POJOKSATU.id - Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mendorong transformasi pembelajaran di sekolah. Ini agar tidak lagi berorientasi pada kemampuan menghafal, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik.
Salah satu pendekatan yang kini menjadi acuan dalam evaluasi Pembelajaran Mendalam (PM) adalah Taksonomi SOLO atau Structure of the Observed Learning Outcome.
Pendekatan ini digunakan untuk melihat kualitas pemahaman peserta didik secara bertahap, mulai dari kemampuan paling dasar hingga mampu menghubungkan berbagai konsep dan menghasilkan gagasan baru.
Dengan demikian, penilaian tidak hanya berfokus pada hasil akhir berupa nilai, tetapi juga pada proses berkembangnya cara berpikir siswa.
Mendikdasmen Abdul Mu'ti menjelaskan bahwa evaluasi dalam Pembelajaran Mendalam menggunakan Taksonomi SOLO sebagai landasan untuk mengukur perkembangan kemampuan berpikir peserta didik.
Penjelasan tersebut disampaikannya saat peluncuran Pelatihan Pembelajaran Mendalam, Koding, dan Kecerdasan Artifisial (PMKKA) Tahun 2026.
Menurut Abdul Mu'ti, pendekatan tersebut mendorong peserta didik mengembangkan executive learning, yaitu kemampuan mengelola proses belajar, memahami cara belajar yang efektif (learning how to learn), sekaligus melakukan refleksi terhadap pengalaman belajar yang telah dijalani.
Melalui pendekatan tersebut, proses evaluasi tidak lagi sekadar mengukur banyaknya materi yang diingat peserta didik, tetapi juga menilai bagaimana mereka membangun pengetahuan, memecahkan masalah, serta mengembangkan kemampuan berpikir secara mandiri.
Apa Itu Taksonomi SOLO?
Taksonomi SOLO merupakan singkatan dari Structure of the Observed Learning Outcome, yaitu kerangka evaluasi hasil belajar yang dikembangkan oleh pakar pendidikan asal Selandia Baru, John B. Biggs bersama Kevin F. Collis pada awal 1980-an.
Kerangka ini digunakan untuk mengukur kualitas hasil belajar berdasarkan kedalaman pemahaman peserta didik.
Dengan kata lain, yang dinilai bukan hanya banyaknya informasi yang berhasil diingat, tetapi juga bagaimana peserta didik memahami, menghubungkan, dan menggunakan pengetahuan tersebut.
Baca Juga: Bupati Bandung Klaim Ratusan Ribu Warga Sudah Terdaftar BPJS Ketenagakerjaan
Melalui Taksonomi SOLO, guru dapat melihat perkembangan struktur berpikir peserta didik dari tahap yang paling sederhana hingga mampu menghasilkan gagasan baru berdasarkan pemahaman yang dimiliki.
Artinya, dua peserta didik yang memperoleh nilai akhir sama belum tentu memiliki kualitas pemahaman yang setara.
Salah satunya mungkin hanya mampu mengingat fakta, sementara yang lain telah mampu menghubungkan berbagai konsep dan menerapkannya dalam situasi yang berbeda.
Lima Tahapan Taksonomi SOLO
Taksonomi SOLO membagi perkembangan pemahaman peserta didik ke dalam lima tingkatan yang menunjukkan kualitas proses berpikir.
1. Prastruktural (Prestructural)
Pada tahap ini peserta didik belum memahami konsep yang dipelajari. Jawaban yang diberikan umumnya tidak relevan atau menunjukkan adanya miskonsepsi terhadap materi.
Sebagai contoh, ketika diminta menjelaskan penyebab perubahan iklim, peserta didik justru menerangkan tentang pergantian musim tanpa menghubungkannya dengan faktor penyebab perubahan iklim.
2. Unistruktural (Unistructural)
Peserta didik mulai memahami satu aspek penting dari materi, tetapi belum mampu menghubungkannya dengan konsep lain.
Misalnya, siswa mengetahui bahwa gas karbon dioksida menjadi salah satu penyebab pemanasan global, tetapi belum memahami mekanisme bagaimana gas tersebut memengaruhi suhu bumi.
