POJOKSATU.id, Jakarta - Perubahan dunia pendidikan yang semakin cepat membuat peran guru ikut berubah.
Guru masa kini tidak lagi cukup hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga dituntut mampu menjadi pemimpin, inovator, komunikator, sekaligus penggerak perubahan di lingkungan sekolah.
Berangkat dari tantangan tersebut, IBI Kesatuan, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Mulawarman, dan Universitas Sumatera Barat (UNISBAR) berkolaborasi menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) internasional bagi calon guru di Malaysia.
Baca Juga: Baca Juga: Surplus Perdagangan Indonesia Menyusut Tajam, Mendag Sebut Sektor Nonmigas Masih Jadi Penopang
Kegiatan ini juga dilaksanakan bersama Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM) sebagai mitra kolaborasi internasional.
Kegiatan yang berlangsung pada 22 Juni 2026 di Auditorium Al-Jazari, Perpustakaan Tunku Tun Aminah, UTHM ini menyasar mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris dari Johor Business School.
Mengusung tema “Teaching Innovation, Communication & Global Education”, kegiatan ini menjadi wadah penguatan kompetensi global bagi para calon pendidik agar siap menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21 yang semakin dinamis dan kompetitif.
Baca Juga: Dubes Iran Ungkap AS yang Memohon Gencatan Senjata, Mereka Kalah Perang
Kegiatan dipimpin oleh Ani Mekaniwati, S.E., M.P., Ph.D. bersama tim akademisi lintas bidang, yakni Muhammad Hendra, S.E., M.M., Dwi Maulina, S.M., M.M., Etty Subervati Partadiredia, Rizaldi Mumin, MBA, dan Doni Sugianto Sihotang.
Sementara itu, dua narasumber utama yang hadir yakni Reny Herlindah, S.Pi., M.And.Sc. dan Dr. H. R. Aang Munawar, S.E., M.M. turut memberikan pembekalan mengenai kepemimpinan pendidikan, komunikasi global, hingga strategi membangun inovasi pembelajaran di era digital.
Dalam pemaparannya, Aang Munawar menekankan bahwa calon guru masa depan harus mampu menjadi pemimpin perubahan di sekolah.
Baca Juga: Bisri Mendesak Penertiban SPPG: Harapan Baru di Era Kepala BGN Nanik S. Deyeng
Menurutnya, tantangan terbesar guru muda saat ini bukan hanya soal kemampuan mengajar, tetapi bagaimana membangun kepercayaan di lingkungan kerja, terutama ketika harus bekerja bersama guru senior dengan budaya kerja yang berbeda.
Ia menjelaskan bahwa banyak guru muda sering mengalami tekanan karena dianggap belum memiliki pengalaman yang cukup.
Namun justru di situlah pentingnya kemampuan komunikasi, kepemimpinan kolaboratif, dan profesionalisme.
Baca Juga: HS Hey Slank Berani Kita Beda Tour Guncang Bandung, Libatkan Band Lokal dan Dukung Industri Kreatif
Guru muda, kata dia, perlu menunjukkan kualitas melalui tindakan nyata, disiplin, serta kemampuan bekerja sama dalam tim.
“Pemimpin bukan tentang menunjukkan kuasa, tetapi membina hubungan,” menjadi salah satu pesan penting yang disampaikan dalam sesi tersebut.
Selain itu, peserta juga diajak memahami pentingnya komunikasi yang santun dan terbuka dalam dunia pendidikan.
Dalam materi tersebut dijelaskan bahwa komunikasi yang baik mampu meredam konflik sekaligus membangun suasana kerja yang sehat dan produktif.
Baca Juga: BMKG Ungkap Es Abadi Papua Tinggal Hitungan Bulan, Indonesia Terancam Kehilangan Warisan Langka
Sementara itu, Reny Herlindah menyoroti pentingnya kompetensi global dan kemampuan adaptasi guru terhadap perubahan zaman.
Menurutnya, dunia pendidikan saat ini membutuhkan guru yang kreatif, terbuka terhadap teknologi, serta mampu menciptakan pembelajaran yang lebih inovatif dan relevan dengan kebutuhan generasi muda.
Ia juga menegaskan bahwa guru muda memiliki banyak keunggulan, mulai dari kreativitas, kemampuan teknologi, hingga pola pikir inovatif yang dapat membawa perubahan positif dalam sistem pendidikan modern.
Tidak hanya membahas teori, kegiatan ini juga menghadirkan diskusi interaktif dan simulasi penyelesaian konflik di lingkungan sekolah.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Pastikan Ekonomi Indonesia Tak Menuju Krisis, APBN Disebut Tetap Sehat
Para peserta diajak berlatih menghadapi situasi nyata, seperti ketika ide program baru ditolak atau saat harus memimpin tim dengan karakter yang beragam.
Suasana kegiatan berlangsung aktif dan penuh antusiasme.
Para peserta dari Malaysia tampak terlibat dalam berbagai sesi diskusi mengenai inovasi pendidikan, kepemimpinan guru muda, hingga pentingnya membangun mental tangguh dalam menghadapi tekanan profesi.
Kolaborasi internasional ini sekaligus menjadi bukti bahwa pendidikan kini berkembang tanpa batas negara.
Pertukaran pengalaman dan gagasan lintas kampus serta lintas budaya diharapkan mampu melahirkan calon guru yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kepemimpinan, kemampuan komunikasi global, dan kepedulian sosial yang tinggi.
Sebab pada akhirnya, guru hebat bukan hanya mereka yang mampu mengajar di depan kelas, tetapi mereka yang mampu menginspirasi, membangun perubahan, dan menciptakan masa depan pendidikan yang lebih baik.***




