POJOKSATU.id - Sejarah puasa di bulan Ramadhan merupakan bagian dari sejarah yang belum banyak diketahui oleh umat Islam hingga saat ini.
Secara nilai, sepanjang berjalannya Ramadhan, sejarah puasa adalah juga catatan umat Islam dalam memperkokoh ikatan sosial dan kebersamaan.
Bukan hanya tentang ketaatan untuk menahan diri, sejarah puasa juga tentang ikhtiar umat menjalankan ketekunan dalam ibadah.
Sejarah puasa adalah juga pengalaman panjang umat merasakan keberkahan yang terkandung dalam bulan yang penuh rahmat, bahkan disebut telah berlangsung sebelum zaman Nabi Muhammad SAW.
Baca Juga: Keutamaan Sunnah dan Panduan Puasa Nisfu Sya'ban yang Perlu Anda Ketahui
Karena itulah, sebagai salah satu rukun Islam yang dikerjakan satu kali dalam setahun, sejarah puasa cukup panjang dan disebut sama tuanya dengan umur manusia.
Dalam catatan sejarah puasa, awal pelaksanaan puasa pertama kali dilakukan oleh Nabi Adam AS.
Dikisahkan dalam Tafsir Ibnu Katsir bahwa; “Nabi Adam, puasa selama tiga hari tiap bulan sepanjang tahun”.
Ada juga riwayat lain yang mengatakan bahwa Nabi Adam berpuasa tiap tanggal 10 Muharram sebagai ungkapan rasa syukurnya lantaran Allah SWT, telah mengizinkannya bertemu atau berjumpa dengan istrinya, Siti Hawa di Jabal Rahmah Arafah.
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah [2]:183).
Baca Juga: Bongkar Rahasia Kesehatan Tersembunyi di Bulan Suci Ramadhan! Manfaat Puasa yang Tak Terbatas
Para ahli tafsir memiliki pandangan beragam mengenai makna frasa "sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu."
Beberapa menginterpretasikan bahwa penekanan terletak pada kewajiban puasa itu sendiri sebagai perumpamaan. Sementara yang lain lebih menyoroti orang yang berpuasa pada masa sebelumnya.
Meski demikian, kedua perbedaan ini tetap bermuara pada maksud orang-orang terdahulu beserta tata cara, waktu, dan lama puasa mereka.
Dijelaskan dalam hadis riwayat Ibnu Abbas RA, bahwa ketika Nabi Adam AS diturunkan ke muka bumi, seluruh tubuhnya terbakar oleh matahari, sehingga tubuhnya menjadi hitam.
Baca Juga: Afdol! Tata Cara dan Bacaan Lengkap Niat Puasa Ramadhan 2024! Meniti Keikhlasan dalam Berpuasa
Kemudian Allah Swt, memberikan wahyu kepadanya untuk berpuasa selama tiga hari berturut-turut yaitu tanggal 13, 14,
dan 15.
Ketika berpuasa pada hari pertama, sepertiga badannya menjadi putih.
Puasa hari kedua, sepertiganya lagi menjadi putih. Dan puasa hari ketiga, sepertiga sisa badannya kembali menjadi putih.
Berikut terjemahan hadis tersebut:
"Sebab dinamakan 'ayyamul bidh' adalah riwayat Ibnu Abbas RA, dinamakan ayyamul bidh karena ketika Nabi Adam AS diturunkan ke muka bumi, matahari membakarnya sehingga tubuhnya menjadi hitam.
Allah SWT kemudian mewahyukan kepadanya untuk berpuasa pada ayyamul bidh (hari-hari putih); 'Berpuasalah engkau pada hari-hari putih (ayyamul bidh)'.
Lantas Nabi Adam AS pun melakukan puasa pada hari pertama, maka sepertiga anggota tubuhnya menjadi putih. Ketika beliau melakukan puasa pada hari kedua, sepertiga anggota yang lain menjadi putih. Dan pada hari ketiga, sisa sepertiga anggota badannya yang lain menjadi putih."
