POJOKSATU.id - Universitas Indonesia (UI) masih melakukan evaluasi internal terkait polemik yang muncul setelah akun media sosial Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers Suara Mahasiswa (SUMA) UI mengunggah konten mengenai Pride Month dan isu LGBTIQ.

Hingga pertengahan Juni 2026, pihak kampus belum mengumumkan hasil evaluasi maupun langkah lanjutan yang akan diambil.

Namun, UI menegaskan bahwa unggahan tersebut merupakan pandangan redaksional organisasi mahasiswa dan tidak mencerminkan sikap resmi universitas.

Baca Juga: Tersangkut Kabel Milik PLN, Siswi Kelas X SMA Negeri 6 Jakarta Jatuh dan Terlindas Bus di Kawasan Blok M

Direktur Hubungan Masyarakat, Media, Pemerintah dan Internasional UI, Erwin Agustian Panigoro, menyampaikan bahwa isi unggahan yang menjadi perbincangan publik sepenuhnya merupakan tanggung jawab organisasi kemahasiswaan yang bersangkutan.

"Terkait dinamika yang berkembang atas unggahan akun media sosial Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Suara Mahasiswa (SUMA) UI mengenai isu Pride Month serta orientasi seksual dan identitas gender, Universitas Indonesia menegaskan bahwa isi unggahan tersebut murni merupakan pandangan redaksional dari organisasi kemahasiswaan yang bersangkutan," demikian keterangan resmi UI.

UI menjelaskan bahwa kebebasan berekspresi dan menyampaikan pendapat merupakan bagian penting dalam kehidupan akademik yang harus dihormati.

Baca Juga: Segera Susul Justin Hubner, Asnawi Lamar Kekasihnya Artis FTV Yuriska Patricia

Namun, kebebasan tersebut juga harus dijalankan secara bertanggung jawab dengan memperhatikan etika serta norma yang berlaku di masyarakat.

Sebagai perguruan tinggi, UI menegaskan komitmennya untuk tetap berpegang pada nilai-nilai Pancasila, peraturan perundang-undangan, serta norma yang berlaku di Indonesia.

UI Tegaskan Evaluasi Masih Berjalan
Dalam pernyataannya, UI juga menekankan pentingnya menjaga martabat manusia, integritas, serta terciptanya lingkungan akademik yang aman dan kondusif sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Baca Juga: Sejarah Patung Merlion, Ikon Singapura yang Berawal dari Desa Nelayan hingga Jadi Simbol Negara

"Dalam semangat tersebut, UI memandang kampus sebagai ruang dialog dan pengembangan ilmu pengetahuan yang terbuka terhadap berbagai pandangan.

Namun, setiap pendapat perlu disampaikan secara santun, tidak provokatif, dan sesuai dengan etika akademik," demikian pernyataan UI.

Menurut pihak kampus, perbedaan pandangan yang muncul di tengah masyarakat harus dikelola secara bijaksana. Karena itu, kebebasan berekspresi perlu diimbangi dengan tanggung jawab sosial agar tidak memicu polarisasi maupun perpecahan.

Baca Juga: Kemenag Luncurkan Beasiswa INSIGHT, Targetkan 100 Ribu Mahasiswa Asing Kuliah di Indonesia

UI menyebut pimpinan kampus masih melakukan penelaahan dan evaluasi bersama otoritas terkait guna memastikan seluruh aktivitas kemahasiswaan tetap berjalan sesuai Kode Etik dan Peraturan Tata Tertib Mahasiswa UI.

Pihak kampus juga mengajak seluruh sivitas akademika maupun masyarakat luas untuk tetap menjaga suasana yang kondusif serta menghormati perbedaan pandangan demi menjaga persatuan.

Alumni SUMA UI Soroti Sikap Redaksi
Di tengah polemik yang berkembang, alumni Pers Suara Mahasiswa UI turut menyampaikan sikap resmi terhadap unggahan yang sempat viral tersebut.

Baca Juga: Tempat Wisata yang Wajib Dikunjungi Saat Liburan ke Singapura, Ada Universal Studios hingga Jewel Changi

Melalui akun media sosial @ilunisumaui, para alumni menyatakan penyesalan atas konten berjudul Menguji Sila Kemanusiaan di Bulan Kebanggaan yang dipublikasikan SUMA UI melalui Instagram dan X.

Menurut alumni, sejak berdiri pada 1992, SUMA UI dikenal sebagai organisasi pers mahasiswa yang menjunjung keberagaman, menjaga sikap moderat, serta mengedepankan prinsip nonpartisan dalam menjalankan kerja jurnalistik.

Karena itu, mereka menilai unggahan tersebut tidak sejalan dengan semangat organisasi yang selama ini dibangun.

Baca Juga: Tutup MagangHub Batch III, Menaker Ajak Peserta Ikuti Sertifikasi Kompetensi untuk Perkuat Daya Saing

"Alumni SUMA UI dengan ini menyatakan keberatan dan menyesalkan unggahan tersebut yang dinilai tidak sesuai dengan semangat organisasi pers mahasiswa untuk tidak condong pada salah satu golongan tertentu," tegas alumni.

Selain isi unggahan, alumni juga menyoroti sikap pengurus redaksi yang dinilai kurang membuka ruang diskusi dan menerima masukan terkait konten yang memicu kontroversi tersebut.

Mereka menilai polemik yang muncul telah menimbulkan keresahan di kalangan sivitas akademika, alumni, hingga masyarakat luas.

Baca Juga: Tutup MagangHub Batch III, Menaker Ajak Peserta Ikuti Sertifikasi Kompetensi untuk Perkuat Daya Saing

Bahkan, kondisi tersebut dinilai berpotensi berdampak negatif terhadap gerakan mahasiswa UI secara keseluruhan.

Meski demikian, alumni tetap menegaskan dukungan terhadap kebebasan berpendapat selama dijalankan secara bertanggung jawab dan mempertimbangkan etika serta nilai moral yang berkembang di masyarakat.

"Alumni SUMA UI akan terus membuka upaya dialog dengan pengurus Redaksi SUMA UI. Semoga kejadian ini tidak terulang lagi," tutup pernyataan tersebut.

Unggahan Sudah Dihapus, Polemik Masih Berlanjut
Sebelumnya, unggahan SUMA UI berjudul Menguji Sila Kemanusiaan di Bulan Kebanggaan ramai menjadi perbincangan di media sosial.

Baca Juga: SPMB Depok 2026 Dibuka, Ada 22 PAUD dan RA Gratis yang Bisa Dipilih Orang Tua, Cek Daftarnya

Konten itu menampilkan ilustrasi siluet Garuda Pancasila dengan latar bendera pelangi serta memuat narasi mengenai Pride Month dan isu diskriminasi terhadap komunitas LGBTIQ+.

Setelah menuai beragam respons dari publik, unggahan tersebut kemudian dihapus dari akun Instagram maupun X milik SUMA UI.

Hingga kini, perhatian publik masih tertuju pada hasil evaluasi internal yang sedang dilakukan pihak kampus.

Di tengah perdebatan yang muncul, kasus ini kembali menjadi sorotan mengenai batas antara kebebasan berekspresi, independensi pers mahasiswa, tanggung jawab sosial, serta nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat Indonesia. ***