POJOKSATU.id — Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang dibacakan pada 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta oleh Ir. Soekarno ternyata memiliki dua versi berbeda, yaitu naskah tulisan tangan Soekarno dan naskah ketikan Sayuti Melik.

Perbedaan keduanya tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyimpan nilai historis penting yang mencerminkan dinamika perjuangan kemerdekaan.

Baca Juga: SIMULASI Hitungan Guru per Orang di Anggaran Pendidikan 2026 Sebesar Rp 757,8 Triliun, BESAR MANA Dibandingkan MBG per Siswa?

Latar Belakang Sejarah Teks Proklamasi

Perumusan teks Proklamasi berlangsung dalam situasi penuh tekanan. 

Pada 10 Agustus 1945, Soekarno, Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat diterbangkan ke Dalat, Vietnam, untuk bertemu Marsekal Terauchi.

Dalam pertemuan itu, Jepang menjanjikan kemerdekaan bagi Indonesia. 

Baca Juga: HUT RI ke-80, Tarif MRT, Transjakarta, dan LRT Cuma Rp80 Selama Dua Hari

Namun, kepastian baru muncul setelah 15 Agustus 1945 ketika Kaisar Hirohito mengumumkan menyerah tanpa syarat kepada Sekutu akibat bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.

Mendengar kabar tersebut, desakan golongan muda semakin menguat untuk mendorong kemerdekaan agar segera diproklamasikan.

Pada 16 Agustus 1945, peristiwa Rengasdengklok pecah. Para pemuda membawa Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok untuk mendesak percepatan proklamasi.

Baca Juga: Warga Cikampek Timur Rayakan HUT ke-80 RI dengan Doa Bersama

Malam harinya, setelah kembali ke Jakarta, mereka berkumpul di rumah Laksamana Tadashi Maeda. 

Di sanalah pada dini hari 17 Agustus 1945, sekitar pukul 03.00 WIB, teks Proklamasi ditulis tangan langsung oleh Soekarno dengan disaksikan Achmad Soebardjo, B.M. Diah, Sayuti Melik, dan tokoh lainnya.

Peran Sayuti Melik dalam Pengetikan

Setelah naskah tulisan tangan Soekarno selesai, Sayuti Melik mengetiknya menggunakan mesin ketik milik Mayor Dr. Hermanto Kusumobroto dari kantor perwakilan Angkatan Laut Jerman. 

Baca Juga: Tiga Bulan Pasca Inkrah, Jaksa Belum Jalankan Putusan Kasus Kusumayati

Tujuannya adalah agar teks lebih rapi, mudah diperbanyak, dan siap dibacakan di hadapan rakyat.

Perbedaan Naskah Tulisan Tangan Soekarno dan Ketikan Sayuti Melik

Meski substansi isi sama, terdapat beberapa perbedaan mencolok di antara kedua versi naskah tersebut:

Baca Juga: 10 Rekomendasi Jam Tangan Pilihan untuk Pelajar, Dari Retro Hingga Smartwatch Modern, Klasik Hingga Digital

1. Judul

- Tulisan tangan: Proklamasi

- Ketikan: P R O K L A M A S I (lebih tegas dan rapi)

2. Frasa “Hal2”

- Tulisan tangan: singkatan Hal2

- Ketikan: ditulis lengkap menjadi Hal-hal

Baca Juga: Festival Kemerdekaan LPM Plawad Meriah, Ribuan Warga Karawang Timur Tumpah Ruah

3. Kata “Saksama/Tempo”

- Tulisan tangan: saksama dan tempoh (ejaan lama)

- Ketikan: diubah menjadi seksama dan tempo

4. Tanggal

- Tulisan tangan: Djakarta, 17-8-’05

- Ketikan: Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05

Baca Juga: Smartwatch Anak 5G Q12, Dilengkapi Kamera, GPS, dan Fitur SOS untuk Keamanan Maksimal, Layak Buat Anak

5. Perwakilan

- Tulisan tangan: Wakil-wakil bangsa Indonesia

- Ketikan: Atas nama bangsa Indonesia

6. Tanda Tangan

- Tulisan tangan: tanpa tanda tangan

- Ketikan: ditandatangani oleh Soekarno/Hatta

Baca Juga: Otto Iskandar Dinata Si Jalak Harupat, Penggagas Pekik “Merdeka” yang Jadi Salam Nasional Bangsa Indonesia

Fakta Menarik Teks Proklamasi

1. Nyaris dibuang

Naskah tulisan tangan Soekarno sempat dianggap tidak perlu. Beruntung, B.M. Diah menyelamatkannya dan menyimpannya.

2. Tanpa cap resmi

Karena keadaan darurat, teks Proklamasi ditandatangani tanpa stempel negara.

Baca Juga: Ingatkan Aturan Perlindungan Anak di Indonesia, Komdigi Minta Roblox Berbenah

3. Pembacaan dipercepat

Semula proklamasi direncanakan siang hari, namun desakan pemuda membuatnya dibacakan pukul 10.00 WIB.

Makna Sejarah untuk Generasi Muda

Soekarno pernah berpesan, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya.” 

Perbedaan naskah Proklamasi bukanlah sekadar perbedaan redaksi, tetapi jejak nyata dari perjuangan panjang bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.

Baca Juga: Tak Cuma Pati, Sejumlah Daerah Lain Juga Naikkan PBB-P2

Generasi muda perlu memahami bahwa di balik teks sederhana itu tersimpan keberanian, desakan pemuda, hingga kompromi politik yang menentukan lahirnya Republik Indonesia. ***