POJOKSATU.id, JAKARTA-- Menhankam atau Panglima ABRI era 1980 Jenderal M Yusuf tertuju pada seorang kapten yang sempat bersalaman dengannya, Kapten itu tak lain Luhut Binsar Panjaitan.

Setelah pertemuan singkat itu, Jenderal Yusuf memanggil Danjen Kopassus era itu Yogi SM dan meminta untuk memperhatikan karir Luhut.

Mendengar ucapan dari sang Jenderal, Danjen Kopassus Yogi SM heran. Seorang prajurit berpangkat Kapten menarik perhatian sang Panglima ABRI.

Ia tak habis pikir. Apa istimewanya seorang Kapten Luhut Binsar sampai membuat Menteri Pertahanan dan Keamanan meminta dirinya untuk melihat karir Luhut.

Baca Juga: Sudah Tiga Bulan Terakhir PDIP Hanya Kerap Menyindir Jokowi Saja, Tak Berani Kritik Langsung

Tak lama setelah Yusuf lepas landas, Yogi pun memanggil Luhut. Ia bertanya apakah dia mengenal Jenderal Yusuf. Luhut menggelengkan kepala tanda tak kenal.

Rupanya Jenderal Yusuf melihat sosok Luhut akan memiliki karir cemerlang, itu terbukti dengan dirinya meminta sang Danjen mengawasi anak buahnya itu.

Pertemuan di Lapangan Udara Serang adalah yang pertama. Itu pun, Luhut hanya bersalaman dan berbincang sebentar.

Tak ada yang menyangka jika rupanya, pertemuan singkat itu memberikan kesan mendalam di hati Jenderal Yusuf.

Begitu Luhut berpangkat Mayor, ia kerap diajak Yusuf keliling Indonesia, Padahal, Luhut bukan perangkat melekat Menhankam. Ia resmi jadi kesayangan Yusuf.

Saat berpangkat Mayor hingga Letkol, dari 1980 hingga 1983, Luhut nyaris selalu melekat di setiap kunjungan kerja M Jusuf.

Sekitar tahun 1982, saat meninjau markas Kopassus di Cijantung, M. Jusuf memanggil Mayor Luhut di depan para senior dan jenderal.

Saat itu, Luhut tengah terlibat dalam pembentukan pasukan antiteror Kopassus yang kemudian dinamakan Pasukan Antiteror Detasemen 81.

Baca Juga: Dinilai Rendahkan Mahfud MD di Debat Cawapres, Gus Paox : Gibran Tak Punya Adab

Nama pasukan ini diajukan oleh Luhut, sesuai dengan tahun digelarnya operasi antiteror pertama oleh pasukan Indonesia pada 1981, Operasi Woyla. Usul Luhut disetujui. M. Jusuf bahkan memuji Luhut di depan para seniornya.

“Seorang Jenderal memanggil dan memuji Mayor secara khusus di depan senior dan jenderal-jenderal, pasti membuat iri,” kenang orang dekat Luhut, Atmadji Sudjatmiko.

Atmadji adalah wartawan melekat Menhankam yang saat itu juga ada di lokasi.

Luhut juga merupakan kesayangan LB Moerdani. Ketika Benny menjadi Menhankam pada 1988, interaksinya bahkan lebih intens dibanding M Jusuf.

Saat berpangkat Letkol, Luhut sering dipanggil Benny ke kantornya, bahkan untuk sekadar makan siang. Banyak senior Luhut heran, mengapa Letkol satu ini sering bertemu Jenderal.

Bahkan Luhut dipanggil secara pribadi atau langsung.

Selama Soeharto berkuasa, Luhut tak pernah masuk jabatan struktural komando yang berkaitan dengan operasi teritorial.

Satu-satunya jabatan teritorial yang pernah ia pegang adalah Komandan Korem 081/Dhirotsaha Jaya Madiun.

Padahal, seluruh internal ABRI tahu jika Luhut adalah rising star. Ia berkali-kali menjadi lulusan terbaik di pelatihan komando, kecabangan infanteri, hingga kecabangan lintas udara.

“Luhut itu luar biasa, tapi kariernya terhambat di era Pak Harto,” kata eks Danjen Kopassus yang juga senior Luhut.

Baca Juga: Polisi Terima Laporan Korban yang Dipukuli di Bandung Karena Acungkan Simbol 2 Jari Saat Kampanye 03

Dengan prestasi cemerlang, karier Luhut hanya terhenti pada jenderal bintang tiga. Ia tak pernah menjadi panglima.

