POJOKSATU.id — Setelah lebih dari 460 hari konflik yang menghancurkan Gaza, Israel dan kelompok Palestina Hamas akhirnya mencapai kesepakatan gencatan senjata.
Perjanjian ini diharapkan menjadi langkah awal menuju perdamaian, meskipun tantangan besar masih menanti.
Kesepakatan gencatan senjata ini terdiri dari tiga fase yang saling berkaitan. Implementasi fase kedua dan ketiga akan bergantung pada keberhasilan fase pertama.
Fase Pertama, Bantuan Kemanusiaan Diizinkan
Sebanyak 33 warga Israel yang menjadi tawanan Hamas di Gaza, termasuk perempuan, anak-anak, dan warga berusia di atas 50 tahun, akan dibebaskan.
Sebagai gantinya, Israel berjanji membebaskan lebih banyak tahanan Palestina selama fase ini.
Baca Juga: Mengerikan! Lebih dari 50 Anak Tewas dalam 48 Jam di Gaza, UNICEF Kecam Serangan Israel
Pasukan Israel juga akan ditarik dari pusat populasi Gaza ke wilayah tidak lebih dari 700 meter di dalam perbatasan Gaza-Israel.
Selain itu, warga sipil akan diizinkan kembali ke rumah mereka di wilayah utara yang sebelumnya terkepung.
Israel akan mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan hingga 600 truk per hari ke Gaza dan memberikan akses bagi warga Palestina yang terluka untuk menerima perawatan medis di luar Gaza.
Penyeberangan Rafah dengan Mesir akan dibuka tujuh hari setelah fase pertama dimulai.
Pasukan Israel akan secara bertahap mengurangi keberadaannya di Koridor Philadelphi dan sepenuhnya mundur dalam waktu maksimal 50 hari.
Baca Juga: Israel Menuju Negara Gagal?
Fase Kedua, Lepaskan Semua Tahanan
Jika persyaratan fase pertama terpenuhi, Hamas akan melepaskan semua tawanan yang masih hidup, termasuk tentara laki-laki.
Sebagai imbalannya, Israel akan membebaskan lebih banyak tahanan Palestina dan memulai penarikan total dari Gaza.
Baca Juga: Lebanon Luncurkan Serangan ke Israel, Hantam Pinggiran Wilayah Tel Aviv
Fase Ketiga, Jenazah Tawanan Diserahkan
Pada tahap terakhir, jenazah tawanan yang tersisa akan diserahkan sebagai bagian dari kesepakatan rekonstruksi Gaza selama tiga hingga lima tahun.
Proses ini akan berada di bawah pengawasan internasional untuk memastikan transparansi dan keberlanjutan.
Hingga kini, perang telah menyebabkan dampak yang luar biasa besar bagi warga Gaza.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sedikitnya 46.707 warga Palestina tewas, termasuk 17.841 anak-anak dan 12.298 wanita.
Lebih dari 161.600 rumah hancur total, dan 34 rumah sakit tidak lagi beroperasi. Selain itu, 35.074 anak kehilangan kedua orang tuanya, menambah daftar panjang korban tragedi ini.
Izzat al-Risheq, anggota biro politik Hamas, menyatakan bahwa perjanjian ini memenuhi semua tuntutan Hamas, termasuk penarikan penuh pasukan Israel, pengembalian pengungsi, dan penghentian perang secara permanen.
“Penjajah dibuat bertekuk lutut,” ujar al-Risheq dalam pernyataannya yang dilansir Aljazirah.

