POJOKSATU.id – Jalan menuju Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tidak berlangsung dalam satu malam.

Sehari sebelum 17 Agustus 1945, kabar kekalahan Jepang telah mengubah suasana Jakarta. Para pemuda melihat sebuah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan.

Pada 14 Agustus, M. Jusuf Ronodipuro, wartawan Radio Hoso Kyoku, mendapat kabar dari Mochtar Lubis yang bekerja di bagian monitoring bahwa Jepang telah kalah dalam Perang Pasifik.

Mochtar termasuk sedikit orang Indonesia yang saat itu diperbolehkan mendengarkan siaran radio asing.

Baca Juga: BRI Pimpin Kolaborasi Himbara di Danantara Housing Expo 2026, KPR Mulai DP 1 Persen

Jusuf kemudian mendapat tugas meliput kedatangan Soekarno dan Mohammad Hatta di Bandara Kemayoran setelah keduanya kembali dari Saigon.

Namun sebelum ke bandara, Jusuf menyempatkan diri mendatangi para pemuda di Menteng Raya 31 dan menyampaikan kabar kekalahan Jepang. Para pemuda ternyata sudah mengetahui informasi serupa dari Adam Malik.

Kekalahan Jepang berarti kekuasaan kolonial itu berada di ujung tanduk. Persoalannya tinggal satu: kapan Indonesia menyatakan kemerdekaannya?

Soekarno Membawa Kabar dari Dalat
Beberapa hari sebelumnya, Soekarno, Mohammad Hatta, dan Radjiman Wediodiningrat bertemu Panglima Jepang Jenderal Hisaichi Terauchi di Dalat, Vietnam.

Dalam pertemuan itu, menurut sejarawan Rushdy Hoesein, Soekarno sempat menanyakan kapan Indonesia dapat secara resmi menyelenggarakan proklamasi.

Baca Juga: Hanya Destry Damayanti yang Diusulkan Presiden Prabowo Calon Tunggal Gubernur BI Definitif

Terauchi menjawab bahwa hal tersebut bergantung kepada Soekarno dan Hatta sebagai pimpinan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Saat tiba di Kemayoran, Soekarno menyampaikan pidato singkat di hadapan masyarakat yang menyambutnya.

Ia mengingatkan kembali ucapannya bahwa Indonesia akan merdeka setelah "jagung berbuah". Kali ini, katanya, Indonesia akan merdeka bahkan sebelum jagung berbunga.

Kalimat itu membangkitkan harapan. Para pemuda semakin yakin bahwa kemerdekaan harus segera diwujudkan.

Sjahrir Mendesak, Soekarno Masih Berpegang pada PPKI
Setelah kembali dari Kemayoran, Mohammad Hatta pulang dan bertemu Sutan Sjahrir.

Sjahrir menyampaikan bahwa Jepang telah menyerah dan mendesak agar kemerdekaan segera diumumkan tanpa menunggu keputusan PPKI.

Baca Juga: Buktikan Kencangnya CBR Series, Pebalap Astra Honda Raih Kemenangan di Mandalika

Menurutnya, jika proklamasi dilakukan melalui badan bentukan Jepang, Sekutu dapat menganggap Indonesia sebagai negara "buatan Jepang".

Hatta kemudian membawa Sjahrir menemui Soekarno di Pegangsaan Timur 56.

Namun Soekarno tidak menyetujui usulan tersebut.

"Aku tidak berhak bertindak sendiri," kata Soekarno. Menurutnya, keputusan itu merupakan tugas PPKI yang ia pimpin.

Perbedaan pandangan itu kemudian memunculkan ketegangan antara golongan tua dan pemuda.

Baca Juga: Mantan Ketua DPRD Ponorogo Jadi Tersangka Tunjangan Perumahan, Bagaimana dengan Purwakarta?

Malam Tegang di Rumah Soekarno
Pada malam 15 Agustus, Wikana dan Darwis datang menemui Soekarno. Para pemuda mendesak agar kemerdekaan diumumkan malam itu juga. Perdebatan berlangsung sengit.

Wikana bahkan memperingatkan bahwa jika kemerdekaan tidak segera diproklamasikan, keesokan harinya dapat terjadi pertumpahan darah.

Soekarno tersinggung. Dalam emosi, ia menantang Wikana untuk mengambil kepalanya saat itu juga jika memang kemerdekaan harus dilakukan malam tersebut. Namun Soekarno ternyata sudah memiliki rencana sendiri.

Baca Juga: Tokoh Sunda Bicara Masa Depan: Ekoregion Sunda Dinilai Bisa Jadi Jalan Menuju Pembangunan yang Lebih Adil

Ia mengatakan kepada para pemuda bahwa Proklamasi akan dilaksanakan pada 17 Agustus. Bahkan dalam penuturannya kepada Cindy Adams, Soekarno mengaku memiliki alasan tersendiri memilih tanggal tersebut.

"Tujuh belas adalah angka yang suci."

Ia mengaitkannya dengan 17 Ramadan dan jumlah rakaat salat wajib dalam sehari. Bagi Soekarno, 17 Agustus juga merupakan waktu yang diyakininya tepat.

Para pemuda meninggalkan rumah Soekarno menjelang tengah malam. Mereka kemudian berkumpul kembali di Cikini 71.

Perdebatan berlanjut hingga muncul gagasan untuk membawa Soekarno dan Hatta keluar dari Jakarta.

