POJOKSATU.id – Integritas merupakan fondasi utama dalam membangun bangsa yang bersih dan berkeadilan.

Nilai ini tidak hanya tercermin dalam ucapan, tetapi juga melalui tindakan nyata ketika seseorang dihadapkan pada godaan kekuasaan, jabatan, maupun materi.

Sejarah Indonesia mencatat banyak tokoh bangsa yang memberikan teladan luar biasa tentang kejujuran, kesederhanaan, serta keberanian menolak penyalahgunaan wewenang.

Baca Juga: Mantan Kabareskrim Ungkap 9 Kecurigaan Meninggalnya Karumga Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

Mereka membuktikan bahwa jabatan adalah amanah yang harus dijaga, bukan sarana memperkaya diri.

Kisah-kisah berikut menjadi pengingat bahwa semangat antikorupsi telah hidup sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga awal perjalanan Republik Indonesia.

1. Haji Agus Salim, Menolak Beasiswa yang Bukan Haknya
Haji Agus Salim dikenal sebagai diplomat ulung sekaligus salah satu tokoh paling cerdas pada zamannya.

Baca Juga: Kemensos Sampaikan Cara Cepat Klaim Kartu Penyandang Disabilitas Cuma Lewat Ponsel

Ia menguasai sedikitnya sembilan bahasa asing, di antaranya Belanda, Inggris, Arab, Jerman, Prancis, Turki, Jepang, Latin, dan Ibrani.

Meski dikenal sangat cerdas, Agus Salim pernah menolak kesempatan memperoleh beasiswa kedokteran ke Belanda yang sebelumnya diperuntukkan bagi RA Kartini.

Setelah Kartini batal berangkat karena menikah, namanya direkomendasikan sebagai pengganti.

Baca Juga: Bisa Lewat HP! Begini Cara Mudah Klaim dan Cek Status Kartu Penyandang Disabilitas Virtual Kemensos

Namun Agus Salim menolak karena merasa beasiswa tersebut bukan hasil perjuangannya sendiri.

Sikap itu menjadi gambaran bahwa integritas berarti tidak mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya.

Kesederhanaannya juga tetap terjaga ketika menjadi pejabat negara. Ia memilih tinggal di rumah kontrakan sederhana yang bahkan sering bocor ketika hujan, meski pernah menjabat Menteri Luar Negeri Indonesia.

Pejabat Belanda Willem Schermerhorn bahkan pernah menulis bahwa Agus Salim adalah seorang jenius yang menguasai banyak bahasa, tetapi hidup dalam kesederhanaan.

Baca Juga: Pemerintah Rilis Aturan Baru, Penyandang Disabilitas Kini Berhak Dapat Fasilitas Khusus oleh Kemensos

2. Hoegeng Iman Santoso Menutup Toko Milik Istri
Nama Hoegeng Iman Santoso hampir selalu dikaitkan dengan sosok polisi yang jujur dan antisuap.

Ketika diangkat menjadi Kepala Jawatan Imigrasi pada awal 1960-an, Hoegeng meminta istrinya, Merry Roeslani, menutup usaha toko bunga milik keluarga.

Alasannya sederhana tetapi sangat kuat. Ia khawatir masyarakat akan membeli bunga di toko istrinya demi memperoleh kemudahan mengurus administrasi imigrasi.

Menurut Hoegeng, kondisi tersebut tidak adil bagi pedagang bunga lainnya.

Baca Juga: SPMB SMA Terbuka Provinsi Lampung TA 2026/2027 Resmi Dibuka Gratis Tanpa Dipungut Biaya

Integritasnya kembali terlihat ketika menjabat Kepala Direktorat Reserse Kriminal Polda Sumatera Utara.

Saat akan menempati rumah dinas, ia menemukan rumah tersebut dipenuhi barang-barang mewah yang ternyata merupakan hadiah dari bandar judi.

Tanpa ragu, seluruh barang itu dikeluarkan dari rumah karena Hoegeng tidak ingin menerima fasilitas yang berpotensi memengaruhi independensinya sebagai aparat penegak hukum.

3. Baharuddin Lopa Menolak Bensin Gratis
Baharuddin Lopa merupakan salah satu tokoh penegak hukum yang dikenal paling tegas dalam sejarah Indonesia.

Baca Juga: Mengapa Model Bank Sentral Non-Independen Berhasil Di China Namun Gagal Di Turki, Bagaimana Bank Indonesia?

Sepanjang kariernya, ia pernah menjabat Bupati Majene, Kepala Kejaksaan Tinggi di sejumlah daerah, Menteri Kehakiman, hingga Jaksa Agung Republik Indonesia.

Komitmennya terhadap pemberantasan korupsi membuatnya berani mengusut berbagai kasus besar, termasuk yang melibatkan tokoh politik maupun pengusaha berpengaruh.

Salah satu kisah integritasnya terjadi saat melakukan perjalanan dinas.

Dalam perjalanan pulang, ia mengetahui mobil dinasnya telah diisikan bensin oleh seorang jaksa di daerah yang dikunjunginya.

Lopa langsung meminta mobil berbalik arah.

Baca Juga: Polisi Periksa CCTV dan Lima Saksi Terkait Kematian Sutrimo Penjaga Rumah Eks Jampidsus Febrie

Setibanya di kantor kejaksaan tersebut, ia meminta bensin yang telah diisikan disedot kembali.

Menurutnya, negara telah memberikan uang perjalanan dinas untuk membeli bahan bakar sehingga ia tidak berhak menerima pemberian dalam bentuk apa pun.

4. Mohammad Hatta Mengembalikan Uang Negara
Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, Mohammad Hatta, dikenal sebagai tokoh yang sangat disiplin dalam memisahkan kepentingan pribadi dan negara.

