POJOKSATU.id, KATINGAN— Tiga polisi gugur dalam kasus penggerebakan bandar narkoba di Desa Tumbang Kalemei, Katingan Tengah, Katingan, Kalteng.

Anggota polisi yang pertama kali ditemukan meninggal adalah Aipda Yudhie Perdana Putra dengan kondisi luka akibat senjata tajam.

Lalu Aiptu Sumaryanto dan Bripda Nopandri Ramadhana yang sempat dilaporkan hilang setelah penggerebekan, berhasil ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di sungai.

Bripda Nopandri ditemukan di DAS Katingan, seberang Desa Tumbang Lahang pada Sabtu (4/7) sekitar pukul 15.55 WIB.

Baca Juga: Gadis di Lumajang Ternyata Dibunuh Tetangga, Motifnya Sakit Hati Ayah Ibu Diejek

Sementara jenazah Aiptu Sumaryanto ditemukan di Sungai Desa Tumbang Kalemei pada Minggu (5/7) pagi.

Hingga saat ini, kepolisian masih mengejar pelaku yang terlibat dalam tewasnya ketiga anggota polisi ini.

Mengutip Antara, tim gabungan Polda Kalteng menangkap Saldy alias Ateng yang diduga terlibat penyerangan terhadap polisi.

"Benar, berdasarkan informasi dari tim yang berada di lapangan, tim gabungan berhasil mengamankan satu terduga pelaku," kata Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan di Katingan, Jumat (3/7).

Baca Juga: Bangkit Setelah Vakum, JKC Rayakan Milad ke-1 dengan Santuni 50 Anak Yatim Piatu

Terduga pelaku ditangkap di sebuah lanting sedot emas di kawasan Desa Tumbang Pariyei, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan.

Kronologi penggerebekan

Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Eko Hadi Santoso mengatakan penggerebekan terjadi pada Rabu (1/7) malam ketika Satresnarkoba Polres Katingan menindaklanjuti informasi masyarakat mengenai dugaan peredaran sabu di Desa Tumbang Kalemei.

Hasil penyelidikan mengarah kepada seorang target operasi berinisial BIO yang diketahui merupakan residivis kasus narkotika.

Selanjutnya sebanyak 12 personel diterjunkan dalam operasi tersebut.

Setibanya di lokasi, tim dibagi menjadi dua kelompok dengan tim pertama melakukan penindakan di rumah target, sedangkan tim kedua bersiaga di lokasi lain sebagai unsur pendukung.

"Saat proses penangkapan berlangsung, target berhasil diamankan. Namun situasi berubah ketika beberapa orang di dalam rumah dan warga sekitar melakukan perlawanan menggunakan senjata tajam berupa parang," tutur Eko, Kamis (2/7).

Situasi semakin memanas lantaran massa terus bertambah dan menyerang menggunakan senjata tajam serta senjata api rakitan.

Akibat situasi yang semakin tidak terkendali, personel berupaya menyelamatkan diri sambil meminta bantuan penambahan personel.

Sejumlah anggota terpaksa berenang menyeberangi sungai dan berlindung di kawasan hutan untuk menghindari amukan massa.***