POJOKSATU.id - Bukan hanya RA Kartini atau Dewi Sartika, pejuang pendidikan di Cianjur ini juga tak kalah jasanya. Namanya kini diabadikan sebagai nama Sekolah Dasar. Dialah Raden Siti Jenab.

Raden Siti Jenab adalah perempuan asli Sunda yang memegang peran kunci dalam meningkatkan kesadaran pentingnya pendidikan di Cianjur, khususnya bagi perempuan.

Raden Siti Jenab lahir di Kota Cianjur pada tahun 1890. Kecintaannya pada tanah kelahiran tak diragukan lagi. Terutama bagi pendidikan di Cianjur.

Terlebih lagi, ia dilahirkan dari keluarga yang mementingkan pendidikan. Sehingga membangun kesadaran pendidikan di Cianjur bagi Raden Siti Jenab adalah mutlak.

Ayahnya bernama Raden Martadilaga, seorang keturunan dari keluarga Patih Purwakarta, R Raden Dipamanggala dan R Martadilaga.

Baca Juga: Pesan Terakhir Kapten Muslihat, Menitipkan Uang ke Marzoeki Mahdi Sebelum Gugur dan Memberi Nama Anaknya: Tubagus Merdeka

Sedangkan ibu dari Raden Siti Jenab ini adalah Nyi Raden Siti Mariah yang masih mempunyai kekerabatan dengan priyayi di Brebes, Jawa Tengah.

Ibu Jenab, begitu perempuan itu biasa dipanggil, dikenang sebagai pejuang pendidikan di Cianjur saat wafat pada 28 Februari 1950 di Cianjur.

Ibu Jenab pernah menjalani pendidikan di Sekolah Raden Dewi Sartika yaitu Sakola Istri atas rekomendasi dari RA Cicih Wiarsih.

RA Cicih Wiarsih merupakan putri satu-satunya Bupati Cianjur R.A.A. Prawiradireja II. Masyarakat Cianjur lebih mengenal dengan sebutan Juag Cicih.

Juga Cicih juga aktif dalam membela hak-hak rakyat dalam bidang politik dan organisasi masyarakat di Cianjur.

Selama mengenyam pendidikan di Sakola Istri Bandung, ia mendapat bimbingan langsung dari Dewi Sartika, pendiri Sakola Istri.

Baca Juga: Kisah Penculikan Otto Iskandardinata Hingga Jasadnya Tak Ditemukan, Putrinya Ikut Mengungkapkan, Makam di Lembang Hanyalah Peti

Sekolah tersebut merupakan sekolah pertama wanita di Indonesia yang didirikan Raden Dewi Sartika pada 16 Januari 1904, di Paseban Kulon Pendopo Kabupaten Bandung.

Sekolah tersebut kemudian dipindahkan ke Jalan Ciguriang dan berubah nama menjadi Sekolah Kaoetamaan Isteri pada tahun 1910.

Setelah menyelesaikan pendidikan di sana, Siti Jenab kembali ke Cianjur.

Ia merasa prihatin dengan kondisi kaum perempuan yang tidak memiliki kesempatan yang sama dibanding kaum laki-laki untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Kondisi serupa memang terjadi di hampir setiap daerah di Indonesia, terutama sekitar abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Kondisi budaya di Indonesia pada saat itu menempatkan posisi seorang perempuan seolah kehilangan haknya dalam pendidikan atau keterampilan.

Ini karena pada akhir abad ke-19, sistem pendidikan Pemerintah Hindia Belanda hanya diperuntukan bagi kaum laki-laki dan keluarga pribumi elit.

Rata-rata, para gadis di Cianjur saat memasuki usia 12 tahun kaum perempuan harus masuk rumah, dipingit dan menunggu seorang pria datang melamar atau dijodohkan oleh orang tuanya.

Baca Juga: Kisah Cinta Romantis Jendral Sudirman, Rayuan Maut dan Kesetiaan Hingga Akhir Hayat

Seorang guru perempuan Belanda bernama B.H. Lans yang pernah datang ke tanah Priangan tahun 1913 dan menuliskan kehidupan perempuan Sunda.

“Waktu saya mulai bekerja di sini, hampir tidak ada atau sedikit sekali gadis-gadis yang pergi sekolah … semua kebebasan yang dimiliki gadis-gadis hilang lenyap pada usia menjelang nikah, yaitu pada usia sepuluh atau duabelas tahun”

Kesadaran untuk maju dari seorang Siti Jenab, sudah muncul jauh sebelum guru Belanda itu datang.

Pada awalnya Ibu Jenab giat mengenalkan pendidikan bagi kaum perempuan dengan cara berkeliling mendatangi rumah satu per satu.

