POJOKSATU.id - Tak banyak yang mengetahui persahabatan Kapten Muslihat dengan dr. Marzoeki Mahdi, seorang dokter pejuang dan pelopor Gerakan Kesehatan Jiwa di Indonesia.
Dalam surat kabar Gelora Rakjat terbitan 29 Desember 1945, diceritakan tentang peristiwa pertempuran di Bantenweg yang terjadi di sekitar rel kereta api Stasiun Bogor dan melukai Kapten Tubagus Muslihat.
Saat itu, Kapten Muslihat yang terluka parah diberi pertolongan oleh Marzoeki Mahdi dan sempat dibawa pulang ke rumahnya di daerah Panaragan Kidul dekat stasiun Bogor, karena lukanya terlalu parah.
Kapten Muslihat terluka oleh tembakan timah panas, beberapa di antaranya mengenai perut dan pinggangnya. Saat itu juga Marzoeki Mahdi berusaha menolongnya.
Baca Juga: Kisah Prabowo Subianto Gampar Prajurit Amerika Bikin Melongo, Dulu Sangar Sekarang Gemoy
Meski akhirnya, pengobatan yang dilakukan Marzoeki Mahdi tidak berhasil menyelamatkan nyawa Kapten Muslihat, karena kehabisan banyak darah.
Tubagus Muslihat pun meninggal disaksikan langsung oleh Marzoeki Mahdi.
Kapten Tubagus Muslihat yang berjuang dalam Revolusi Nasional Indonesia tahun 1945 di Bogor, ditugaskan sebagai komandan Kompi IV Batalyon II Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan pangkat Letnan Satu.
Kapten Tubagus Muslihat gugur pada 25 Desember 1945 saat bersama pasukannya melakukan penyerangan ke markas-markas yang diduduki tentara Inggris dan Sekutu.
Sebelumnya, pada bulan September banyak terjadi peristiwa genting khususnya di Bogor. Tentara Inggris atas nama Sekutu kembali datang ke Indonesia pada 14 September 1945.
Mereka pertama kali mendarat di lapangan udara Kemayoran, Jakarta dengan pasukan terjun payung di bawah pimpinan Mayor Greenhalgh, yang bertugas untuk mempersiapkan pembentukan Markas Besar Serikat (Sekutu) di Jakarta.
Kedatangan Greenhalgh disusul dengan berlabuhnya kapal penjelajah HMS Cumberland yang mendaratkan pasukan Sekutu di Tanjung Priok pada 29 September 1945.
Pertempuran di dekat stasiun Bogor melawan tentara Inggris menjadi pertempuran terakhir yang dipimpin oleh Kapten Muslihat.
Kapten Muslihat menghembuskan napas terakhirnya setelah sempat memberikan pesan kepada rekan-rekan seperjuangannya agar terus berjuang mempertahankan kemerdekaan.
Sebelum meninggal, Tubagus Muslihat juga memberikan wasiat kepada istrinya, Kartinah.
Ia meminta agar anak yang masih dalam kandungan diberi nama Tubagus Gelar Merdeka.
Selain itu, Kapten Muslihat menitipkan uang simpanannya sejumlah Rp 600 kepada Marzoeki Mahdi dengan harapan uang tersebut dapat disedekahkan kepada fakir miskin dan rekan-rekan seperjuangannya.
Sambil mengucapkan “Allahu Akbar” sebanyak tiga kali, dalam keadaan tenang dan pasrah, Kapten Tubagus Muslihat kembali pada Sang Pencipta.
Besoknya, jasadnya dikebumikan saat situasi masih perang dan meninggalkan istrinya yang sedang mengandung.
Tubagus Muslihat lahir pada hari Senin, 26 Oktober 1926, di Pandeglang, pada saat pemberontakan rakyat Indonesia terhadap pemerintah Kolonial Belanda di Banten tengah berlangsung sengit.
Ia adalah putra pertama dari Tubagus Djuhanudin, yang memiliki dua putra, dengan adik Tubagus Muslihat bernama Gustiman.
Baca Juga: Kisah Prabowo di Operasi Militer Mapenduma Selama Lebih 4 Bulan Bebaskan 26 Sandera OPM
Ayah Tubagus Muslihat merupakan seorang kepala Sekolah Rakyat yang kemudian dipindahkan tugasnya ke Jakarta dan selanjutnya ke Bogor.
