POJOKSATU.id - Pernahkah Anda menyadari bahwa kunang-kunang kini semakin jarang terlihat?

Serangga bercahaya yang dulu kerap menghiasi malam di persawahan, tepi sungai, atau pekarangan rumah kini mulai sulit ditemukan.

Fenomena ini bukan sekadar membangkitkan nostalgia masa kecil, tetapi juga menjadi sinyal penting tentang kondisi lingkungan.

Baca Juga: PPG Calon Guru 2026 Resmi Dibuka! Ini 33 Bidang Studi, Jadwal Pendaftaran, Syarat dan Daftar Lengkap Linearitas Ijazah

Menurut dosen dan peneliti entomologi dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Prof drh Upik Kesumawati Hadi, keberadaan kunang-kunang memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar keindahan alam.

Serangga ini merupakan bioindikator, yaitu organisme yang keberadaan maupun ketidakhadirannya dapat mencerminkan kesehatan suatu ekosistem.

"Kunang-kunang merupakan bioindikator, yaitu organisme yang keberadaan atau ketidakhadirannya dapat mencerminkan kesehatan suatu ekosistem. Ketika kualitas lingkungan memburuk, populasinya akan cepat menyusut bahkan menghilang," jelas Prof Upik, dikutip dari laman resmi IPB University, Sabtu (4/7/2026).

Baca Juga: Tiga Polisi Gugur Penggerebekan Bandar Narkoba di Katingan, Baru Satu Orang Ditangkap

Bukan Hanya Terjadi di Indonesia
Kelangkaan kunang-kunang ternyata tidak hanya dirasakan masyarakat Indonesia.

Penurunan populasinya juga menjadi fenomena global yang mendapat perhatian para peneliti.

Berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN), sekitar 11–20 persen spesies kunang-kunang di dunia kini masuk dalam kategori terancam.

Bahkan, sejumlah spesies yang hidup di kawasan mangrove Indonesia, Malaysia, dan Thailand telah berstatus rentan.

Baca Juga: Menembus Batas Negara, Empat Kampus Indonesia Dampingi Calon Guru Malaysia Siapkan Pendidikan Masa Depan

Di Indonesia sendiri, berbagai kajian entomologi menunjukkan populasi kunang-kunang mengalami penurunan drastis, terutama di kawasan perkotaan.

bercahaya ini diketahui sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, mulai dari perubahan kelembapan tanah hingga pencemaran.

"Di Indonesia sendiri, berbagai kajian entomologi menunjukkan populasi kunang-kunang mengalami penurunan drastis, terutama di wilayah perkotaan.

Serangga bercahaya ini sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, mulai dari perubahan kelembapan tanah hingga pencemaran," ujar Prof Upik.

Baca Juga: Gadis di Lumajang Ternyata Dibunuh Tetangga, Motifnya Sakit Hati Ayah Ibu Diejek

Kerusakan Habitat Jadi Penyebab Utama
Prof Upik menjelaskan bahwa faktor terbesar yang menyebabkan populasi kunang-kunang terus menyusut adalah kerusakan habitat.

Alih fungsi lahan hijau, rawa, hingga persawahan menjadi kawasan permukiman maupun industri membuat habitat alami kunang-kunang semakin sempit.

Kondisi ini juga menghilangkan tempat hidup larva kunang-kunang yang membutuhkan tanah lembap untuk berkembang.

Selain kehilangan habitat, kunang-kunang juga menghadapi ancaman dari polusi cahaya.

Baca Juga: Bangkit Setelah Vakum, JKC Rayakan Milad ke-1 dengan Santuni 50 Anak Yatim Piatu

Lampu LED yang terlalu terang pada malam hari dapat mengganggu proses reproduksi serangga ini.

Cahaya buatan membuat kunang-kunang jantan kesulitan mengenali sinyal cahaya yang dipancarkan betina.

Akibatnya, proses perkawinan menjadi terganggu sehingga populasi terus mengalami penurunan.

Polusi Cahaya hingga Perubahan Iklim Turut Memperparah
Tak hanya kerusakan habitat dan polusi cahaya, terdapat sejumlah faktor lain yang turut mempercepat penurunan populasi kunang-kunang.

Baca Juga: HS Hey Slank Berani Kita Beda Tour Guncang Bandung, Libatkan Band Lokal dan Dukung Industri Kreatif

Beberapa di antaranya adalah penggunaan insektisida kimia, perubahan iklim yang memicu kekeringan, semenisasi saluran irigasi, hingga urbanisasi yang mengubah bentang alam secara besar-besaran.

Gabungan berbagai faktor tersebut membuat lingkungan yang sesuai untuk kehidupan kunang-kunang semakin sulit ditemukan.

Di Mana Kunang-Kunang Masih Bisa Ditemukan?
Meski populasinya terus menurun, kunang-kunang masih dapat dijumpai di beberapa wilayah yang kondisi lingkungannya relatif terjaga.

Habitat yang masih mendukung kehidupan kunang-kunang antara lain:
- Kawasan mangrove
- Rawa alami
- Tepi sungai yang masih alami
- Persawahan tradisional
- Perkebunan organik
- Lantai hutan tropis yang lembap dan minim polusi cahaya

Baca Juga: Bisri Mendesak Penertiban SPPG: Harapan Baru di Era Kepala BGN Nanik S. Deyeng

Wilayah-wilayah tersebut masih menyediakan kelembapan tanah, vegetasi alami, dan kondisi gelap yang dibutuhkan kunang-kunang untuk berkembang biak.

Cara Sederhana Membantu Melestarikan Kunang-Kunang
Prof Upik menegaskan bahwa kelestarian kunang-kunang sangat bergantung pada kelestarian habitatnya.

Oleh karena itu, masyarakat juga dapat berkontribusi melalui langkah-langkah sederhana.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain:
- Tidak menutup seluruh halaman rumah dengan semen.
- Mengurangi penggunaan lampu luar ruangan yang terlalu terang pada malam hari.
- Memanfaatkan pupuk organik.
- Mengurangi penggunaan insektisida kimia.
- Menjaga kebersihan sungai dan saluran air agar tetap menjadi habitat yang mendukung kehidupan kunang-kunang.

Baca Juga: BMKG Ungkap Es Abadi Papua Tinggal Hitungan Bulan, Indonesia Terancam Kehilangan Warisan Langka

"Kelestarian kunang-kunang sangat bergantung pada kelestarian habitatnya.

Menjaga lingkungan berarti juga menjaga agar cahaya alami kunang-kunang tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang," tutup Prof Upik.

Jika kerusakan habitat dan penurunan kualitas lingkungan terus berlangsung, bukan tidak mungkin generasi mendatang hanya akan mengenal kunang-kunang melalui buku, museum, atau tayangan visual.

Menjaga lingkungan hari ini bukan hanya tentang melestarikan satu jenis serangga, tetapi juga memastikan bahwa keajaiban kecil yang pernah menghiasi malam tetap dapat disaksikan oleh anak cucu di masa depan. ***