Baca Juga: Menanti Kemenangan di Bulan Ramadan 2024! Catatan Puasa yang Diberkahi untuk Kesejahteraan Spiritual
Namun ada juga yang berpendapat bahwa puasa dinamai dengan istilah ayyamul bidh karena malam-malam itu terang benderang disinari rembulan, dan rembulan selalu menyinari bumi sejak matahari terbenam sampai terbit kembali.
Namun dalam buku Sejarah Puasa (2021) karya Ustaz Ahmad Sarwat, puasa pertama kali, terutama di Bulan Ramadan terjadi saat Nabi Nuh AS meninggalkan bahtera setelah banjir yang melanda sebagian besar bumi.
Mujahid menjelaskan bahwa Allah SWT menetapkan bahwa setiap umat telah ditujukan untuk menjalani puasa Ramadhan, dan sebelum zaman Nabi Nuh, yaitu ketika umat manusia sudah ada.
Imam al Qurthubi seperti yang dikutip dari buku Misteri Bulan Ramadan karya Yusuf Burhanudin, yang pertama kali berpuasa saat
Ramadhan adalah Nabi Nuh AS.
Puasa saat zaman Nabi Nuh ini dilakukan sebagai tanda dan rasa syukur kepada Allah SWT, atas keselamatan dirinya dan kaumnya dari badai dan banjir yang begitu dahsyat.
Dalam catatan lainnya, Nabi Musa AS berpuasa selama 40 hari dan 40 malam sebagai persiapan untuk menerima wahyu dari Allah di Bukit Sinai.
Baca Juga: Puasa Ramadan 2024 Sebentar Lagi! Catat Tanggal Awalnya di Kalender!
Kaum Yahudi menjelaskan bahwa mereka berpuasa sebagai ungkapan syukur kepada Allah karena Dia telah menyelamatkan Nabi Musa AS dan kaumnya dari serangan Fir'aun.
Mereka kemudian memilih untuk berpuasa pada hari ke-10 bulan Muharram. Puasa ini kemudian dikenal dengan istilah Puasa Asyura.
Nabi Muhammad SAW kemudian menjelaskan peristiwa tersebut kepada umatnya dan memerintahkan umat Islam untuk juga berpuasa pada tanggal 10 Muharram.
Lalu Nabi Daud AS dan pengikutnya diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa seumur hidup, dengan cara puasa setiap dua hari berselang-seling, yaitu satu hari berpuasa dan satu hari tidak.
Puasa ini kemudian dikenal sebagai puasa Nabi Daud dalam tradisi umat Islam.
Puasa juga telah dikenal oleh orang-orang pada zaman kuno dari berbagai bangsa, termasuk Mesir, India, Yunani, dan Romawi.
Kaum Yahudi dan Nasrani juga ikut mempertahankan praktik puasa hingga saat ini.
Bahkan terdapat juga tradisi puasa dalam agama Katolik dan Yahudi. Namun, jenis puasa yang dilakukan berbeda dengan puasa yang diamalkan oleh umat Islam pada saat ini.
Dalam Al-Qur'an, puasa diungkapkan melalui dua lafaz, shaum dan shiyam tersebut, kedua lafaz tersebut sama-sama menunjukkan makna puasa dalam arti menahan (al-imsak).
Maksudnya adalah kita harus menahan diri dari semua hal yang berpotensi untuk membatalkan atau mengurangi pahala dari puasa kita dari fajar sampai maghrib.
Namun perintah diwajibkannya pertama kali untuk berpuasa bagi seluruh umat Islam oleh Allah SWT terjadi pada pada bulan Sya'ban tahun ke-2 Hijriah atau pada tahun 624 Masehi.
Saat itu, Nabi Muhammad SAW baru saja menerima perintah untuk mengubah arah kiblat dari Baitul Maqdis di Palestina ke arah Masjidil Haram di Makkah.
Namun, pelaksanaan puasa Ramadhan yang diwajibkan bagi umat Islam dilakukan secara bertahap yaitu sebagaimana diturunkan dalam QS. Al-Baqarah 183 yang sudah dipaparkan di atas. ***

