanjian gencatan senjata ini dicapai setelah berbulan-bulan negosiasi yang dimediasi oleh Qatar dan Mesir serta didukung oleh Amerika Serikat.

Ini adalah kali pertama genosida Israel dihentikan sejak gencatan senjata singkat yang hanya berlangsung selama seminggu pada November 2023.

Baca Juga: INILAH Isi Kesepakatan GENCATAN SENJATA Israel Hamas, Ada Tiga Fase DIBERLAKUKAN, Semua Tuntutan Hamas DIPENUHI, Rekonstruksi Gaza Jadi Ujian Besar

Pada fase berikutnya, kedua belah pihak akan merundingkan pertukaran sandera yang tersisa, termasuk pria usia militer, serta penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza.

Gaza sendiri sebagian besar telah hancur akibat konflik berkepanjangan selama 15 bulan terakhir.

Israel melancarkan serangan balasan di Gaza setelah serangan Hamas pada 7 Oktober, yang menewaskan 1.139 orang dan menyandera lebih dari 250 orang untuk dibawa kembali ke Gaza.

Sejak saat itu, lebih dari 47.000 warga Palestina telah tewas, sebagian besar di antaranya adalah perempuan dan anak-anak. ***