POJOKSATU.id - Meski disebutkan harga beras mulai turun di pasaran, nyatanya warga masih mendapati harga beras makin mahal. Padahal saat baru merdeka, diplomasi Indonesia yang dipimpin Sutan Sjahrir, bisa kirim bantuan 700 ribu ton beras ke India.
Dikenal sebagai "Diplomasi Beras" atau "India Rice", bantuan 700 ribu ton beras ke India yang dipelopori Sutan Sjahrir dilakukan saat India dilanda kelaparan di tahun 1946.
Bantuan 700 ribu ton beras ke India yang digagas Sutan Sjahrir itu bukan tanpa sebab. Cara ini mampu menembus blokade ekonomi Belanda.
Cara diplomasi Sutan Sjahrir dengan mengirim bantuan 700 ribu ton beras ke India juga berhasil memposisikan Indonesia sebagai negara merdeka yang diakui dunia internasional.
Baca Juga: Memperingati Dedikasi Baden Powell, Bapak Pramuka Dunia di Hari Khusus
Pada waktu itu, meski proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sudah lantang digaungkan Soekarno pada 17 Agustus 1945, tetapi pihak Belanda tak mau juga menyerah dan mengakui.
Belanda membawa Netherlands Indies Civil Administration (NICA) dan sekutunya dengan maksud kembali menguasai Indonesia melalui agresi militernya.
Cerdasnya, Sutan Sjahrir yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Luar Negeri melakukan perlawanan yang khas.
Sutan Sjahrir tidak melakukan perlawanan melalui kekuatan fisik seperti militer. Tanpa diduga, ia malah fokus mempersiapkan bantuan 700 ribu ton beras ke India.
Baca Juga: Sejarah Puasa yang Belum Banyak Diketahui Umat Islam, Bukan Dimulai di Zaman Nabi Muhammad SAW
Sumber lain menyebutkan, bantuan itu sampai 500 ribu ton beras. Namun pada prinsipnya, gagasan diplomasi ini tak pernah dikira dampaknya.
Ketika itu, pada 1946 India mengalami krisis pangan dan bencana kelaparan berskala nasional hingga mengakibatkan 5 hingga 10 juta orang meninggal di India.
Kondisi buruk di India itu merupakan akibat dari surplus gandum dan beras dari Eropa yang biasanya datang ke India, tidak lagi dilakukan.
Selain sebagai langkah kemanusiaan, Sutan Sjahrir membaca diplomasi beras akan menimbulkan dampak dalam kepentingan politik Indonesia di dunia internasional.
Pasca proklamasi kemerdekaan, Belanda melakukan blokade ekonomi. Dengan cara diplomasi beras ini, Sutan Sjahrir rupanya hendak menghimpun dukungan internasional terhadap kemerdekaan Indonesia.
Karenanya pada 18 Mei 1946, Indonesia melancarkan aksi diplomasi beras ini dengan mengirimkan bantuan melalui K.L Punjabi yang merupakan perwakilan India di Indonesia.
Wartawan senior Rosihan Anwar ketika meliput pertempuran pasukan Republik dengan tentara NICA di Bekasi, pernah melihat barisan truk besar milik tentara Inggris memenuhi jalan desa di wilayah Cikampek, Jawa Barat.
Kisah itu bisa dibaca dari buku Tempo yang berjudul Seri Buku Tempo: Sjahrir.
Rosihan menyebut, saat itu dirinya melihat berkarung-karung beras diambil dari gudang penggilingan dan masuk truk.
Ternyata truk-truk ini bergerak menuju Pelabuhan Cirebon sebagai basis massa pendukung gerakan Sjahrir dan Mohammad Hatta.
Sampai di Cirebon telah bersandar kapal-kapal kargo asal India yang sebelumnya mengantarkan muatan kain.
Ribuan karung beras itu kemudian dimuat ke lambung kapal dan diberangkat ke India dalam perlindungan angkatan laut Inggris.
