POJOKSATU.id - Inovasi di bidang peternakan kembali lahir dari mahasiswa Sekolah Vokasi IPB University.

Tim mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Komputer berhasil mengembangkan Smart Squeeze Cage, kandang jepit pintar berbasis internet of things (IoT) yang dirancang untuk mempermudah proses penimbangan kambing dan domba secara otomatis.

Inovasi ini hadir sebagai solusi atas berbagai kendala yang masih ditemui dalam proses penimbangan ternak ruminansia kecil di lapangan.

Baca Juga: Kabar Baik! Dedi Mulyadi Berangkatkan Guru ke Inggris 3 Bulan, 10 Siswa Terbaik Sekolah Maung Dapat Beasiswa Penuh

Selain mempercepat pekerjaan, alat tersebut juga mampu menghasilkan data yang lebih akurat sekaligus terdokumentasi secara digital.

Ketua tim pengembang, Ghina Rania, menjelaskan bahwa metode penimbangan konvensional selama ini dinilai kurang efisien dan cukup menyulitkan para peternak maupun operator kandang.

Menurutnya, kambing dan domba biasanya harus dimasukkan ke dalam karung penggendong sebelum diangkat menggunakan timbangan gantung.

Baca Juga: SD-SMP Negeri dan Swasta Bakal Gratis Bertahap Mulai RAPBN 2027, DPR dan Pemerintah Sepakati Putusan MK Diakomodasi

Cara lain yang sering dilakukan adalah menggendong ternak di atas timbangan badan, kemudian menghitung selisih berat operator dengan berat total.

"Selain merepotkan dan berisiko karena ternak meronta, pencatatan manualnya juga rentan terjadi kesalahan.

Dengan adanya alat ini, proses penimbangan menjadi jauh lebih cepat, praktis, akurat, serta datanya langsung tersimpan digital," jelas Ghina.

Baca Juga: LINK DOWNLOAD Logo HUT ke-81 RI 2026 Lengkap Font Resmi, Simak Makna Filosofi dan Aturan Penggunaannya

Penimbangan Otomatis Berbasis IoT
Smart Squeeze Cage dirancang sebagai kandang jepit portabel yang dilengkapi sensor berat atau load cell.

Sensor tersebut terhubung langsung dengan mikrokontroler sehingga proses pembacaan bobot ternak berlangsung secara otomatis.

Data hasil penimbangan kemudian dikirim menuju sistem manajemen berbasis web tanpa perlu pencatatan manual.

Seluruh informasi tersimpan secara digital sehingga lebih mudah dipantau kapan saja.

Baca Juga: Mengapa Siswa Tidak Lagi Dapat PIP 2025 dan 2026? Ini Penyebabnya, Meski Tahun Sebelumnya Selalu Cair

Anggota tim pengembang, Ilham Bonardo Marpaung, menjelaskan bahwa integrasi antara sensor, mikrokontroler, dan aplikasi berbasis web membuat proses penimbangan menjadi lebih efisien.

Data bobot yang dikumpulkan tidak hanya tersimpan sebagai arsip, tetapi juga diolah menjadi grafik pertumbuhan yang memudahkan evaluasi pemeliharaan ternak.

Melalui grafik tersebut, peternak maupun akademisi dapat memantau perkembangan bobot sekaligus memperkirakan kebutuhan pakan harian secara lebih tepat.

Baca Juga: 60.896 Guru Dipanggil Ikut PPG Guru Tertentu Tahap 2 Tahun 2026, Jawa Barat Terbanyak, Cek Jadwal Lengkapnya

Dilengkapi Teknologi Machine Learning
Keunggulan lain dari Smart Squeeze Cage adalah penerapan teknologi machine learning.

Data bobot ternak yang terkumpul dianalisis secara cerdas untuk membaca tren pertumbuhan sekaligus memprediksi bobot ideal ternak pada masa mendatang.

Pendekatan ini diharapkan dapat membantu pengambilan keputusan dalam manajemen peternakan secara lebih akurat, mulai dari pengaturan pakan hingga evaluasi performa pertumbuhan ternak.

Dengan sistem yang terintegrasi, pengelolaan data tidak lagi bergantung pada pencatatan manual yang berpotensi menimbulkan kesalahan.

Baca Juga: Jalur dan Program Prioritas Beasiswa LPDP Tahap II 2026, Ini Jadwal Lengkap dan Penjelasan Aturan LoA, Mitra Kampus Bertambah

Hasil Kolaborasi Mahasiswa Lintas Keahlian
Pengembangan Smart Squeeze Cage merupakan hasil kolaborasi sejumlah mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Komputer Sekolah Vokasi IPB University.

Tim tersebut terdiri atas Ghina Rania, Muhammad Rifki Munawar, Hafiz Tiftazani, Rafie Hafizhsatryo, Bagus Priwendy Simangunsong, Althof Zufar Musyaffa, dan Ilham Bonardo Marpaung.

Selama proses pengembangan, mereka mendapat pendampingan dari dosen Lathifunnisa Fathonah, MT dan Muhammad Nasir, ST, M.Kom.

Program ini juga terlaksana melalui kerja sama resmi dengan Program Studi Teknologi dan Manajemen Ternak (TNK) Sekolah Vokasi IPB University.

Baca Juga: Sarah Gibson Pilih Damai Demi Anak, Janji Tak Halangi Diska Temui Putrinya Meski Bercerai

Kolaborasi antara bidang teknologi rekayasa komputer dan ilmu peternakan tersebut menunjukkan bagaimana inovasi digital dapat menjawab kebutuhan nyata di lapangan.

Smart Squeeze Cage menjadi contoh bahwa pemanfaatan IoT dan machine learning tidak hanya relevan di sektor industri modern, tetapi juga mampu mendorong lahirnya sistem peternakan yang lebih efisien, akurat, dan berbasis data untuk mendukung kemajuan pertanian Indonesia. ***