POJOKSATU.id - Mahasiswi Universitas Indonesia (UI) Gadis Alila Kuncoro resmi dinobatkan sebagai pemenang Miss Hijab Pendidikan Indonesia 2025.
Dalam ajang yang mengedepankan isu pendidikan, perempuan, dan sosial itu, Gadis membawa program advokasi bernama ScholarZip, yang ia rancang untuk menjembatani akses informasi beasiswa bagi pelajar di seluruh Indonesia.
Gadis mengatakan gelar ini menjadi bagian dari komitmennya untuk terus memperkuat kapasitas diri.
Ia menyebut, Miss Hijab Indonesia berfokus pada isu pendidikan, perempuan, dan sosial, sehingga ia berusaha memperkaya pengetahuan serta menajamkan cara berpikir agar relevan dengan topik yang diangkat.
Ajang bergengsi ini tidak hanya menilai penampilan dan kepribadian, tetapi juga kemampuan peserta dalam menyampaikan gagasan.
Gadis mengikuti berbagai tahap seleksi, seperti presentasi advokasi, debat, keyword challenge, hingga motion challenge yang bertema pendidikan dan pemberdayaan perempuan.
Sebelum puncak acara pada 15 November, ia juga menjalani pra-karantina bersama 43 peserta dari berbagai daerah.
ScholarZip, Program untuk Akses Beasiswa Lebih Merata
Advokasi ScholarZip yang diusung Gadis dirancang menjadi wadah informasi beasiswa yang inklusif.
Program ini mencakup kegiatan mentoring, webinar, hingga sesi luring edukatif dan inspiratif.
Melalui upaya tersebut, Gadis ingin membuka peluang seluas mungkin bagi pelajar yang selama ini kesulitan memperoleh informasi beasiswa, terutama mereka yang berasal dari daerah dengan akses terbatas.
Ia menilai, banyak peluang beasiswa yang sebenarnya tersedia, namun belum terjangkau akibat kurangnya informasi.
Karena itu, ScholarZip hadir sebagai jembatan yang mempermudah pelajar mendapatkan rujukan, pendampingan, dan arahan yang tepat.
Persiapan Matang dan Tantangan yang Menguji
Dalam masa persiapan kompetisi, Gadis memperdalam kapasitas diri dengan membaca lebih banyak referensi, mengikuti berita terkini, hingga melakukan kajian melalui jurnal.
Baca Juga: Relawan Gerakan Anak Negeri Buka Layanan Kesehatan di Gereja Betania dan Pasar Ampolu
Ia juga menyebut memperkuat nilai-nilai dasar melalui rujukan Al-Qur’an dan Hadis, serta mengasah kemampuan Bahasa Inggris sebagai nilai tambah.
Di tengah berbagai persiapan, Gadis tetap harus membagi waktu antara kuliah dan kompetisi.
Tantangan seperti rasa ragu dan kurang percaya diri pun sempat muncul.
Namun ia mengatasinya dengan disiplin manajemen waktu, belajar secara konsisten, dan menjaga komunikasi yang baik dengan pihak kampus serta tim pendukungnya.
Baca Juga: Krisis Kapasitas Menteri Kehutanan? Riwayat Pendidikan Raja Juli Jadi Sorotan Tajam
Ia menuturkan konsistensi belajar membuatnya lebih tenang, sementara pengelolaan waktu yang rapi membantu menyeimbangkan peran sebagai mahasiswa maupun peserta kompetisi.
Di balik pencapaian ini, Gadis berharap kemenangannya bisa menjadi inspirasi bagi pelajar dan perempuan muda Indonesia untuk berani mengambil peran lebih besar, terutama di bidang pendidikan dan pemberdayaan sosial.
Ia percaya, semangat belajar dan komitmen bisa membuka jalan menuju kesempatan yang lebih luas. ***