Saat menjalani pengobatan di luar negeri menggunakan biaya negara, Hatta mengetahui masih ada sisa dana perjalanan yang tidak terpakai.

Baca Juga: Transformasi TLKM 30 Berbuah Positif, Pendapatan hingga Laba Bersih Telkom Tumbuh di Semester I 2026

Tanpa diminta, ia langsung memerintahkan sekretarisnya mengembalikan seluruh sisa uang tersebut melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia.

Sikap serupa kembali ditunjukkan setelah tidak lagi menjabat sebagai wakil presiden.

Ketika ditawarkan sisa dana operasional sebesar Rp6 juta, Hatta menolaknya dan memilih mengembalikan uang tersebut kepada negara.

Kisah lain yang sangat terkenal adalah ketika istrinya, Rahmi Hatta, gagal membeli mesin jahit akibat kebijakan sanering atau pemotongan nilai mata uang.

Baca Juga: Koramil Batujaya Siaga di Candi Jiwa, Perayaan Asadha Puja 2026 Berlangsung Khidmat

Meski mengetahui keluarganya ikut merugi, Hatta tidak pernah membocorkan kebijakan tersebut sebelumnya demi menjaga kepentingan negara.

5. Bung Karno Pantang Membawa Barang Milik Negara
Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, juga meninggalkan teladan mengenai integritas.

Saat harus meninggalkan Istana Merdeka setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden, Bung Karno berpesan kepada anak-anak dan ajudannya agar tidak membawa satu pun barang milik negara.

Ia menegaskan seluruh lukisan, perabot, hingga fasilitas di istana merupakan aset negara yang tidak boleh dibawa pulang.

Baca Juga: Transformasi TLKM 30 Berbuah Positif, Pendapatan hingga Laba Bersih Telkom Tumbuh di Semester I 2026

Bung Karno akhirnya meninggalkan istana hanya dengan pakaian sederhana dan menggunakan mobil Volkswagen Kodok menuju rumah Fatmawati.

Ketika ditanya mengapa tidak melakukan perlawanan terhadap situasi politik saat itu, Bung Karno menjawab bahwa ia tidak ingin Indonesia terjerumus ke dalam perang saudara.

Baginya, persatuan bangsa jauh lebih penting daripada mempertahankan kekuasaan.

6. Sri Sultan Hamengku Buwono IX Rela Ditilang Polisi
Sri Sultan Hamengku Buwono IX dikenal sebagai pemimpin yang sederhana sekaligus sangat menghormati hukum.

Suatu ketika saat berkendara menuju Pekalongan, ia melanggar rambu lalu lintas dan dihentikan oleh seorang polisi bernama Brigadir Royadin.

Baca Juga: BPJS Ketenagakerjaan Buka Suara Terkait Video Viral Aktivitas Orientasi Calon Karyawan

Setelah mengetahui pengemudi yang ditilang adalah Sri Sultan, polisi tersebut sempat ragu untuk memberikan sanksi.

Namun Sri Sultan justru meminta agar dirinya tetap ditilang sesuai aturan.

Ia mengakui kesalahannya dan menolak memperoleh perlakuan istimewa hanya karena menjabat sebagai pejabat tinggi negara.

Beberapa waktu kemudian, Brigadir Royadin bahkan dipanggil ke Yogyakarta dan memperoleh penghargaan karena dianggap menjalankan tugas secara profesional tanpa pandang bulu.

7. Mohammad Natsir Tetap Hidup Sederhana
Mohammad Natsir merupakan Perdana Menteri Indonesia sekaligus tokoh besar dunia Islam yang dikenal karena kesederhanaannya.

Guru Besar Universitas Cornell, George McTurnan Kahin, pernah menceritakan bahwa ketika bertemu Natsir pada 1946, sang menteri hanya mengenakan kemeja yang sudah bertambal.

Natsir ternyata hanya memiliki dua stel pakaian kerja dan memilih menjahit sendiri pakaiannya yang robek.

Baca Juga: AXIS Nation Cup 2026 Perkuat Jalur Pembinaan Atlet Muda, Gandeng FFI Gelar Talent Scouting Nasional

Kesederhanaan itu bukan karena tidak mampu, melainkan karena ia tidak ingin menggunakan jabatan untuk memperoleh kemewahan.

Dalam kesempatan lain, putrinya pernah mempertanyakan mengapa keluarga mereka tidak menggunakan mobil yang lebih bagus.

Natsir menjawab bahwa kendaraan dinas bukan milik pribadi dan fasilitas negara harus digunakan seperlunya.

Ia juga beberapa kali menolak hadiah yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan karena khawatir akan memengaruhi independensinya sebagai pejabat publik.

Baca Juga: Resmi! UI Ubah Program Pendidikan Vokasi Jadi Sekolah Vokasi, Ini Alasan dan Dampaknya bagi Mahasiswa

Integritas Selalu Dimulai dari Diri Sendiri
Ketujuh tokoh bangsa tersebut berasal dari latar belakang yang berbeda, mulai dari presiden, wakil presiden, ulama, diplomat, perdana menteri, hingga kepala kepolisian dan jaksa agung.

Namun mereka memiliki satu kesamaan, yakni menjadikan kejujuran, tanggung jawab, kesederhanaan, serta keberanian menolak penyalahgunaan wewenang sebagai prinsip hidup.

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa saat ini, kisah-kisah mereka tetap relevan sebagai pengingat bahwa integritas bukan sekadar slogan, melainkan sikap yang harus diwujudkan dalam setiap keputusan, sekecil apa pun.

Tokoh-tokoh tersebut membuktikan bahwa menjaga amanah adalah warisan paling berharga yang dapat ditinggalkan bagi generasi penerus. ***