POJOKSATU.id - Bidang pendidikan menjadi bidang studi dengan jumlah mahasiswa terbanyak di Indonesia.

Data yang disampaikan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menunjukkan jumlah mahasiswa bidang pendidikan mencapai sekitar 3,13 juta orang.

Data tersebut disampaikan Brian saat membuka Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (KONASPI) XII Tahun 2026 di Bali, Jumat, 2 Oktober 2026.

Forum yang berlangsung di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) itu mengusung tema “Transformasi Pendidikan Menuju Indonesia Emas 2045: Inovasi, Kolaborasi, dan Pendidikan Berkelanjutan”.

Baca Juga: Mendiktisaintek Minta Kampus Tak Kebanyakan Prodi, Rumpun Serupa Bisa Digabung

“Jumlah mahasiswa program studi pendidikan itu juga paling tinggi. Ada 3,13 juta (mahasiswa),” kata Brian dalam tayangan ulang kegiatan yang disiarkan melalui kanal YouTube Undiksha.

Data Kemdiktisaintek mencatat, pada 2025 Indonesia memiliki 34.711 program studi, 11,5 juta mahasiswa, 328 ribu dosen, serta menghasilkan sekitar 2,78 juta lulusan.

Bidang pendidikan sendiri memiliki sekitar 7.045 program studi dengan jumlah mahasiswa mencapai 3,13 juta orang.

Besarnya jumlah mahasiswa di bidang ini menunjukkan kuatnya minat terhadap rumpun keilmuan pendidikan sekaligus besarnya kebutuhan Indonesia terhadap tenaga pendidik.

Baca Juga: PPDB SMA Unggul Garuda 2026 Dibuka, Sekaligus Terapkan 3 Kurikulum Nasional, IB-DP, dan STEM

10 Bidang Studi dengan Mahasiswa Terbanyak
Dalam paparannya di KONASPI XII, Brian juga menunjukkan gambaran jumlah mahasiswa berdasarkan kelompok bidang keilmuan.

Berikut 10 bidang studi dengan jumlah mahasiswa terbanyak:
1. Pendidikan: 3,13 juta mahasiswa.

2. Sosial: 2,32 juta mahasiswa.

3. Ekonomi: 2,08 juta mahasiswa.

4. Teknik: 1,69 juta mahasiswa.

5. Kesehatan: 1,16 juta mahasiswa.

6. Pertanian: 487.000 mahasiswa.

7. Agama: 309.000 mahasiswa.

8. Humaniora: 202.000 mahasiswa.

9. Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA): 180.000 mahasiswa.

10. Seni: 118.000 mahasiswa.

Baca Juga: Kemendikdasmen Buka 15 Bidang Studi Kejuruan dalam Seleksi PPG Calon Guru 2026, Cek Disini!

Angka tersebut memperlihatkan jarak yang cukup besar antara bidang pendidikan dengan beberapa bidang yang menjadi penopang pengembangan sains dan teknologi.

Mahasiswa bidang teknik, misalnya, berjumlah sekitar 1,69 juta orang. Sementara itu, jumlah mahasiswa MIPA hanya sekitar 180.000 orang.

“Teknik itu hanya 1,69 juta, selanjutnya (angkanya) turun-turun. MIPA lebih kecil lagi 180.000 (mahasiswa),” ujar Brian.

Mahasiswa STEM Baru Sekitar 28 Persen
Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena Indonesia membutuhkan lebih banyak talenta yang menguasai sains, teknologi, teknik, dan matematika atau STEM.

Baca Juga: LPDP 2026 Ubah Arah Fokus Studi yang Berdampak untuk Indonesia, Bidang STEM Didorong

Brian menyebut proporsi mahasiswa atau lulusan yang berkaitan dengan STEM masih sekitar 28 persen.

Kelompok tersebut mencakup bidang seperti teknik, kesehatan, pertanian, serta MIPA.

“Teknik ditambah kesehatan ditambah pertanian juga masih masuk, ditambah MIPA, itu jumlahnya kurang dari 30 persen, sekitar 28 persen,” kata Brian.