Baca Juga: Profesor Siti Baroroh Baried, Sososk Perempuan Pertama Indonesia, Mengabdi di Akademik dan Membawa Organisasi ke Panggung Dunia

Rengasdengklok, Upaya Mempercepat Proklamasi
Dini hari 16 Agustus, Soekarno dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok, Karawang.

Tujuannya bukan untuk menjauhkan mereka dari perjuangan, melainkan mendesak keduanya agar segera memproklamasikan kemerdekaan tanpa pengaruh Jepang.

Soekarno bahkan tidak mau pergi tanpa Fatmawati dan putranya, Guntur.

Di Rengasdengklok, mereka ditempatkan di rumah Djiauw Kie Siong. Namun sepanjang hari Soekarno dan Hatta tidak melakukan banyak hal selain menunggu perkembangan situasi.

Baca Juga: Soal Tunjangan DPRD, Bupati Cirebon Diminta Tak Asal Teken APBD 2027

Sementara itu di Jakarta, Ahmad Subardjo berusaha mencari jalan untuk membawa keduanya kembali. Ia akhirnya berhasil meyakinkan para pemuda bahwa Proklamasi akan dilakukan. Menjelang malam, Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta.

Malam Panjang di Rumah Laksamana Maeda
Sesampainya di Jakarta, mereka sempat menuju rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol.

Sebelumnya, Soekarno dan Hatta menemui Mayor Jenderal Nishimura untuk memastikan sikap Jepang.

Baca Juga: Penyaluran Bansos PKH dan BPNT Triwulan III 2026 Ditargetkan Tuntas Bulan Agustus!

Namun Nishimura menyatakan bahwa pasukan Jepang harus mempertahankan status quo dan tidak dapat memberikan izin untuk kemerdekaan Indonesia.

Soekarno dan Hatta kemudian mengambil keputusan penting: kemerdekaan akan diproklamasikan dengan atau tanpa persetujuan Jepang. Mereka kembali ke rumah Maeda.

Di tempat itulah, menjelang dini hari, Soekarno, Hatta, Ahmad Subardjo, Sukarni, dan Sayuti Melik menyusun teks Proklamasi.

Hatta mengusulkan rumusan yang kemudian menjadi bagian awal naskah. Soekarno menuliskannya, lalu Sayuti Melik mengetiknya.

Baca Juga: Dian Damayanti Klarifikasi Paper MBG untuk Nobel, Kemdiktisaintek Sebut Belum Guru Besar dan Bukan Dosen

Ketika muncul perdebatan mengenai siapa yang harus menandatangani, Sukarni mengusulkan agar Soekarno dan Hatta saja yang membubuhkan tanda tangan atas nama bangsa Indonesia. Naskah akhirnya selesai.

Lapangan Ikada Dibatalkan, Pegangsaan Dipilih
Semula pembacaan Proklamasi direncanakan di Lapangan Ikada, yang kini menjadi kawasan Monas.

Namun rencana itu dibatalkan karena dikhawatirkan memicu tindakan Jepang.

Akhirnya rumah Soekarno di Pegangsaan Timur 56 dipilih. Halamannya cukup luas dan lokasinya lebih mudah dikendalikan.

Sebelum pulang, Hatta meminta para pemuda, terutama mereka yang bekerja di kantor berita, menyebarkan berita Proklamasi ke seluruh Indonesia dan dunia.

Baca Juga: Waspada Kejahatan Siber, Kenali 10 Ekstensi File Spam Berbahaya yang Haram Diklik di WhatsApp

Pesannya sederhana: jangan sampai kemerdekaan hanya diketahui oleh orang-orang yang hadir di Pegangsaan.

17 Agustus 1945, Indonesia Menyatakan Dirinya Merdeka
Pagi 17 Agustus, halaman rumah Soekarno mulai dipenuhi masyarakat.

Fatmawati membawa bendera Merah Putih yang dijahitnya sendiri. Suhud menyiapkan tiang bambu.

Tepat pukul 10.00, Soekarno dan Hatta keluar menuju tempat upacara.

Di hadapan rakyat yang berkumpul, Soekarno membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Setelah itu, Merah Putih dikibarkan. Latief Hendraningrat menjadi salah satu orang yang bertugas menaikkannya.

Indonesia Raya kemudian dinyanyikan secara spontan oleh masyarakat.

Tidak ada panggung megah. Tidak ada upacara kenegaraan dengan perlengkapan lengkap.

Baca Juga: Panduan Praktis Desain Logo HUT ke-81 RI untuk Media Sosial dan Cetak Logo Kemerdekaan 

Hanya sebuah halaman rumah, selembar bendera, sebuah naskah singkat, dan rakyat yang menyaksikan lahirnya sebuah negara.

Namun dari tempat sederhana itulah Indonesia menyatakan dirinya merdeka.

Perjalanan menuju 17 Agustus memperlihatkan bahwa Proklamasi bukan keputusan yang lahir tiba-tiba.

Ada kabar kekalahan Jepang, perdebatan antara golongan tua dan pemuda, tekanan di malam hari, Rengasdengklok, penolakan Jepang, hingga perumusan naskah di rumah Laksamana Maeda.

Semua rangkaian itu akhirnya bermuara pada satu pagi yang mengubah sejarah: 17 Agustus 1945, ketika Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan. ***