POJOKSATU.id - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengungkap skala pendidikan tinggi Indonesia.
Pada 2025, jumlah program studi (prodi) mencapai 34.711, dengan 11,5 juta mahasiswa, 328 ribu dosen, dan 2,78 juta lulusan.
Data tersebut disampaikan Brian dalam Konferensi Nasional Pendidikan Indonesia (KONASPI) ke-12 bertema "Transformasi Pendidikan Menuju Indonesia Emas 2045: Inovasi, Kolaborasi, dan Pendidikan Berkelanjutan", Jumat (2/10/2026).
Dari jumlah tersebut, bidang pendidikan memiliki 7.045 prodi dengan sekitar 3,13 juta mahasiswa.
Baca Juga: Pendaftaran Poltekimipas 2026 Dibuka, Ada 405 Formasi untuk 6 Prodi, Gunakan Seleksi Sistem Gugur
Sementara proporsi mahasiswa pada bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM), yang mencakup teknik, kesehatan, pertanian, serta matematika dan ilmu pengetahuan alam (MIPA), baru sekitar 28 persen.
Penguatan STEM Jadi Perhatian
Brian menilai proporsi tersebut perlu menjadi perhatian di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI), komputasi kuantum, dan kebutuhan industri terhadap sumber daya manusia dengan kemampuan sains dan teknologi.
Karena itu, perguruan tinggi perlu memperkuat sains fundamental sebagai fondasi pengembangan teknologi dan inovasi.
"Kecuali satu, kita menguasai hard science. Kita menguasai fundamental science," ujar Brian.
Baca Juga: Daftar Prodi dan Kuota PKN STAN 2026, Pendaftaran Dibuka hingga 30 Agustus
Menurutnya, penguatan keilmuan tidak harus dilakukan dengan terus membuka prodi baru.
Perguruan tinggi perlu lebih fleksibel mengembangkan substansi keilmuan sesuai perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat.
"Yang perlu dikembangkan itu bukan prodinya, tapi keilmuannya," kata Brian.
Peran Guru dalam Mendorong Minat STEM
Upaya memperkuat STEM juga berkaitan dengan pendidikan calon guru.
Brian menilai perguruan tinggi kependidikan memiliki peran strategis untuk melahirkan guru inovatif yang mampu membuat pembelajaran sains dan teknologi lebih menarik bagi peserta didik.
"Kampus-kampus pendidikan, kampus-kampus yang nantinya akan melahirkan guru-guru yang inovatif.
Kampus yang akan melahirkan inovasi-inovasi di bidang pendidikan," ujar Brian.
Guru yang berhasil mengembangkan inovasi pembelajaran juga perlu mendapat stimulus agar minat peserta didik terhadap sains fundamental dapat tumbuh sejak dini.
Baca Juga: Daftar Prodi dan Detail Kuota PKN STAN 2026, Ada 1.000 Formasi di 4 Program Studi
Riset Harus Terhubung dengan Kebutuhan Industri
Penguatan STEM juga perlu diikuti peningkatan kualitas riset dan inovasi.
Brian mendorong perguruan tinggi membangun hubungan lebih erat dengan industri untuk memahami perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja.
"Kita ingin pendidikan kita berdampak, kita ingin riset inovasi kita juga kuat, dan tentunya adalah bagaimana pengabdian-pengabdian juga bisa memberikan dampak yang besar," tegas Brian.
Selain itu, perguruan tinggi didorong memperkuat kapasitas dosen dan meningkatkan jumlah profesor melalui pengembangan karier akademik.
Arah tersebut sejalan dengan semangat Diktisaintek Berdampak yang menempatkan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sebagai kontribusi nyata perguruan tinggi.
Rektor Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), I Wayan Lasmawan, menilai pendidikan berperan penting dalam membangun sumber daya manusia dan karakter, termasuk integritas, gotong royong, dan cinta tanah air.
Ia berharap KONASPI menjadi rujukan dalam perumusan kebijakan pendidikan berbasis bukti serta mendorong lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru melalui kolaborasi.
Dengan 34.711 prodi dan proporsi mahasiswa STEM sekitar 28 persen, perhatian pendidikan tinggi tidak hanya pada jumlah program studi dan mahasiswa, tetapi juga pada penguatan keilmuan, kualitas lulusan, riset, serta keterkaitannya dengan kebutuhan teknologi dan masyarakat menuju Indonesia Emas 2045. ***




