POJOKSATU.id – Bagaimana sebuah perusahaan energi dapat berkontribusi dalam pengembangan sektor pertanian?
Pertanyaan tersebut terjawab dalam kunjungan peserta One Village One CEO (OVOC) International ke PT Medco Group.
Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh gambaran langsung mengenai bagaimana aset perusahaan dioptimalkan menjadi lahan produktif sekaligus menjadi sarana pemberdayaan petani lokal melalui pengembangan hortikultura.
PT Medco Group merupakan salah satu perusahaan swasta nasional yang bergerak di berbagai sektor strategis, mulai dari energi, minyak dan gas, ketenagalistrikan, pertambangan, hingga agribisnis, fabrikasi, perhotelan, dan properti.
Di tengah beragam lini usaha tersebut, perusahaan mulai mengembangkan proyek hortikultura sejak 2023 sebagai bagian dari upaya mengoptimalkan lahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara maksimal.
Proyek hortikultura tersebut berlokasi di Kampung Maleber, Desa Ciherang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur.
Baca Juga: Perut Kembung Tak Selalu Karena Masuk Angin, Kenali 9 Penyebab dan Cara Mengatasinya
Lahan seluas sekitar empat hektare dikelola bersama sembilan petani mitra untuk membudidayakan berbagai komoditas hortikultura, seperti baby kailan, pakcoy, brokoli, buncis, dan daun bawang.
Hasil produksi diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar modern sekaligus menjadi media pembelajaran bagi petani dalam menerapkan standar budidaya yang lebih baik.
Business Development PT Medco Inti Dinamika, Rizky Aliakbar, menjelaskan bahwa tujuan utama proyek ini bukan sekadar mengembangkan kebun hortikultura, melainkan juga meningkatkan kapasitas petani agar mampu memenuhi standar pasar modern.
Baca Juga: Tangan Sering Berkeringat Padahal Tak Kepanasan? Bisa Jadi Tanda Hiperhidrosis, Kenali Penyebabnya
"Yang ingin kami bangun bukan hanya kebunnya, tetapi juga kapasitas petaninya. Ketika petani memahami standar pasar modern, mereka memiliki peluang yang lebih besar untuk berkembang dan meningkatkan nilai ekonominya," ujarnya.
Dalam proses pengembangannya, proyek tersebut menghadapi sejumlah tantangan.
Salah satunya adalah memenuhi standar kualitas yang ditetapkan oleh offtaker, di mana hanya produk dengan ukuran, bobot, dan kualitas tertentu yang dapat diterima pasar modern.
Pada tahap awal, petani juga masih memerlukan pendampingan dalam proses sortasi, pengemasan, hingga penerapan standar pascapanen.
Selain itu, keterbatasan pasar alternatif bagi produk yang belum memenuhi spesifikasi supermarket menjadi tantangan tersendiri.
Kondisi kemarau panjang yang sempat terjadi juga memberikan dampak terhadap produktivitas lahan sehingga diperlukan strategi budidaya yang lebih adaptif.
Meski demikian, pendekatan kolaboratif antara perusahaan dan petani menjadi kunci keberhasilan pengembangan proyek ini.
Pendampingan dilakukan secara berkelanjutan agar petani tidak hanya mampu meningkatkan hasil produksi, tetapi juga memahami kebutuhan pasar, menerapkan praktik budidaya sesuai standar industri, serta memperkuat keberlanjutan usaha tani.
Baca Juga: Gelar Honda Modif Contest 2026, AHM Siapkan Wadah Kreativitas Modifikator Indonesia
Kunjungan ini juga menjadi wadah bagi peserta OVOC International untuk mempresentasikan gagasan bisnis yang tengah mereka kembangkan.
Salah satu peserta, Fauzi, memperkenalkan konsep usaha di bidang teh dan hortikultura, sementara Amarif memaparkan ide pengelolaan limbah yang dipadukan dengan sektor pariwisata.
Melalui sesi diskusi tersebut, peserta memperoleh berbagai masukan mengenai penyempurnaan model bisnis, strategi pemasaran, hingga pengembangan usaha yang berkelanjutan.
Bagi peserta, pengalaman ini memberikan perspektif baru mengenai pentingnya sinergi antara dunia industri dan sektor pertanian.
Baca Juga: Farhan Apresiasi Progres BRT Bandung, Kini Soroti Kepastian Model Bisnis Operator
Mereka tidak hanya mempelajari proses bisnis perusahaan, tetapi juga melihat bagaimana sebuah proyek mampu menghadirkan dampak sosial melalui pemberdayaan petani dan penguatan ekosistem pertanian.
"Saya melihat bahwa membangun usaha di bidang pertanian tidak cukup hanya menghasilkan produk yang bagus, tetapi juga harus memahami kebutuhan pasar dan membangun kemitraan yang kuat.
Pengalaman ini memberikan banyak inspirasi untuk mengembangkan ide bisnis kami ke depan," ujar Fauzi, salah satu peserta OVOC International.
Melalui kunjungan lapang ini, peserta memperoleh pemahaman bahwa inovasi, kolaborasi, dan pendampingan merupakan fondasi penting dalam membangun sistem pertanian yang berkelanjutan.
Baca Juga: Suhanta Alek Marques Maju Calon BPD Desa Duren, Siap Kawal Transparansi Anggaran Desa
Pengalaman tersebut menjadi bekal bagi calon wirausahawan muda untuk mengembangkan usaha yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga mampu menciptakan manfaat bagi petani, masyarakat, dan kemajuan sektor pertanian Indonesia.
Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan pertanian tidak hanya bergantung pada teknologi atau modal, tetapi juga pada kemauan berbagai pihak untuk saling bekerja sama.
Ketika dunia industri, petani, dan generasi muda mampu berjalan seiring, peluang menghadirkan pertanian Indonesia yang lebih maju, berdaya saing, dan berkelanjutan akan semakin terbuka lebar. ***