Menurut Brian, Presiden Prabowo Subianto meminta agar jumlah talenta pada bidang-bidang STEM terus diperkuat.

Langkah ini dinilai penting karena Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang mampu mendukung perkembangan industri, riset, teknologi, dan produktivitas ekonomi.

Brian juga mengaitkan kebutuhan tersebut dengan upaya Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah atau middle-income trap.

Baca Juga: Pelatihan Teknis Non-Gelar Kemendikdasmen 2026 Dibuka, Ada STEM dan AI: Cek Syaratnya

“Lulusannya didominasi oleh pendidikan yang terkait dengan STEM, terkait dengan industri. Nah ini PR kita,” jelasnya.

Karena itu, perguruan tinggi tidak cukup hanya memperbanyak jumlah program studi dan lulusan.

Pendidikan tinggi juga dituntut memastikan kompetensi yang dihasilkan relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia industri.

Kampus Didorong Jadi Pusat Solusi
Dalam kesempatan yang sama, Brian menegaskan bahwa perguruan tinggi perlu mengubah orientasinya.

Kampus tidak boleh hanya berfokus pada administrasi akademik, jumlah lulusan, publikasi, atau akreditasi.

“Kampus kini wajib bertransformasi menjadi pusat solusi, inovasi, dan penggerak pertumbuhan ekonomi nasional,” tegas Brian.

Baca Juga: Brian Sebut Dosen PPPK Tak Akan Direkrut Lagi, Mendiktisaintek Ungkap Fakta Baru Melalui KemenPANRB

Kemdiktisaintek menyebut transformasi tersebut diarahkan agar pelaksanaan tridharma perguruan tinggi menghasilkan dampak yang lebih nyata bagi masyarakat dan industri.

Pada 2026, pemerintah juga telah menata relevansi program studi, termasuk menutup atau mentransformasikan 122 program studi.

Penguatan bidang STEM menjadi salah satu bagian dari kebutuhan tersebut.

Jumlah mahasiswa yang besar perlu diikuti peningkatan kualitas, relevansi kompetensi, serta keterhubungan pendidikan tinggi dengan kebutuhan pembangunan.

Di sisi lain, Mendikdasmen Abdul Mu’ti menekankan bahwa perguruan tinggi dan sekolah juga perlu dipandang sebagai satu ekosistem.

Menurutnya, peningkatan mutu pendidikan tidak dapat dilakukan secara terpisah antara pendidikan tinggi dengan pendidikan dasar dan menengah.

“Hubungan antara pendidikan tinggi dan pendidikan dasar serta menengah merupakan sebuah ekosistem,” kata Abdul Mu’ti dalam KONASPI XII.

Baca Juga: Mendiktisaintek Ungkap Jumlah Prodi di Indonesia Capai 34.711, Mahasiswa STEM Baru 28 Persen, Ini Dampaknya

Khusus bidang pendidikan yang memiliki jumlah mahasiswa paling besar, penguatan kualitas Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) menjadi penting.

LPTK memiliki peran strategis dalam menyiapkan calon guru sekaligus mendukung peningkatan mutu pembelajaran di sekolah.

KONASPI XII yang berlangsung pada 2–4 Oktober 2026 di Bali juga menghasilkan Rekomendasi Bali.

Salah satu rekomendasinya adalah penguatan pembelajaran yang mengintegrasikan literasi, numerasi, sains, STEM, dan berpikir komputasional melalui pembelajaran mendalam.

Baca Juga: BRIN Rancang Tata Kelola Laboratorium STEM Sekolah Unggul Garuda, Kompetensi Guru Jadi Sorotan

Dengan jumlah 11,5 juta mahasiswa pada 2025, pendidikan tinggi Indonesia memiliki modal sumber daya manusia yang besar.

Tantangannya kini bukan sekadar menambah jumlah mahasiswa, tetapi memastikan pilihan bidang keilmuan, kompetensi lulusan, dan riset perguruan tinggi semakin sesuai dengan kebutuhan Indonesia menuju 2045. ***