Dalam buku Hendro Subroto berjudul “Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando” disebut Soeharto sempat gerah karena Proyek Charlie yang digarap Luhut.

Proyek ini dianggap sebagai upaya mengudeta Soeharto, meski hingga saat ini tak ada bukti soal itu.

Karena karier militernya sudah mentok, Luhut sempat diusulkan menjadi Sekjen Kemendikbud.

Saat itu, Dwifungsi ABRI masih berlaku. Tentara diperbolehkan menempati jabatan struktural non-militer. Luhut sebenarnya memenuhi syarat. Tapi ia gagal di fase terakhir karena ada memo dari “atas” yang meminta Luhut tak jadi Sekjen Kemendikbud. Luhut lagi-lagi gagal.

Menurut Atmadji, yang saat ini masih mendampingi Luhut sebagai staf khusus, faktor utama karier Luhut mandek sebenarnya bukan Soeharto.

Musababnya, Luhut banyak dihambat oleh senior di level menengah dan tinggi yang iri dengan kedekatannya dengan M Jusuf dan Benny Moerdani. Mereka lah yang membisikkan informasi salah soal Luhut kepada Soeharto.

Setelah Soeharto lengser dan BJ Habibie menjadi presiden, Luhut ditunjuk menjadi Duta Besar RI untuk Singapura.

Menurut Sintong Panjaitan, yang saat itu menjadi penasihat Habibie, proses penunjukan Luhut terbilang cepat.

Habibie mencari sosok dubes berlatar belakang militer, jago melobi, dan bisa meredam ketegangan dengan Singapura.

Baca Juga: Cegah Kanker Serviks, Kahiyang Ayu Ajak Kaum Perempuan Lakukan Skrining Secara Rutin

Pasca Soeharto lengser, relasi Indonesia dengan Singapura sempat tegang. Bukan rahasia lagi, Soeharto memang bersahabat dengan pemimpin Negeri Singa, Lee Kuan Yew.

Lee tak senang dengan gerakan reformasi yang menurunkan Soeharto. Pun, ia meragukan kemampuan Habibie.

Dalam rapat yang diikuti Menteri Kehakiman Muladi, Mensesneg Akbar Tandjung, dan Sintong, nama Luhut muncul. Semua peserta rapat sepakat, Luhut yang paling cocok untuk mengisi kursi dubes Singapura.

Luhut awalnya menolak karena masih berharap bisa berkarier di militer. Setelah Habibie turun tangan, ia pun menyerah.

Ketika Abdurrahman Wahid alias Gus Dur menjadi presiden, Luhut juga ditawari posisi Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Di era Gus Dur pula, Luhut mendapat gelar jenderal kehormatan.

Baca Juga: Singgung Adab Gibran di Debat Cawapres, Puan Maharani : Etika dan Sopan Santun pada Orang Tua Itu Penting

Berbeda dengan Habibie, Luhut dekat dengan Gus Dur. Bahkan, saat Gus Dur lengser, Luhut menolak tawaran “menyeberang” ke kubu Megawati Soekarnoputri yang digadang-gadang menjadi presiden pengganti.

Saat itu, proses politik “penggusuran” Gus Dur sudah dimulai. Luhut tiba-tiba didatangi seniornya di TNI yang juga orang dekat Megawati, almarhum Mayjen Theo Syafei.

Theo menawarkan, jika Luhut ikut mundur sebagai menteri bersama 14 menteri lainnya, ia akan diberi posisi menteri jika Megawati jadi presiden.

“Bang, saya yang angkat menteri kan Gus Dur. Masa saya berkhianat. Lebih baik saya tenggelam bersama kapal,” kata Atmadji, menirukan perkataan Luhut kepada Theo Syafei saat itu.

Cerita Atmadji ini dibenarkan oleh putra Theo Syafei, Andi Widjajanto, dan putri Gus Dur, Yenny Wahid.

“Dibilang: ngapain ikut kapal karam. Di situ loyalitas Luhut ke Gus Dur teruji,” kata Yenny.

Benar saja. Begitu Megawati menjabat, Luhut pun “puasa” jabatan. Selama lebih dari 10 tahun, ia menepi dari dunia pemerintahan dan politik. Luhut memilih fokus mengurus bisnisnya yang sedang berkembang pesat.

Luhut baru muncul lagi saat Joko Widodo mencalonkan diri di Pilgub DKI 2012.

Luhut mendukung teman lamanya sesama pebisnis dari belakang layar.

Tak berhenti di situ, Luhut juga banyak berperan di pemenangan Jokowi di Pilpres 2014 melalui banyak kelompok relawan, misalnya Bravo V hingga Cakra 19.***