POJOKSATU.id - Upaya pemulihan lahan bekas tambang di Indonesia menunjukkan perkembangan positif.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi reklamasi hingga pertengahan 2025 telah mencapai 5.739,39 hektare atau sekitar 80,43 persen dari target tahunan sebesar 7.135 hektare.

Capaian ini melanjutkan tren peningkatan kepatuhan perusahaan tambang sejak 2021 hingga 2024.

Baca Juga: Warning, WFH Tiap Jumat Bukan Libur Tambahan, Menkomdigi Tegaskan Layanan Publik Tak Boleh Terganggu

Menariknya, reklamasi kini tidak hanya dilakukan di lubang bekas tambang, tetapi juga pada area pendukung seperti tempat penimbunan tanah penutup, jalan tambang, hingga fasilitas operasional lainnya.

Ketika Tanah Kehilangan Daya Hidup
Namun di balik angka capaian tersebut, realitas di lapangan tidak selalu mudah.

Banyak lahan bekas tambang yang mengalami kerusakan berat, bahkan kehilangan kemampuan alaminya untuk menopang kehidupan.

Baca Juga: Disketapang Kota Bekasi Awasi Penyaluran 2.581 Bansos Untuk Warga Kayuringin Jaya

Dalam kondisi seperti ini, pemulihan tanah bukan sekadar proses teknis, tetapi juga bagian dari upaya “penyembuhan” lingkungan yang membutuhkan pendekatan ilmiah sekaligus keterlibatan manusia secara aktif.

Salah satu kisah nyata datang dari dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Agus Affianto, yang akrab disapa Picoez.

Tantangan Ekstrem di Lahan Tailing Belitung
Picoez bersama tim pernah mengembangkan model rehabilitasi lahan tailing bekas tambang timah di Desa Manggar, Kabupaten Belitung Timur.

Baca Juga: Deretan Kontroversi Menpar Widiyanti! Dimarahi DPR, Dinilai 50, hingga Viral Bingung Jelaskan Anggaran

Lokasi ini dikenal ekstrem, bahkan rumput saja disebut membutuhkan waktu hingga 20 tahun untuk tumbuh secara alami.

Tantangan utamanya tidak main-main. Suhu pasir di lokasi bisa mencapai 62,4 derajat Celsius pada pagi hari. Selain itu, karakteristik pasir yang tidak mampu menyerap air membuat tanah menjadi sangat asam saat hujan turun.

Kondisi ini menjadikan penanaman langsung hampir mustahil dilakukan tanpa pendekatan khusus.

Metode Kompos Blok Jadi Kunci
Setelah melalui berbagai diskusi, Picoez dan tim mengembangkan metode kompos blok sebagai solusi awal.

Baca Juga: Pemerintah Melalui Kemendikdasmen Menjemput 2,9 Juta Anak Kembali ke Sekolah

Kompos dipadatkan dan digunakan sebagai media tanam untuk meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air dan unsur hara.

Uji coba dilakukan di lahan sekitar 10 hektare melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah.

Sejumlah tanaman seperti buah naga, kelengkeng, cemara, dan jambu mulai ditanam untuk membangun fondasi ekosistem baru.

Empat Tahap Rehabilitasi yang Bertahap
Picoez menegaskan, rehabilitasi lahan ekstrem tidak bisa dilakukan dengan cara biasa. Ia merumuskan empat tahapan utama:

Baca Juga: Viral di DPR! Widiyanti Tampak Bingung Jelaskan Anggaran, Netizen Ikut Geram

- Menanam asal hidup, memastikan tanaman bisa bertahan terlebih dahulu

- Menjaga keberlangsungan hidup melalui monitoring intensif

- Meningkatkan kualitas tanaman dengan pemupukan

- Menghasilkan manfaat nyata, seperti panen buah

Baca Juga: Kenapa Banyak Guru Gagal Cairkan Tunjangan Meski Berhak, Ini Kesalahan Data Dapodik yang Sering Terjadi dan Cara Menghindarinya Sebelum Tanggal 15

“Kita tidak bisa menghadapi keadaan ekstrem dengan pendekatan yang biasa-biasa saja dan dalam waktu yang singkat,” ujarnya.

Peran Masyarakat Jadi Penentu
Selain faktor teknis, keberhasilan rehabilitasi juga sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat.

Picoez menyoroti bahwa aspek sosial sering kali justru terabaikan dalam banyak program.

Menurutnya, kondisi pra-rehabilitasi, terutama kehidupan masyarakat sekitar, harus menjadi perhatian utama.

Baca Juga: Wanita Korban Perampokan Ditemukan di Bekasi, Kondisi Leher Mengenaskan

Program tidak hanya soal teknik, tetapi juga harus memberi manfaat nyata.

Di lokasi tersebut, partisipasi awal justru datang dari kelompok lansia. Salah satunya adalah Nek Inah, yang tetap menanam semangka meski hasil panennya sempat dicuri menjelang Lebaran.

Semangat itu menjadi pengingat bahwa di tengah keterbatasan, harapan tetap tumbuh.

Baca Juga: Guru Tanpa Sertifikasi Tetap Dapat Tunjangan, Ini Penjelasan Lengkap Tamsil dan Cara Memanfaatkannya untuk Meningkatkan Kesejahteraan

Pemulihan Alam Butuh Waktu, Tapi Pasti
Secara alami, kawasan bekas tambang sebenarnya bisa pulih menjadi hutan kembali. Namun tanpa intervensi manusia, proses itu bisa memakan waktu puluhan tahun.

Karena itu, pendekatan yang dilakukan Picoez dan tim bertujuan mempercepat proses tersebut dengan bantuan yang terencana dan berkelanjutan.

Hasilnya mulai terlihat. Lahan yang dulu ekstrem kini perlahan menunjukkan produktivitas dan memberi manfaat bagi ekosistem serta masyarakat.

Baca Juga: Alasan Diberlakukan WFH bagi ASN di Lingkungan Kemendikdasmen

Model rehabilitasi ini bahkan telah diadaptasi di beberapa wilayah lain dengan kondisi serupa, termasuk oleh penerima penghargaan lingkungan seperti Kalpataru.

Meski begitu, tantangan tetap ada, terutama dalam mengubah pola pikir masyarakat yang selama ini bergantung pada sektor tambang. ***