Tubagus Muslihat memulai pendidikan formalnya di Hollandsch Inlandsche School (HIS) Rangkasbitung.
Namun, pendidikannya di HIS Rangkasbitung hanya mencapai kelas 3. Ini karena ia harus pindah bersama orang tuanya ke Jakarta.
Perpindahan ini yang menjadi latar belakang Tubagus Muslihat untuk memulai karir militernya di Bogor.
Di Jakarta, pada tahun 1940 Tubagus Muslihat menyelesaikan tingkatan HIS yang sempat terhenti di Rangkasbitung.
Baca Juga: Kisah Cinta Romantis Jendral Sudirman, Rayuan Maut dan Kesetiaan Hingga Akhir Hayat
Tubagus Muslihat kemudian melanjutkan pendidikannya ke tingkat MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) dan berhasil menyelesaikan hingga kelas dua.
Setelah menempuh pendidikan di MULO, Tubagus Muslihat kemudian memulai karirnya dengan bekerja di Balai Penelitian Kehutanan Gunung Batu Bogor.
Namun, setelah Kota Bogor dikuasai oleh Dai Nippon, Tubagus Muslihat memutuskan untuk berpindah kerja ke Rumah Sakit Kedung Halang Bogor.
Di sana, ia menempati posisi sebagai juru rawat.
Namun, tidak lama kemudian, Tubagus Muslihat memutuskan untuk pindah lagi ke Jawatan Kehutanan Gunung Batu Bogor karena merasa tidak betah di tempat sebelumnya.
Jepang, setelah berhasil menguasai Bogor, segera melakukan upaya propaganda untuk mendapatkan simpati dari rakyat.
Baca Juga: Sejarah Kelam Dikuliti, Para Aktivis Ini Ungkap Oligarki di Belakang Prabowo yang Akan Hidupkan Orba
Pada awal masa pendudukannya di Bogor, Jepang aktif mendirikan pasukan militer seperti Heiho, Keibodan, Seinendan, dan PETA sebagai bagian dari strategi mereka.
Ketika Jepang akhirnya membentuk PETA dan membutuhkan pasukan untuk mendukung mereka dalam perang Pasifik, Kapten Muslihat bergabung dalam PETA dan terpilih sebagai Shudanco, atau komandan seksi atau pleton.
Selama pendidikan militer di PETA, Kapten Muslihat menjalin banyak hubungan dengan rekan sesama perwira PETA, antara lain dengan Ishak Djuarsa, Abu Umar, Bustomi, dan para pemuda lainnya.
Di sini, mereka sering berdiskusi, yang pada akhirnya menumbuhkan rasa nasionalisme dalam pikiran Kapten Muslihat.
Dalam peristiwa peperangan di sekitar stasiun Bogor, Kapten Muslihat yang mengusulkan agar penyerangan terjadi pada saat perayaan Natal.
Alasannya adalah bahwa orang Eropa yang terkenal karena tradisi minum anggur pada malam perayaan Natal, dianggapnya dapat membuat mereka berada dalam kondisi yang tidak baik keesokan harinya.
Karenanya penyerangan terjadi di wilayah sekitar jalan Banten, dekat rel kereta api.
Kontak senjata tak terhindarkan, pasukan Inggris menyerang dan terus menembaki para pejuang Bogor.
Dari tempat persembunyiannya, Kapten Muslihat nekat keluar untuk melakukan penyerangan secara terbuka dan menembaki tentara sekutu.
Meskipun berhasil melumpuhkan beberapa tentara Sekutu, Kapten Muslihat akhirnya terkena timah panas Sekutu yang menembus perutnya.
Gustiman, sang adik yang ikut berperang mencoba menolong kakaknya yang sedang berjuang, namun sang kapten memerintahkan agar segera menyingkir agar tidak banyak korban yang berjatuhan.
Meskipun terus ditembak, Kapten Muslihat tetap berdiri dan menembaki hingga akhirnya peluru dari Sekutu kembali menembus pinggangnya, dan membuatnya jatuh tersungkur.
Darah mengucur dari seluruh tubuhnya, membasahi kaus yang semula berwarna putih bersih menjadi merah oleh darah.
Dalam pertempuran ini, para pejuang Bogor berhasil memukul mundur pasukan Sekutu dan berhasil merebut pos polisi yang berada di sekitar stasiun Bogor.***

