POJOKSATU.id — Mahasiswa KKN-T IPB tahun 2026 melaksanakan program kerja pembuatan kandang sirkular maggot Black Soldier Fly (BSF) di Dukuh Sangen, Desa Gumul, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, pada 27 Juli 2026.

Kegiatan yang berlangsung di kediaman Bening Marjuki tersebut menjadi sarana pengenalan teknologi sederhana untuk membudidayakan maggot sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan limbah organik.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh perwakilan masyarakat dari sejumlah dukuh lainnya di Desa Gumul.

Baca Juga: Unsoed Buka Suara Kasus OTT KPK, BEM Kawal Proses Hukum, Aliansi Soedirman Melawan Gelar Aksi

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN-T IPB menghadirkan contoh kandang sirkular maggot BSF beserta konsep pemanfaatannya.

Masyarakat tidak hanya diperkenalkan dengan bentuk kandang, tetapi juga diberikan pemahaman mengenai bagaimana sistem tersebut dapat digunakan untuk mendukung kegiatan peternakan dan pengelolaan limbah organik.

Konsep kandang dirancang agar masyarakat dapat melihat secara langsung penerapan budidaya maggot yang sederhana dan berpotensi diterapkan secara mandiri di lingkungan rumah maupun peternakan.

Baca Juga: Lowongan Dosen S1 UMY 2026 Dibuka, Ada 4 Jurusan, Ini Syarat Lengkapnya

Program kemudian diawali dengan demonstrasi kandang maggot. Mahasiswa menjelaskan fungsi dari setiap bagian kandang, sehingga masyarakat dapat memahami peran masing-masing komponen dalam mendukung proses budidaya maggot BSF.

Demonstrasi tersebut juga memberikan gambaran mengenai cara kerja kandang dan bagaimana setiap bagian dapat menunjang keberlangsungan siklus budidaya maggot secara lebih teratur.

Setelah demonstrasi kandang, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian informasi mengenai siklus hidup maggot BSF dan cara perawatannya.

Baca Juga: Polda Metro Ungkap Uang Palsu Kualitas A Rp 36 Miliar di Tangsel Mau Didistribusikan ke Bank

Masyarakat diperkenalkan dengan tahapan perkembangan BSF serta hal-hal yang perlu diperhatikan selama proses pemeliharaan.

Pengetahuan tersebut diberikan agar masyarakat tidak hanya mengetahui manfaat maggot, tetapi juga memahami cara menjaga keberlangsungan budidayanya sehingga dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Mahasiswa KKN-T IPB selanjutnya menjelaskan berbagai potensi pemanfaatan maggot BSF. Maggot dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber pakan bagi ternak, khususnya karena kandungan nutrisinya yang dapat menunjang kebutuhan pakan.

Selain itu, hasil samping budidaya maggot juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk, sementara maggot sendiri berperan dalam membantu mengurai limbah organik.

Baca Juga: NPL Tembus 34 Persen, DPRD Kota Bandung: BPR Tak Bisa Sekadar Disuntik Mati

Dengan demikian, budidaya maggot dapat menjadi bagian dari konsep pemanfaatan limbah yang menghasilkan nilai guna bagi kegiatan pertanian dan peternakan masyarakat.

Bening Marjuki selaku tuan rumah sekaligus salah satu masyarakat yang mengikuti kegiatan menyampaikan respons positif terhadap program tersebut.

Menurutnya, keberadaan kandang maggot dapat memberikan manfaat terutama bagi masyarakat yang menjalankan usaha peternakan unggas.

“Program kandang maggot ini bagus karena dapat menghemat pengeluaran untuk pakan terutama bagi peternak unggas,” ujar Bening.

Pernyataan tersebut menunjukkan adanya peluang pemanfaatan maggot sebagai alternatif untuk membantu menekan biaya pakan yang menjadi salah satu komponen pengeluaran dalam usaha peternakan.

Baca Juga: Ruben Onsu Buka Suara soal Dugaan Penipuan Rp3,5 Miliar, Berharap Kasusnya Tak Dimanfaatkan untuk Menutupi Isu Nasional

Kegiatan pembuatan dan pengenalan kandang sirkular maggot BSF tersebut mendapat respons cukup positif dari masyarakat Desa Gumul.

Melalui program ini, mahasiswa KKN-T IPB tidak hanya memperkenalkan teknologi budidaya maggot, tetapi juga mendorong masyarakat untuk melihat limbah organik sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali.

Dengan pemahaman mengenai budidaya, perawatan, serta pemanfaatannya sebagai pakan dan pupuk, kandang sirkular maggot diharapkan dapat menjadi salah satu contoh inovasi sederhana yang berpotensi diterapkan masyarakat Desa Gumul secara berkelanjutan.***