Baca Juga: Peringati Hari Koperasi ke-79, Dekopinda Jember Gelar Jalan Sehat hingga Genjot Kebangkitan UMKM
3. Multistruktural (Multistructural)
Pada tahap ini peserta didik telah menguasai beberapa informasi penting, tetapi masih memandang setiap informasi sebagai bagian yang berdiri sendiri.
Sebagai contoh, siswa mampu menjelaskan penyebab perubahan iklim, dampaknya, dan upaya mitigasi, namun belum dapat menjelaskan keterkaitan di antara ketiga konsep tersebut.
4. Relasional (Relational)
Peserta didik mulai mampu menghubungkan berbagai informasi menjadi satu pemahaman yang utuh.
Pada tingkat ini, siswa dapat menjelaskan hubungan sebab-akibat, membandingkan berbagai konsep, menarik kesimpulan, serta memecahkan masalah berdasarkan keterkaitan informasi yang dimiliki.
Kemampuan berpikir analitis mulai berkembang secara lebih kuat.
Baca Juga: Trump Klaim Batalkan Serangan Besar-besaran Terhadap Iran, Diminta Negara-negara di Timteng
5. Abstrak Diperluas (Extended Abstract)
Tahap ini merupakan tingkat tertinggi dalam Taksonomi SOLO.
Peserta didik tidak hanya memahami hubungan antarkonsep, tetapi juga mampu mengembangkan ide baru, membuat generalisasi, menyusun hipotesis, menghasilkan solusi inovatif, hingga menerapkan pengetahuan pada konteks yang berbeda.
Kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan reflektif berkembang secara optimal pada tahap ini sehingga menjadi tujuan utama dalam Pembelajaran Mendalam.
Mengapa Taksonomi SOLO Penting?
Di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat, kemampuan menghafal informasi saja tidak lagi memadai.
Peserta didik dituntut mampu menganalisis persoalan, mengevaluasi informasi, menyusun solusi, serta menghasilkan gagasan yang inovatif.
Taksonomi SOLO membantu guru mengidentifikasi posisi kemampuan berpikir setiap peserta didik sehingga strategi pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Guru juga dapat memberikan umpan balik yang lebih tepat untuk membantu peserta didik berkembang menuju tingkat pemahaman yang lebih tinggi.
Pendekatan ini sekaligus memperkuat pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student-centered learning), karena siswa didorong menjadi subjek aktif dalam membangun pengetahuannya sendiri.
Peran Taksonomi SOLO dalam Pembelajaran Mendalam
Dalam konsep Pembelajaran Mendalam yang dikembangkan Kemendikdasmen, keberhasilan belajar tidak hanya diukur melalui capaian akademik, tetapi juga melalui kualitas pemahaman dan kemampuan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan nyata.
Taksonomi SOLO menjadi kerangka evaluasi yang mendukung tujuan tersebut karena mampu menggambarkan perkembangan belajar peserta didik secara bertahap, mulai dari mengenali informasi hingga mampu menghasilkan gagasan baru berdasarkan pemahaman yang dimiliki.
Pendekatan ini juga mendukung pengembangan executive learning, yakni kemampuan peserta didik mengatur strategi belajar, memantau perkembangan dirinya, serta mengevaluasi efektivitas proses belajar secara mandiri.
Membangun Generasi Pembelajar Sepanjang Hayat
Penerapan Taksonomi SOLO menunjukkan bahwa pendidikan tidak lagi sekadar mengejar nilai akademik, tetapi juga membangun kemampuan berpikir, karakter, dan kemandirian belajar peserta didik.
Dalam pendekatan ini, guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing peserta didik untuk terus meningkatkan kualitas cara berpikirnya melalui pembelajaran yang menantang, kolaboratif, dan reflektif.
Baca Juga: Mantan Kabareskrim Ungkap 9 Kecurigaan Meninggalnya Karumga Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
Melalui Pembelajaran Mendalam yang didukung Taksonomi SOLO, peserta didik diharapkan tidak berhenti pada kemampuan mengetahui suatu konsep, tetapi mampu memahami, menghubungkan, mengevaluasi, hingga menciptakan pengetahuan baru.
Inilah arah transformasi pendidikan yang diharapkan mampu melahirkan generasi yang adaptif, berpikir kritis, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan. ***




