POJOKSATU.id – Konsep Asah, Asih, dan Asuh (3A) menjadi salah satu materi penting dalam Training of Trainers (ToT) Fasilitator Sekolah Keluarga Berkualitas (SKB) 2026.

Melalui konsep ini, para fasilitator dibekali pemahaman bahwa tumbuh kembang anak yang optimal tidak hanya ditentukan oleh kecukupan gizi, tetapi juga oleh stimulasi, kasih sayang, serta pola pengasuhan yang diberikan sejak awal kehidupan.

Guru Besar IPB University, Prof. Dwi Hastuti, menjelaskan bahwa dua tahun pertama kehidupan atau masa bawah dua tahun (baduta) merupakan periode emas yang sangat menentukan kualitas kehidupan seseorang pada masa mendatang.

Baca Juga: Refleksi 80 Tahun Bhayangkara, Kapolres Karawang: Polri untuk Masyarakat Bukan Sekadar Slogan di Dinding

Pada fase tersebut, perkembangan otak berlangsung sangat cepat sehingga setiap pengalaman yang diterima anak akan memberikan dampak jangka panjang terhadap kesehatan, kecerdasan, maupun pembentukan karakter.

Mengapa 1.000 Hari Pertama Kehidupan Sangat Penting?
Periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dimulai sejak anak masih berada dalam kandungan hingga berusia dua tahun.

Masa ini dikenal sebagai golden period atau periode emas karena menjadi waktu terbaik untuk membangun fondasi pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan belajar, serta karakter anak.

Baca Juga: Mengenal Parental Investment, Kunci Membangun Anak Berkualitas Sejak Dalam Kandungan

Menurut Prof. Dwi Hastuti, kesempatan emas tersebut tidak dapat diulang.

Apabila kebutuhan tumbuh kembang anak tidak terpenuhi secara optimal pada periode ini, proses mengejar ketertinggalannya akan menjadi jauh lebih sulit pada usia berikutnya.

Karena itu, pengasuhan tidak bisa menunggu hingga anak memasuki Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ataupun sekolah dasar.

Baca Juga: Bukan di Monas, Polri Kali Ini Gelar HUT Bhayangkara ke 80 Tahun di Satlat Brimob Cikeas

Fondasi perkembangan anak justru dibangun sejak masa kehamilan melalui perhatian terhadap kesehatan ibu, pemenuhan gizi, dan kesiapan orang tua menjalankan perannya.

Mengenal Konsep Asah, Asih, dan Asuh
Prof. Dwi menjelaskan bahwa konsep 3A terdiri atas tiga unsur yang saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan.

Asah merupakan upaya memberikan stimulasi kepada anak agar kemampuan berpikir, bahasa, motorik, kreativitas, serta kemampuan memecahkan masalah berkembang sesuai dengan tahapan usianya.

Bentuknya dapat berupa mengajak berbicara, membacakan buku, bermain edukatif, hingga memberikan kesempatan anak bereksplorasi.

Baca Juga: 8 Cara Merawat Rambut Panjang Pria agar Tetap Sehat, Bebas Kusut, dan Tidak Mudah Rontok

Asih adalah pemberian kasih sayang, perhatian, rasa aman, serta membangun ikatan emosional yang kuat antara orang tua dan anak.

Kehangatan dalam keluarga akan membantu anak merasa dicintai, percaya diri, dan mampu mengembangkan kecerdasan emosional sejak dini.

Sementara Asuh berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar anak, mulai dari gizi yang seimbang, layanan kesehatan, kebersihan diri dan lingkungan, perlindungan, hingga pengawasan agar anak tumbuh secara optimal.

Baca Juga: 8 Cara Merawat Rambut Panjang Pria agar Tetap Sehat, Bebas Kusut, dan Tidak Mudah Rontok

Ketiga aspek tersebut harus berjalan secara bersamaan.

Anak yang memperoleh makanan bergizi tetapi kurang mendapatkan perhatian emosional tetap berisiko mengalami gangguan perkembangan, begitu pula sebaliknya.

Pola Makan yang Tepat Membentuk Kebiasaan Sehat
Dalam pemaparannya, Prof. Dwi juga menyoroti salah satu tantangan yang kerap dihadapi keluarga, yakni anak yang sulit makan.