Cerita gerakan Sjahrir yang heroik itu, juga pernah diterbitkan pertama kali oleh Free Press of Journal di Bombay, India yang memuat judul "Indonesia’s Goodwill Gesture Towards India, Premier Sjahrir ‘s offer of 500.000 tons of Rice".
Beberapa harian kemudian, berita itu lalu disiarkan di Jakarta dilengkapi kutipan pesan dari Perdana Menteri Jawaharlal Nehru kepada Sutan Sjahrir: “Yang sedang berjuang dengan gagah berani untuk kemerdekaan,”
Sebagai balasan, India mengirimkan tekstil dan obat-obatan sesuai permintaan Sutan Sjahrir.
Tindakan Sutan Sjahrir banyak membuat pihak terhenyak. Terlebih pasca-Jepang hengkang, kondisi Indonesia sebenarnya masih jauh dari makmur.
Namun dengan perhitungan yang matang, Sutan Syahrir melakukan tindakan diplomasi beras itu.
Saat itu perhitungan konsumsi beras rakyat Indonesia tidak lebih dari empat juta ton.
Sekiranya tidak terjadi surplus beras, rakyat tetap bersedia karena ditukar dengan tekstil dan obat-obatan yang dibutuhkan.
Sjahrir berpikir, cara ini bisa mewujudkan hubungan ekonomi dan kedekatan hubungan antara Indonesia dan India sebagai negara yang sama-sama baru merdeka.
Belanda pun naik darah. Meskipun saat itu Belanda telah menyepakati untuk mengakui wilayah Republik meliputi Jawa, Sumatra, dan Madura dalam Perjanjian Linggarjati, namun blokade ekonomi tetap berlaku.
Baca Juga: Mengenal Sosok Adinegoro dan Jejaknya dalam Pers Indonesia
Bahkan wilayah udara dan laut Republik Indonesia masih diawasi ketat oleh militer Belanda. Ditambah ada larangan impor dan ekspor.
Namun apa dikata, India pada waktu itu sudah merdeka dan mengakhiri 200 tahun pemerintahan Inggris di India pada 15 Agustus 1947.
Itu sebabnya, Sutan Sjahrir meminta India untuk menjemput sendiri bantuan beras dari Indonesia sambil mengantarkan tekstil dan obat-obatan.
Dengan demikian, kapal Empress Favour milik India yang mengangkut bantuan beras dari Indonesia, tidak bisa ditolak oleh Belanda. Ditambah dengan pengawalan dari Inggris.
India pun akhirnya termasuk negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Selain itu, India juga mendukung kemerdekaan Indonesia dengan turut memperkarsai Konferensi Asia di New Delhi tahun 1946.
Nehru sangat terpukau dengan uluran tangan Sjahrir sehingga ia mengundang Sjahrir ke India.
Belanda mulai melakukan cara licik untuk mematikan gerakan Sjahrir. Sjahrir ditawari mampir ke Den Hag dan diundang kabinet sebelum ke India.
Bahkan Letnan Jenderal Hubertus van Mook bersedia menyiapkan tumpangan kepada Sjahrir.
Sjahrir menolak. Ia memilih naik pesawat milik Biju Patnaik, pebisnis Bengali teman akrab Nehru.
Nehru menyambut langsung Sjahrir dengan hangat di bandara.
Pintarnya Sjahrir, sepulang dari konferensi dia justru mampir ke Kairo, Mesir, dan berlanjut ke Suriah, Iran, Burma, dan Singapura dan membuktikan Indonesia sebagai negara merdeka.
Blokade Belanda atas Republik Indonesia jebol, karena negara-negara itu akhirnya mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia.
Begitulah dampak diplomasi beras gaya Sutan Sjahrir berhasil menjadikan Indonesia negeri yang berdaulat.
Sayang, negeri yang sudah lama merdeka ini justru kini menghadapkan warga pada harga beras yang melambung tinggi. ***

