POJOKSATU.id - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali mencatat prestasi di panggung pendidikan tinggi dunia. 

Dalam QS World University Rankings (QS WUR) 2027, UMY berada di kelompok peringkat 1.201–1.400 dunia.

Capaian tersebut sekaligus membuat UMY menjadi satu-satunya perguruan tinggi beridentitas Islam dari Indonesia yang masuk dalam daftar QS WUR 2027.

Di level nasional, UMY menempati posisi ke-14 dari 20 perguruan tinggi Indonesia yang berhasil masuk pemeringkatan global tersebut.

Posisi itu juga menempatkan UMY sebagai perguruan tinggi swasta terbaik kedua di Indonesia. 

Baca Juga: Kasus Unsoed Picu Evaluasi UU Pendidikan Tinggi, JPPI Soroti PTN-BH dan Biaya Kuliah

Khusus di Daerah Istimewa Yogyakarta, UMY berada di bawah Universitas Gadjah Mada.

Namun, ada catatan penting. QS sebenarnya tidak menyediakan kategori khusus untuk universitas Islam dalam QS WUR. 

Predikat tersebut muncul setelah perguruan tinggi yang memiliki identitas Islam disaring dari daftar pemeringkatan global QS.

Empat Tahun Bertahan di Kelompok yang Sama

Menariknya, posisi UMY dalam pemeringkatan dunia belum bergeser selama empat edisi terakhir.

Mulai QS WUR 2024 hingga 2027, UMY konsisten berada di kelompok 1.201–1.400 dunia.

Baca Juga: Didesak Massa, Pimpinan DPR Siap Mundur Jika RUU Perampasan Aset Tak Disahkan 15 Desember

Meski peringkat keseluruhan tetap, bukan berarti seluruh indikatornya berjalan di tempat. 

Sejumlah komponen penilaian justru menunjukkan perkembangan. Salah satu yang paling menonjol adalah International Research Network atau jaringan riset internasional. 

UMY menyebut skor indikator tersebut meningkat 92 persen dibandingkan QS WUR 2026. Peringkat UMY untuk indikator yang sama juga naik 42 posisi.

Wakil Rektor Bidang Mutu, Reputasi, dan Kemitraan UMY Slamet Riyadi mengatakan perkembangan itu berkaitan dengan semakin kuatnya kolaborasi penelitian lintas negara.

“Skor yang paling tinggi naik adalah pada International Research Network. Ini menunjukkan bahwa UMY punya jejaring mitra kolaborasi riset yang berkelanjutan di seluruh dunia,” ujarnya.

Baca Juga: Seleksi Mandiri PTN Mau Dihapus Usai Kasus Unsoed? Ini Respons MRPTNI dan DPR

QS menilai jaringan riset internasional dengan melihat jumlah negara mitra sekaligus keberlanjutan kolaborasi yang menghasilkan publikasi bersama.

UMY sendiri menargetkan memiliki sedikitnya dua institusi mitra di setiap negara, dengan sekurang-kurangnya tiga publikasi bersama.

Publikasi Riset Ikut Bertumbuh

Penguatan jejaring internasional tersebut berjalan bersamaan dengan peningkatan publikasi ilmiah UMY sepanjang periode 2020–2024.

Pertumbuhan publikasi paling tinggi tercatat pada bidang ilmu alam serta ilmu hayati dan kedokteran.

Sementara itu, pertumbuhan jumlah publikasi di bidang seni dan humaniora menjadi yang paling moderat. Meski demikian, bidang tersebut justru menunjukkan peningkatan dampak sitasi paling besar.

Baca Juga: Suasana Memanas, Massa AMPB Pati Mundur, Massa Aksi Lain Merangsek ke Depan DPR

Hal ini memperlihatkan bahwa performa akademik sebuah kampus tidak hanya dilihat dari jumlah penelitian. 

Dampak dan keterhubungan riset dengan komunitas akademik global juga ikut memainkan peran.

UMY Punya Target Baru

Setelah mampu mempertahankan posisi global selama empat edisi, UMY kini memasang sasaran yang lebih tinggi.

Rektor UMY Achmad Nurmandi menyatakan kampusnya ingin menembus jajaran 1.000 universitas terbaik dunia.

Untuk mengejar target tersebut, UMY akan memperkuat sejumlah aspek, mulai dari kualitas akademik, lulusan, hubungan dengan dunia industri hingga kemitraan internasional.

Baca Juga: Terkait Pembekuan Rekening Mas Botok, Yusril Tegaskan Bukan Perintah Satgas TPPU

QS WUR 2027 sendiri memasukkan 1.504 perguruan tinggi dari berbagai negara. 

Secara keseluruhan, QS melakukan penilaian terhadap 8.808 institusi dari 106 negara.

Persaingan tahun ini juga semakin ketat dengan hadirnya 98 institusi baru. 

Sebagian besar perguruan tinggi pendatang tersebut berada pada kelompok peringkat 1.000–1.500 dunia.

Sementara itu, belum ada perguruan tinggi Islam Indonesia lainnya yang masuk QS WUR 2027. 

Kondisi tersebut tidak otomatis berarti kampus-kampus tersebut tidak memiliki pemeringkatan di QS.

Produk pemeringkatan seperti QS Asia University Rankings memiliki cakupan dan metodologi yang berbeda sehingga hasilnya pun tidak bisa disamakan begitu saja.

Baca Juga: Astagfirullah, KPK Ungkap Jual-Beli Kursi Unsoed Libatkan Guru SMA, Tarif Masuk Rp50 Juta-Rp500 Juta

Bukan Sekadar Soal Reputasi

QS WUR menyusun peringkat universitas melalui sembilan indikator yang dikelompokkan dalam lima aspek utama, yakni riset dan penemuan, kesiapan kerja serta hasil lulusan, pengalaman belajar, keterlibatan global, dan keberlanjutan.

Reputasi akademik menjadi komponen dengan bobot terbesar, mencapai 30 persen. 

Berikutnya, sitasi per dosen menyumbang 20 persen dan reputasi di kalangan pemberi kerja memiliki bobot 15 persen.

Indikator lain mencakup rasio dosen dan mahasiswa, hasil kerja lulusan, proporsi dosen serta mahasiswa internasional, jaringan riset internasional, dan keberlanjutan.

Karena itu, capaian UMY di QS WUR 2027 bukan hanya tentang angka peringkat. 

Baca Juga: Kemenhaj Buka Pendaftaran Mutasi PNS Batch II, Cek Syarat dan Jadwal Lengkap Seleksinya

Konsistensi selama empat tahun dan peningkatan pada jaringan riset menunjukkan adanya proses panjang yang terus dibangun.

Bertahan di panggung global tentu bukan akhir perjalanan. Justru dari posisi inilah tantangan berikutnya dimulai. 

Target masuk 1.000 besar dunia menjadi pekerjaan rumah baru bagi UMY.

Publik kini tinggal menunggu sejauh mana konsistensi riset, kualitas akademik, serta jejaring internasional mampu membawa kampus ini melangkah lebih jauh. ***