POJOKSATU.id - Era kepemimpinan Presiden Bashar al-Assad yang telah berkuasa selama 24 tahun, berakhir.
Pada Minggu (8/12/2024), komando militer Suriah mengumumkan bahwa pemerintahan Assad telah runtuh setelah serangan pemberontak mengguncang negeri tersebut.
Di tengah krisis politik yang mendera, Perdana Menteri Suriah Mohammad Ghazi al-Jalali menyatakan kesiapannya untuk mendukung kelanjutan pemerintahan dan bekerja sama dengan pihak oposisi.
“Kami siap untuk ‘mengulurkan tangan’ kepada oposisi dan menyerahkan fungsi pemerintahan kepada pemerintah transisi,” tegas Jalali dalam sebuah pernyataan video yang dirilis Associated Press.
Meski situasi semakin genting, Jalali memastikan dirinya tetap berada di Suriah dan menjalankan tugasnya.
“Saya masih berada di rumah saya, saya tidak pergi ke mana-mana, karena saya bagian dari negara ini,” ujarnya.
Jalali juga mengimbau warga untuk menjaga ketertiban dan tidak merusak fasilitas publik.
Namun, ia enggan memberikan komentar terkait laporan bahwa Presiden Assad telah meninggalkan Suriah.
Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi mengenai keberadaan Assad dari Uni Emirat Arab, meski diketahui bahwa keluarganya memiliki aset properti di Dubai.
Baca Juga: Uni Emirat Arab Buka Pabrik Bir Pertamanya di Abu Dhabi, Ini Tujuannya
Di sisi lain, kelompok oposisi bersenjata Suriah merayakan momen ini sebagai akhir dari era gelap pemerintahan Partai Baath yang telah berlangsung selama lima dekade.
“Hari ini, 12-8-2024, kami mengumumkan berakhirnya 50 tahun penindasan di bawah rezim Baath, dan dimulainya era baru bagi Suriah,” ungkap salah satu kelompok pemberontak, dikutip dari Guardian.
Pagi di Damaskus diwarnai selebrasi besar-besaran. Rekaman video yang beredar menunjukkan pemberontak berseragam melepaskan tembakan ke udara sambil meneriakkan “Allahu Akbar.”
Baca Juga: Kabar Terbaru Usai Iran Serang Israel, Presiden AS Langsung Bantu Pertahanan Tel Aviv Raya
Konflik berkepanjangan yang dimulai pada 2011 telah menelan hampir setengah juta korban jiwa dan membuat separuh populasi Suriah, dari total 23 juta orang, menjadi pengungsi.
Jutaan warga Suriah melarikan diri ke negara-negara tetangga seperti Yordania, Turki, Irak, Lebanon, serta ke Eropa untuk mencari perlindungan.
Setelah sempat mereda selama bertahun-tahun, pekan lalu pemberontak kembali muncul dari basis mereka di Idlib.
Mereka berhasil merangsek maju setelah memenangkan sejumlah pertempuran jalanan yang terus berlangsung sejak 13 tahun silam. ***