Tidak sedikit orang tua yang akhirnya memaksa, membentak, bahkan mengejar anak ketika waktu makan tiba.

Padahal, menurutnya, makan seharusnya menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi anak.

Baca Juga: Warga Laporkan Dugaan Kejanggalan PADes Mertapadawetan ke Kejari Cirebon

Orang tua dianjurkan menyajikan makanan sesuai usia, tekstur, porsi, dan kebutuhan gizi anak, sekaligus menciptakan suasana makan yang nyaman tanpa tekanan.

Anak juga perlu dikenalkan pada menu keluarga yang beragam, meliputi sumber karbohidrat, protein hewani dan nabati, sayur, buah, serta minuman sehat.

Selain memenuhi kebutuhan nutrisi, kegiatan makan bersama menjadi momen penting untuk membangun komunikasi sekaligus mempererat hubungan antaranggota keluarga.

Orang Tua Menjadi Teladan Pertama bagi Anak
Materi ini juga menekankan bahwa anak lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat dibandingkan dari apa yang mereka dengar.

Oleh karena itu, orang tua menjadi contoh utama dalam membentuk kebiasaan positif di rumah.

Baca Juga: BMPS Jawa Barat Dorong Pelibatan Sekolah Swasta dalam Kebijakan Pendidikan, Ini Hasil Audiensi dengan Komisi V DPRD

Jika ingin anak terbiasa bersikap sopan, sabar, disiplin, gemar membaca, atau rajin beribadah, maka orang tua perlu terlebih dahulu menunjukkan perilaku tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Keteladanan menjadi salah satu metode pendidikan karakter yang paling efektif karena dilakukan secara alami melalui interaksi keluarga setiap hari.

Begitu pula ketika anak sedang belajar mengenali dan mengelola emosinya.

Dibandingkan memarahi atau membandingkannya dengan anak lain, komunikasi yang hangat dan positif justru membantu anak merasa aman sehingga lebih mudah belajar mengendalikan perasaannya.

Pencegahan Stunting Berawal dari Lingkungan Keluarga
Prof. Dwi menegaskan bahwa penerapan konsep Asah, Asih, dan Asuh juga menjadi salah satu strategi penting dalam mencegah stunting.

Baca Juga: Daftar HP Samsung yang Diprediksi Kebagian Android 17 dan One UI 9.0, Cek Apakah Punya Kamu?

Upaya tersebut dimulai sejak masa kehamilan melalui pemenuhan gizi ibu, pemeriksaan kesehatan secara rutin, serta dukungan terhadap kesehatan fisik dan mental calon ibu.

Setelah bayi lahir, pencegahan stunting dilanjutkan melalui pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) sesuai usia, pemantauan pertumbuhan secara berkala, imunisasi, menjaga kebersihan lingkungan, serta memastikan anak memperoleh layanan kesehatan yang memadai.

Semua langkah tersebut perlu disertai dengan pola pengasuhan yang penuh kasih sayang, komunikasi yang baik, dan keterlibatan aktif seluruh anggota keluarga agar tumbuh kembang anak berlangsung secara optimal.

Baca Juga: 6 Tahun Innovillage, Telkom Lahirkan 10 Ribu Talenta Digital dan 878 Inovasi Sosial

Menutup materinya dalam Training of Trainers SKB 2026, Prof. Dwi Hastuti menegaskan bahwa kualitas tumbuh kembang anak tidak hanya ditentukan oleh makanan bergizi.

Kasih sayang, perhatian, komunikasi yang positif, dan keteladanan orang tua menjadi fondasi yang sama pentingnya dalam membentuk generasi masa depan.

Ketika konsep Asah, Asih, dan Asuh diterapkan secara seimbang sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan, keluarga sedang menanamkan investasi terbaik untuk melahirkan anak-anak yang sehat, cerdas, tangguh, dan berkarakter.

"Pada akhirnya, tumbuh kembang anak tidak hanya ditentukan oleh makanan bergizi, tetapi juga oleh kasih sayang, perhatian, komunikasi, serta teladan yang diberikan orang tua setiap hari.

Ketika Asah, Asih, dan Asuh diterapkan secara seimbang sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan, saat itulah keluarga sedang menanamkan investasi terbaik untuk melahirkan generasi yang sehat, cerdas, tangguh, dan berkarakter," pungkas Prof. Dwi. ***