Ia berkeliling antar kampung dan antar desa di Kota Cianjur. Sedikit demi sedikit ia mengajarkan banyak pengetahuan dan keterampilan bagi perempuan di Cianjur.

Raden Siti Jenab, meski seorang keturunan ningrat, tidak pernah sungkan membantu kaum perempuan untuk mendapatkan pendidikan gratis.

Berbekal keilmuan yang dimiliki Ibu Jenab saat mengenyam pendidikan di Sakola Istri milik Dewi Sartika, Ibu Jenab mengajarkan Bahasa Sunda, Bahasa Melayu, Bahasa Belanda, Berhitung, dan Pendidikan Bukdi Pekerti.

Ibu Jenab juga mengajarkan pendidikan praktis yang bisa dipraktekan sehari-hari oleh kaum perempuan seperti menjahit, membatik atau merenda.

Baca Juga: RIIZE Comeback dengan Lagu Love 119, Ceritakan Kisah Cinta Pertama yang Sad Ending

Usaha Siti Jenab memberikan pendidikan bagi masyarakat di Cianjur, terdengar di telinga Juag Cicih.

Pada tahun 1906 Juag Cicih memberikan dukungan kepada Siti Jenab dengan mewakafkan sebidang tanah warisan dari ayahnya RAA Prawiradireja II untuk dibangun menjadi sekolah.

Perlahan-lahan, berdirilah bangunan sekolah yang masih seadanya dengan bahan kayu dan bilik yang diberi nama Sekolah Jenab atau Meisjes Vervolg Scholl.

Sekolah ini bertempat di Kampung Joglo, tidak jauh dari gedung kantor Kabupaten Cianjur.

Ibu Jenab yang pernah belajar di Sakola Istri di Bandung sangat menghargai keilmuan yang pernah diberikan Dewi Sartika. Itu pula sebabnya, di Cianjur ada sekolah dengan nama Ibu Dewi.

Bahkan, pendidikan di sekolah yang dibangun Siti Jenab merupakan perpaduan dari Sakola Istri Dewi Sartika dan Sekolah Keutamaan Siti Ayu Lasminingrat.

Baca Juga: Tidak Hanya Karawang, Spot Mancing Liar di Cianjur Ini Jadi Pilihan Murah Meriah Para Angler, Joran dan Senar Sampai Putus!

Murid pertama yang bersekolah di Sekolah Jenab hanya sebanyak 27 orang, mereka adalah anak-anak gadis yang telah tamat Sekolah Dasar 3 tahun dan langsung masuk di kelas IV.

Sakola Kautamaan Istri dengan lama pendidikan tiga tahun di Cianjur itu merupakan Meisjes Vervolg School, artinya sekolah lanjutan untuk anak perempuan.

Oleh karena itu, murid-murid yang diterima di sekolah tersebut adalah anak-anak gadis yang telah tamat Sekolah Dasar tiga tahun.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Jenab, rata-rata mereka melanjutkan ke Van Deventer Scholl di Bandung.

Pada awal perjuangannya mendirikan sekolah, Siti Jenab banyak mendapatkan cemoohan dari kalangan ningrat di sekitarnya lantaran statusnya yang tinggi namun tidak gengsi merangkul kaum perempuan tak mampu di wilayah Cianjur.

Namun, ia tidak peduli dengan cemoohan mereka bahkan semakin keras berusaha melewati berbagai rintangan demi pendidikan perempuan di Cianjur.

Tekad kuat dari Siti Jenab memajukan kaum perempuan membuahkan hasil, sekolah yang ia kembangkan menjadi salah satu sekolah termashsyur di Tatar Parahyangan.

Baca Juga: Luhut Binsar Panjaitan, Putra Batak yang Redup di Masa Soeharto Berjaya Masa Jokowi

Keberadaan sekolah yang ia bangun terus berlanjut hingga zaman penjajahan Jepang.

Pada masa itu sekolah Jenab berganti nama menjadi Sekolah Rakyat Gadis.

Lalu setelah proklamasi kemerdakaan berganti nama lagi menjadi Sekolah Rakyat, dan lagi-lagi diganti menjadi Sekolah Dasar Ibu Jenab.

Hingga saat ini, sekolah tersebut telah berkembang dan menjadi Sekolah Negeri di Cianjur. Namanya ikut berubah menjadi Sekolah Dasar Ibu Jenab.

Ada empat sekolah yang tercatat bernama Ibu Jenab yakni SD Negeri Ibu Jenab Satu, Dua, Tiga hingga Empat. SD Negeri Ibu Jenab 1 adalah sekolah yang pertama kali dibangun oleh Ibu Jenab. ***